Bukan cuma mengabaikan fajar. Hari ini saya mengabaikan apa pun. Mau pagi, siang, petang,  malam. Saya bahkan lupa ini hari ke berapa di bulan apa. Saya juga lupa sudah makan atau belum. Sudah malamkah? Saya cuma melihat terang yang lalu disambut gelap ketika membuka mata seusai tidur siang dengan penuh kegundahgulanaan hati. Ya, pikiran saya disedot penuh oleh sesuatu. Lagi dan lagi. Mungkin dia berbakat menjadi penyedot debu.

Beberapa hari, padahal, saya begitu kagum padanya. Merah jingga yang saya temui tidak lagi ketika membuka mata, tetapi berjam-jam sebelum saya memutuskan untuk mengakhiri barang sesaat dunia. Merah jingga mentari senja. Merah jingga yang berhias beburung yang mencari jalan pulang. Merah jingga yang mempesona. Tak jauh beda dengan fajar. Karena mereka berdua, sesungguhnya, adalah sama. Hanya dibedakan oleh belahan bumi semata.

Dan saya menjadi pecintanya yang terkutuk. Setelah berhari-hari mengabaikan fajar, sekarang berpaling pada petang dengan harapan fajar masih menerima saya dan cinta yang ada. Tanpa mengurangi kagum pada petang. Yang hari ini terkalahkan oleh si penyedot debu pembersih ilalang.

– Depok, 8 Maret 2013 –

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s