Kumpulan hal-hal yang saya pikirkan seharian ini. Setiap terpikir, yang diucapkan hati saya hanya: “Dijadiin bahan blog bagus nih!“. Ya, harap maklum saja yah… saya lagi keranjingan ngeblog. Jadi apa-apa enaknya dijadikan bahan blog. Hehee 🙂

**

Saya masih berpikir tentang fajar. Tentang indah senyumnya yang melihat saya menyambut kedatangannya di beranda kamar kost (sayangnya pintu kamar kost saya malah membelakangi arah munculnya sang fajar, jadi saya harus berdiri di depan tangga, di sebalah pintu kamar). Hmm… tapi seharusnya saya tidak hanya memikirkannya. Harus ada tindakan nyata! Bukti bahwa saya memang mencintai fajar sepenuh hati: selalu bangun pagi sebelum fajar datang dan memeluknya hangat walau mendung wajah langit sembunyikan cerianya, seperti pagi tadi.

**

Kalian tahu? Tiga hari lagi purnama keempat looh! 😀 Saya senang akhirnya bisa mengamati bulan setiap hari dan menghitung kedatangan purnama. Sebelumnya, saya hanya sadar ada purnama ketika teman, kakak, atau mama yang memberi tahu, “Dek! Lihat, deh, bulannya bulat dan besar!”. Lalu, kali pertama saya sadar sendiri bahwa hari itu bulan purnama, ketika purnama pertama di tahun ini, 15 Muharram 1434 H lalu. Dan sekarang saya malah menyadari akan purnama tiga hari sebelumnya. Mungkin karena belakangan ini saya selalu pulang malam dengan berjalan kaki. Berjalan kaki selalu memberi kita lebih banyak waktu untuk menatap “piring bekas telur dadar”, yang meski sudah kosong, tetap terlihat indah!

**

Bukan! Hari ini bukan hari terberat. Meski seharian penuh berada diluar kamar. Bermain dengan asap polusi kota Jakarta-Depok, berpayung langit mendung dan diiringi rerintik hujan. Tapi hari ini bukan hari terberat yang pernah saya jalani. Karena disetiap langkah kaki saya diiringi doa dan semangat. Kalian tahu? segala sesuatu yang kita lakukan dengan semangat selalu terasa lebih ringan. Percayalah! 🙂

**

Kita semua tahu, alat komunikasi jaman kini sangat canggih. Memudahkan kita mendapatkan informasi apa saja, ‘gratis’ berkomunikasi dengan siapa saja, dan bisa rasanya yang jauh terasa begitu dekat (‘bahkan sebaliknya’). Memang. Sudah tugasnya begitu, mendekatkan yang jauh. Tetapi ‘jarak‘ tetaplah jarak. Sedekat apapun ‘rasa’nya, tetap terbesit rindu untuknya.

**

Petang! Petang ingin sekali disebut tampaknya. Haha. Biarlah, meskipun aku mencintai fajar, petang tetap indah dengan caranya sendiri. Tapi pernahkah kalian membandingkan keindahan keduanya? Bukan untuk membuat salah satunya menjadi sakit hati, atau untuk mencari-cari kekurangan yang lain. Tapi, cobalah lihat. Mereka tidak banyak perbedaan. Mereka juga rupanya saling mendukung satu sama lain. Sama-sama berlatar belakang keindahan alam, berona merah jingga, dihiasi beburung yang berlalu lalang: dikala fajar – berhamburan mencari makan, sedang petang – bergerombol pulang ke dahan. Dan selalu ada ‘rasa’ dibaliknya. Rasa yang berbeda untuk keduanya. Ketika fajar menghampiri, mungkin harapanlah yang meloncat memberi semangat. Namun ketika petang memanggil, semangatlah yang mendatangkan harapan. Ya, harapan untuk bertemu fajar kembali, esok hari. 🙂 🙂

**

catatan: 

Tahu fajar kan? Yaitu cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur menjelang matahari terbit. Pengertian lainnya, cek di sini

Kalau petang? Itu adalah waktu. Waktu sesudah tengah hari, menjelang atau waktu sore. Lengkapnya di sini

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s