Saya memang cerewet ya. Malam ini sudah kelewatan sekali cerewetnya. Padahal saya sadar kalau teman yang diajak bicara, matanya sudah 3 watt, tapi saya tetap cerita panjang lebar. Ntah dia masih mendengarkan, ntah tidak. Tapi tetap saja, saya cerita apa saja yang sudah tidak ada kaitannya dengan cerita sebelumnya.

Tadi lihat bulan tidak? Malam ini ‘masih’ purnama. Bulan masih bulat dan bersinar sangat terang meski malu-malu. Indah sekali. Ah! Kalau ada kata yang lebih indah dari ‘indah’, mungkin itu yang saya pakai untuk menggambarkan keindahan bulan malam ini.Meski awan berusaha menutup keindahannya, menikmati keindahannya sendiri, tetap saja si Bulan muncul di balik sisa-sisa awan yang menipis dihembus angin. Kesannya malu-malu kucing karena saya melihatnya terus (mungkin).

Keinginan untuk makan Nasi Goreng Kambing “Kebon Sirih” pun juga terpenuhi malam ini. Lebih dari  dua bulan selalu terbayang nikmatnya nasi goreng yang sebenarnya biasa-biasa saja, tapi… ah! Enak pokoknya! Nasi goreng favorite saya setelah buatan mama adalah yang satu ini. Yummy! Diperkenalkan oleh seorang sahabat saya ketika kami pulang dari menonton live concert Sa’Unine tahun 2011 lalu di Gedung Kesenia Jakarta. Dan seketika, meskipun harganya selangit, tapi kalau  seenak itu saya rela. Sesuai selera! Sayangnya, kurang banyak sih. ._.

Tapi sayang, dari kemarin selalu gagal bertemu fajar maupun senja. Pagi kesiangan, sorenya malah kemalaman. Ruang ternyata menyempitkan pandangan. Ah, tidak perlu terlalu serius! Ini hanya pikiran dari seorang saya yang sedang mengantuk tapi tetap bersikeras untuk tidak tidur. Intinya, saya merindukan fajar lebih dari apa pun, dan ingin menikmati merah jingga senja tanpa gangguan apa pun, meski saya juga mencintai hujan. Oh, ya. Baiklah, saya terlalu maruk ternyata.

Oya, ada #challenge yang berlum terpenuhi nih. Semoga saja besok atau lusa saya bisa menjawab tantangan itu. Berhasil: terlaksana, atau gagal: terlaksana tapi hasilnya tidak memuaskan atau tidak terlaksana sama sekali. Semoga. Dan berusahalah!

Belakangan juga saya lebih banyak diam meskipun tetap cerewet. Bingung? Saya juga. Mungkin yang lebih tepat adalah “terdiam karena kecerewetan saya sendiri”. Intinya, saya lebih banyak bungkam setelah ‘mencereweti’ berbagai hal seharian penuh. Kecapean mungkin.

Dan……………….

……..

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s