Wah! Salah kasih judul tuh! Harusnya “Surat Untuk Fajar” nggak pake ‘cinta’nya. Tapi biarlah ya… biar kesannya eyecatching gitu :p

Jadi sebenarnya ada cerita di balik penulisan puisi ini. Awalnya, puisi ini hanya ter’tulis’ di kepala karena saya malas sekali mengambil kertas atau buku dan pulpen untuk menuangkannya. Mengabadikan momen ini pun juga terkendala beberapa hal yang akhirnya berujung ‘malas’ lagi #plak hahahaa. Yah, yang penting mah ingatan akan indahnya merah jingga dan sentuhan hangat pertama mentari bisa terekam jelas di otak saya :’)

Puisi ini tertulis di hari ketiga acara Musyawarah Kerja (Muker) BEM FIB UI di Ciwidey, Bandung. Pagi yang sibuk untuk para BPH BEM. Pagi yang ‘melelapkan’ untuk para peserta Muker yang kelelahan seharian suntuk duduk dengerin rapat. Dan pagi yang ‘menyenangkan’ untuk saya yang mencintai dingin dan udara segar pagi (tapi paling susah bangun pagi). Ya, karena akhirnya saya bertemu FAJAR! Yeeee >_<

Hari itu saya bangun dengan kesegaran lebih dan tidak normal mengingat seharian sebelumnya saya sangat kelelahan dan mengantuk dengan amat sangat. Jam 5 subuh saya terbangun gegara suara ribut tepat di depan pintu kamar.  Saya pikir saya tertidur sudah lamaaaa sekali, ketiduran dan melewati acara selanjutnya di hari Minggu itu. Tapi ternyata, sayanya aja yang terlalu ‘parno’ -_- Suara ribut itu rupanya datang dari antrian panjang kamar mandi yang berbaris menunggu giliran masuk. Ada yang mau mandi, setoran, atau sekedar ambil wudhu’. Karena kamar mandinya ada di sebelah kamar yang saya tempati, maka suara bising itu pun terdengar jelas di telinga saya yang setengah sadar itu. Saya lalu bangun dan langsung ikutan ngantri. Tapi tetiba saya ingat kalau di samping villa ada kran air juga. Maka saya mengajak Safirah pergi ke sana dan menikmati dinginnya air PAM bersanding sepoi-sepoi angin dini hari. Superrr sekali. Tapi saya suka! 🙂

Setelah menggosok gigi dan bolak-balik mengantarkan teman-teman yang mau mengambil wudhu’ ke tempat alternatif ini, saya memutuskan untuk pergi jalan-jalan sendiri. (sok) Memberanikan diri jalan mengitari villa-villa di Ciwidey dan menunggu si Fajar datang. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil dan berhenti beberapa kali menatap ke ufuk timur, berharap yang dinanti muncul dan lalu berlari, memelukku erat. Hahaa

Daaan… TARAAA!!!

Si Fajar sudah terlihat di ujung jalan sana. Berjalan mula-mula pelan lalu perlahan cepat. Seolah ingin mengejar saya dan segera memeluk hangat. Oh, tidak… merah jingganya yang nyata dipadu langit biru yang masih kelam dan pancaran putih bercahaya di sekelilingnya benar-benar membuat siapa saja yang menatapnya berdecak kagum. Ditambah lagi suasana hijau dan lalu lalang beburung yang (sama seperti saya) bahagia bertemu Fajar.

Ya!

Akhirnya melihat Fajar dengan merah jingganya nan mempesona, muncul di antara langit kelam. Akhirnya! Saya tahu bagaimana nikmatnya menikmati Fajar dengan cara yang (sejak dulu) saya inginkan: Jalan-jalan pagi sendirian, lalu menyambut kedatangannya, menatap wajah barunya di pagi hari yang dingin ini. Menyapanya dengan peluk hangat, dan kecupan. 

Akhirnya, yah…

Saya bertemu denganmu, Fajar! 🙂

Eits, tunggu dulu! Ceritanya belum berakhir. Jadi, ketika momen ini berlangsung imajinasi saya hilang, lenyap, musnah seketika karena pesona indah lukisan Yang Kuasa. Yang terlontar hanya: “Wow”, “Subhanallah”, “Keren!”, dan helaan napas bahagia. Ya, kepala saya blank. Kosong dan nyaris terpaku di tempat saya berdiri itu dan lupa arah jalan pulan #plak lebay -_-

Saya akhirnya mendapat inspirasi ketika duduk menyendiri (lagi) di beradan villa. Sendiri. Karena teman-teman yang lain belum bangun, ada juga yang masih ngatri, dan BPH BEM masih sibuk dengan urusan mereka. Saya yang nganggur ini memilih untuk menyendiri dan menikmati kehangatan pertama hari itu sendiri tanpa harus bengong-bengong nggak jelas dengerin BPH BEM rapat. Maka, tetiba inspirasi ini pun muncul. “Jeng jeng!!!” Begitulah backsoundnya. ._.

Dan puisi “Surat Cinta Untuk Fajar” ini pun diucapkan suara hati saya. Dan dengan dorongan dari dalam diri saya akhirnya saya berjalan ke kamar mengambil buku catatan dan pulpen lalu menuliskannya. Dan momen yang tak terdokumentasikan itu pun tertulis rapih di buku catatan kecil saya 🙂

photo1738

Photo1737

– Depok, 04 Maret 2013 –

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s