Desember 2002

Apa yang kuingat?” tanyanya ketika aku bertanya ingatkah dia dengan tempat ini.

Hmm… coba kuingat-ingat lagi,” sambungnya. Dan aku menunggu dengan senyum di bibirku. Sedetikpun aku tak sanggup mengalihkan pandangan darinya. Malam ini, untukku memanjakan mata, menikmatinya sepuas yang kubisa rasakan. Hingga pagi menjelang dan dia harus pergi dan ntah kapan kan kembali.

Sepertinya aku ingat…” ujarnya membuyarkan lamunanku yang hampir meninggalkan kami berdua di sini. Duduk di tepi jalan, menikmati angin malam berhembus pelan-pelan.

“Tempat ini tempat pertama kali kita bertemu, bukan? Nah, di sana. Di bangku itu. Aku ingat waktu itu aku duduk sendirian menunggu hujan reda. Bulan Juli. Iya, aneh ya. Padahal hari ini panasnya bukan main. Jam 6 pagi saja matahari sudah bersinar terik, menyengat. Tapi siangnya malah hujan deras. Mendadak seperti akan badai besar saja. Iya, waktu itu kau juga berteduh, ‘kan? Duduk di sampingku menunggu hujan reda juga. Kita belum saling mengenal satu sama lain. Tapi aku menyadari bahwa kau sering melihat ke arahku waktu itu. Mencuri-curi pandang. Serius! Bukannya aku GR tapi memang kau melihat ke arahku melulu, iya ‘kan? Tapi sayangnya kau hanya melihatku. Tidak berkata apa-apa. Langsung pergi ketika hujan reda. Sedangkan aku masih harus menunggu. Tapi ntah apa yang kutunggu sampai akhirnya hujan turun lagi. Tidak terlalu lebat tapi cukup untuk membuatku basah kuyup ketika sampai di rumah.

Dan kau menjadi bunga tidurku malam itu. Padahal aku tidak mengenalmu. Kau memang keterlaluan, sejak awal sudah berani mengusik hidupku. Iya! Memang kau tidak tahu sopan santun. Seperti beberapa hari setelah itu. Ketika aku terduduk lemah di bangku yang sama ketika kau datang. Aku baru saja berkelahi dengan pacarku, bukan, mantan pacarku. Karena dia baru saja memutuskan hubungan kami dan meninggalkanku sendirian di sana. Sungguh bukan lelaki yang bertanggung jawab! Aku benci padanya. Dan aku menangis. Tidak ada orang di sana. Hanya kita berdua dan kau langsung panik. Dan bertanya ada apa denganku. Tapi aku hanya bisa menangis. Menangis dan terus menangis. Dan kau masih menunggu. Menunggu apa aku sendiri tidak tahu. Karena ku pikir tidak mungkin menunggu orang asing ini berhenti menangis kan? 

Esoknya kita bertemu lagi. Mataku masih bengkak, sisa tangis tadi malam. Iya, seharian, semalaman! Aku menangis tiada henti. Mengurung diri di kamar, menolak untuk makan dan juga bercerita kepada ibu. Aku menangis sejadi-jadinya. Tentunya tanpa suara biar ibu berpikir bahwa aku sudah tidur. Kau tersenyum, dan aku seketika tersipu malu. ‘Sudah selesai nangisnya?’ tanyamu. Lancang sekali, pikirku. Tapi ntah mengapa aku senang. Dan mulai hari itu kita sering bertemu kan? Ketika pergi dan pulang kerja. Saling menunggu. Terkadang kau yang menungguku, esoknya bisa jadi aku yang menunggumu. Bercerita panjang lebar tak kenal waktu, sampai akhirnya larut malam dan kau mengantarku pulang. Kita tidak pernah pergi malam mingguan, atau sekedar pergi makan. Kita hanya duduk di sini dan bercerita. Iya, kita tidak perlu pergi makan karena makanan yang mendatangi kita. Kau ingat, ‘kan? Tukang bakso yang selalu datang menjelang larut malam di halte itu? Iya. Hampir setiap hari kita menyantap jajanannya. Kalau sudah bosan, kita memesan ketoprak yang berjualan di sebelah si abang bakso. Atau sekedar makan es doger. Atau pempek. Lucu ya.

Sampai akhirnya aku harus pindah. Aku dimutasi ke Makassar. Dan hari-hari terakhir kita benar-benar menyesakkan dada. Aku takut kita takkan pernah bisa bertemu lagi. Ntah kau yang enggan menegurku kelak, atau aku yang pura-pura tak mengenalmu. Dan kau menjadi mimpi burukku di malam terakhir kumenginjakkan kaki di Jakarta. Ah, kau ini! Selalu meninggalkan jejak sejak awal kita bertemu.”

Lalu dia diam. Mengakhiri ceritanya dengan senyum yang merekah. Ia menatap ke jalan raya, sepertinya masih terus mengingat-ingat. Mengingat semua kenangan yang baru saja diceritakannya, mungkin? Aku tidak mengerti. Hanya saja, kau perlu tahu, aku sendiri berusaha mengingat adakah kenangan seperti itu di antara kami? Atau itu serpihan kenangan lain dari masa lalunya yang tak sempat ku sentuh?

**

Desember 2012

Apa yang kuingat?” tanyaku ketika gadis itu bertanya ingatkah aku dengan tempat ini.

Waktu itu kau bercerita panjang lebar tentang sebuah ingatan masa lalu. Dan aku tidak tahu siapa pemilik ingatan itu, yang masih memilikimu hingga saat ini.

Dan gadis itu terdiam. Berusaha mengingat adakah kenangan seperti itu di antara kami. Ntahlah.

– Depok, 14  Maret 2013 –

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s