Ada yang bilang manusia itu ada jika dia berpikir. Tapi kalo keseringan mikir, nggak berat apa ya kepalanya? Kalo saya sih pasti pusing, trus stres sendiri, akhirnya menghabiskan waktu tidur seharian. Tapi, kalo nggak mikir kita juga nggak bisa tahu apa-apa tentang….nggak usah jauh-jauh deh, dunia kita sendiri aja. Kalo nggak dipikirin, kita bisa nggak ngenal dunia sendiri. Tapi saya rada bingung, kenapa manusia yang sudah menginjak fase remaja ke atas selalu memikirkan apa saja. ‘Membuat masalah’ yang akhirnya malah membuat dia sendiri pusing. Saya jadi penasaran apakah bayi-bayi, anak-anak kecil yang selalu bisa melewati hari dengan tawa riang gembira itu juga mencari ‘masalah’ di otaknya untuk, katanya, dipecahkan? Sebenarnya, gunanya membuat-masalah-yang-pada-dasarnya-nggak-ada itu apa sih? Selain membuat pusing kepala sendiri. Tapi kalo nggak gitu, nggak hidup ya? Ntahlah.

Tapi saya bersyukur melewati beberapa hari yang nggak terlalu berat tapi penuh rintangan dan kegundah gulanaan. Saya akui ini yang pertama kalinya. (Perlu di bold, italic dan underline?) Ya. Ini yang pertama kalinya bagi saya terjun langsung ke sebuah kegiatan yang biasanya selalu saya kritik ini dan itunya. Dan saya sekarang malu sendiri karena si tukang kritik ini sendiri pun tidak tahu dan tidak bisa apa-apa! ._. Dan itu membuat saya…..ya begitulah!

Pesan teman saya, “Silakan bergundah gulana, tapi jangan sampai ada yang tahu. Cukup kamu dan orang-orang terdekatmu yang tidak ada dalam kegiatan itu. Jaim dikit dong!” Kenapa? Tanya saya yang ntah memang nggak ngerti atau sok lugu (saya sendiri nggak yakin -_-). Dan dia menjabarkan panjang lebar sedangkan saya angguk-angguk tanda sedang mencerna apa yang dia utarakan. Hingga hari ini, kata-katanya itu masih terngiang, dan sepertinya PR jangka panjang yang harus segera saya tuntaskan. Susah, Fir! But I’ll keep fighting \>o</

Ada lagi seorang teman berkomentar saat saya curhat dengannya, “Nggak lo sendiri, Taw! Nggak usah merasa sendirian, deh!” #jleb. Saya mencerna kata-kata yang sudah berulang kali ia utarakan ini dari berbagai sisi. Setiap kali ia ucapkan, selalu dari sisi yang berbeda. Pernah saya berpikir, so sweet… ternyata gw nggak sendirian, ada banyak teman yang ndukung gw :’). Tapi pernah juga saya mengartikannya, nggak cuma saya sendiri yang pernah repot, tapi orang lain juga pernah, bahkan lebih repot dari saya sekarang. Kalo kata Doraemon ke Nobita, “Jangan ngerasa yang paling menderita di dunia, deh!”
Iya juga sih ._. Dan sekali lagi saya terdiam. Oke, Yass. Gw camkan kok kata-kata lo di hati gw. Sering-sering ingatin ya…

Trus kemarin, hasil ng-KEPO-in akun teman, saya langsung nge #jleb sendiri. Jangan dibikin pusing.” Maunya sih nggak dibikin pusing, tapi….. Ada masalah di otak saya sepertinya yang selalunya menjadikan apa saja menjadi hal yang paling memusingkan. Dan kembali ke nasihat pertama dan kedua, ini adalah PR (seumur hidup, sepertinya) bagi saya. Mengalahkan sisi pemusingan yang biasanya menang dan berhasil membuat saya meninggalkan semuanya, kembali ke zona aman dan nyaman lalu berleha-leha….nganggur lagi~ Well, you! Sering-sering gw kepoin bagus kayanya, semoga ada banyak kata-kata sederhana yang bisa membuka pikiran gw. Hahaa

Kata ‘pasangan’ saya, Bu Sekum, “Amanah itu diberikan bukan sebagai beban, tetapi merupakan penghormatan untuk kita.” Saya pernah baca juga kata-kata ini, tapi saya abaikan. Cuma angguk-angguk terus senyum. Eh, taunya, tepat di depan mata saya dia berkata demikian. Aseli! Bikin saya mau nangis. Oh, God. Why? Saya merasa semakin bodoh dan memalukan. Tahu apa sih saya ini? Udah ngapain aja selama bertahun-tahun hidup di dunia ini sampai hal seperti ini harus diingatin sama orang yang jauh lebih muda dari saya? Ternyata memang, tua belum tentu dewasa (#nyess….) Iya, Nan, iya.. Mari kita berjuang bersama :’)

Dan Bruno Mars nggak berhenti-hentinya mengingatkan saya. Ada dua orang. Hmm.., bukan! BANYAK! Ada banyak orang yang mengajari saya hal yang selalu Bruno Mars ingatkan. Saya masih ingat. Dulu mereka sering berkata seperti itu ketika saya menangis karena mengerjakan sesuatu nggak selesai-selesai akhirnya saya tinggalin dan nangis makin kencang. Dan kata-kata itu meluncur. Terus dan terus. Sampai kemarin, waktu saya pulang ke kampung halaman, di sela-sela curhat, beliau tetap menyampaikan kata-kata itu. Abang saya pun meninggalkan quote yang selalu menjadi senjata saya untuk menasihati teman (tapi sendirinya suka lupa. memanglah, manusia!) Yap! Never say you can’t. Karena tidak ada kata tidak bisa kecuali kita tidak mau. Asal ada niat, dan tindakan, Tuhan pasti membukakan jalan. Ya, Bruno Mars dalam lagunya, Abang bungsu saya dalam coretan di meja belajar turun temurun kami, dan Ibuk, Papa, dan Mama dalam setiap nasihat-nasihat mereka. Harus! Saya harus mengingat kata-kata itu, karena saya sendiri selalu dengan gampangnya berkata-kata seperti itu kepada teman-teman yang sudah putus asa. Maka seharusnya saya juga bisa memotivasi diri sendiri, kan?

Dan… seseorang yang bahkan saya tidak kenal siapa, cuma ketemu di sebuah ‘sekolah singkat’ hari ini. Mungkin memang sudah menjadi tujuannya berdiri di sana untuk memberi kami motivasi, tapi, sungguh. Harusnya saya menyadari itu sebelum dia mengatakannya dan mengingatkan saya akan hal itu. It’s a beautiful day. But, can I see it? Hanya ketika saya memberanikan diri untuk membuka mata dan melihat, bahwa hari ini, setiap hari, adalah hari yang indah. Selalu.

– Depok, 25 Maret 2013 –

Terimakasih

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s