Semuanya minta dipanggil. Atau saya yang ingin dipanggil? Saya melihat mereka lalu lalang dalam pikiran saya. Ada yang tersenyum, tertawa, marah, bingung, bahkan menangis. Mengajak saya merasakan segala halnya itu dalam waktu yang bersamaan. Acakadut saya menyebutnya. Perasaan yang kacau meracau. Sampai sikronisasi otak saya pun terganggu.

Bukan cuma manusia kok. Bukan cuma teman-teman saya yang dulu sangat akrab sekarang menghilang ntah kemana. Bukan cuma teman-teman yang sekedar saya kenal, tidak akrab tapi meninggalkan jejak yang mendalam diingatan saya. Bukan cuma kenangan bersama kakak dan abang-abang saya sewaktu kami masih kecil, sewaktu diantara kami belum ada ‘orang ketiga’, belum ada yang ‘merebut’ perhatian kami dari yang lainnya. Ketika hanya ada power rangers saja. Bukan cuma rasa rindu pada mama dan papa, serta ibuk yang sudah tiada, dan oma-opa yang sekarang ntah bagaimana kabarnya. Semoga saja mereka di sana baik-baik saja.

Iya, bukan cuma mereka. Boneka-boneka saya pun minta perhatian, kamar kost, kamar di rumah nan jauh di sana, tugas kampus, kepanitiaan, cucian, ponsel, meja belajar, kasur, lemari pakaian. Semuanya. Segala tetek bengek yang menjadi permasalahan yang sebenarnya bisa menjadi ‘bukan masalah’. Ah, maafkan saya. Ketidaksingkronan otak saya sekarang melarang penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Saya sendiri saja tidak paham.

Ada hal lain yang minta dipanggil. Ah, saya yang ingin dipanggil olehnya sebenarnya. Saya yang ingin menghampirinya, menjemputnya, membawanya ke dalam dekapan saya. Tapi, apa?

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s