Dia melihat siapapun yang berlalu lalang dengan cermat. Gerak-gerik mereka ia ikuti dengan penuh khidmat. Padahal dari matanya seperti ia tak sedang memikirkan apa-apa, hanya raut mukanya kusut. Kusam. Keruh.

Malam semakin larut dan dia berdiri di tepi jalan itu. Di belakangnya berderet bangku kosong tapi ia menolak untuk duduk. Dia tidak juga terlihat sedang menunggu seseorang atau sesuatu. Dia hanya berdiri dengan raut muka kusutnya, memperhatikan dengan amatteliti setiap gerak-gerik orang yang lalu lalang, dan mengabaikan semua angkutan umum jurusan manapun. Sedang apa dia sebenarnya?

Aku terpaku melihat tingkahnya. Janggal? Tidak juga, hanya dibandingkan yang lain dia yang terlalu rusuh. Melihat ke sana- ke mari, memperhatikan seorang dan lalu yang lainnya, dan menolak untuk duduk. Dua jam sudah berlalu.

Jangan tanyakan aku sedang apa. Aku di sini menunggu bocah tengil yang katanya ingin menjemputku dari dua jam yang lalu. Sudah berulang kali kubilang aku pulang sendiri saja tapi dia tetap ngotot ingin menjemputku. Sekarang? Dua jam sudah berlalu dan dia belum juga muncul. Angkutan umum jurusan Lebak Bulus sudah habis sudah dan aku terpaksa duduk manis dengan penuh kecemasan di dalam dadaku, sambil terus mengutuk bocak sok jadi pahlawan itu. Argh! Aku hampir sama anehnya dengan gadis si depanku ini. Berdiam diri di sini, menghabiskan dua jam waktu dengan sia-sia. Andai tadi pagi aku tidak meninggalkan buku bacaan yang belum selesai ku baca, Anna Karenina karya Leo Tolstoy itu.

Sekarang, dia masih berada di posisi yang sejak tadi ia tempati. Telpon genggamku berdering. Fakhri. Akhirnya dia menelpon juga.

“Dimana?”

“Sudah dekat, kok. Lagi di lampu merah. Jangan kemana-mana ya!”

“Iyaaa.. cepetaaan!

Telpon terputus dan aku melihat ke gadis yang tadi.

“Lagi nunggu jemputan ya?”

“Iya.”

“Hati-hati di jalan, ya…”

Aku tersenyum dan mengangguk. Lalu menatap ke layar telpon genggam. Lama!

“Shina!”

Fakhri datang dan aku langsung menuju padanya. Aku sangat ingin memarahinya karena membuang-buang waktuku dua jam lamanya. Tapi seketika perhatianku teralihkan kepada gadis yang tadi.

Dia berjalan pergi, sambil sekali lagi tersenyum padaku, dan lalu melambai,

“Siapa?”

Bukannya jawaban, aku malah menatap Fakhri dengan tanda tanya.

“Ntah,” jawabku sembari melihat ke arah gadis itu lagi. 

Loh? Hilang??

– Depok, 1 April 2013 –

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s