Ternyata bangun pagi (hanya) dua hari berturut-turut, lalu di hari ketiga kembali bangun (ke)siang(an) lagi, sama saja dengan bohong. Toh si Fajarnya seolah diberi harapan palsu.

Sering berbicara tentang fajar, tentang embun pagi, 
tentang mentari. Tentang jingga yang menghangat.
Seperti mengenalnya, padahal hanya sesekali. 
Menyapanya pun enggan, padahal tiada bosan fajar meminta 
pada sang pemilik subuh untuk mengantar pagi dan 
menghangatkan bumi.
Ialah fajar dan aksesorisnya yang indah, 
dari yang Maha Indah. Tak layak membicarakannya jika kita terjaga
kala fajar telah kecewa. 
Kita mengecewakannya. -  dalam artikel 
Karena indahnya fajar hanya untuk yang mengawalinya.

Yups, dan hari ini saya tidak hanya mengecewakan fajar, tetapi juga mencabik-cabik hatinya dengan lebih memilih kembali tidur setelah mendengar azan subuh, dengan alasan: tidak ada ‘sesuatu’ yang perlu kukerjakan pagi ini. Padahal bangun pagi bukan hanya untuk beribadah. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan. Paling tidak memberi penghargaan kepada sang fajar dengan menyambut kedatangannya beriring senyum dan semangat. Membentangkan tangan, dan memeluknya erat.

Seharusnya itu yang saya lakukan, 
jika memang saya lebih mencintai fajar daripada petang.

 

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s