Akun itu memang memberi banyak inspirasi. Iya, akun Kak Tomat itu. Hehe. Salah satu inspirasi yang saya dapatkan  adalah menulis cerita dari kumpulan 10 kata yang didapat dari teman. Random. Saya pun mengajak teman saya, Pepe, untuk mencoba cara ini untuk melatih kemampuan menulis kami. Selasa, 2 April 2013, rencana itu terlaksana. Di dalam kelas, untuk mencegah kantuk karena pelajaran yang ‘cukup’ membosankan. Hehee ^^v

Dan ini hasil imajinasi dari 10 kata randomnya. Selamat membaca 🙂

 

**

1

Nayla tidak jadi datang hari ini. Sebab, katanya ada badai.

Angin berhembus kencang sekali. Tahu badai ‘kan? Rasanya tidak perlu kujelaskan lagi. Yang kulihat, dan Nayla juga, mereka memporakporandakan apa saja yang ada di dekatnya. Cari mati namanya kalau berani datang mendekat. Bukan lagi hancur, kau bisa lenyap.

Makanya, Nayla menolak untuk datang. Toh di sini, nyatanya, kita tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk, makan, dan bercerita-cerita hambar. Apa kata Nayla nanti kalau dia tetap nekat datang?

“Aku sudah menempuh badai untuk datang ke sini. Tapi ternyata hanya begini saja? Terlalu!”

Seolah usahanya sia-sia saja.

Tapi apa benar hanya ‘seolah sia-sia’? Kalau saja aku datang ke rumahnya, menjemputnya, lalu melalui badai itu bersama. Apakah usaha’nya’ tetap sia-sia?

Yang kurasa hanya senang. Harusnya dia ada di sini namun tidak. Karena katanya ada badai. Untunglah, kalau tidak dia pasti sudah marah-marah. Kerjaan sia-sia saja ini semua!

– Ade Surya Tawalapi –

2

“Aku ingin memakan tulang Samurai agar anakku memiliki harga diri,” ujar Ibuku sambil membuat keranjang dari rotan. Bersamanya kuhabiskan waktu di bawah pohon beringin. Aku sibuk mencari tipe-x untuk mencoret pohon – hobi baruku yang dibenci Ibu.

“Kalau memakan tulang manusia bukankah itu sadis?” tanyaku lagi. Pandangan ibu menggelap, aku mengalihkan mata darinya ke sepatuku.

“Sadis itu memakan sesajen yang dilempar ke kawah gunung.”

“Seperti apa bentukya?” tanyaku lagi

“Seperti cinta yang dicampakkan ke lantai.”

Kami sama-sama terdiam, menikmati angin semilir.

“Bu, ayah janji membawa laptop untukku ketika pulang. Tahukah apa itu laptop, Ibu?”

Ia terdiam, kemudian menggeleng. “Lebih baik ia membawa tulang samurai. Akan kumasak untuk kita bertiga.”

– Perdana Putri –

3

Ciwidey menyerahkan senjanya dengan suka cita. Pada pencuri bertubuh kecil itu, ia membiarkan langit terjajah mata yang hanya tinggal satu. Ah, sayang sekali hanya di sini saja indahnya. Pergi dari sini, kita takkan disuguhkan senja dengan merah jingganya lagi. Seperti ada palang besar yang menghambat semburat merah yang mempesona itu. Di luar sini, hanya menjadi mimpi saja: tidak ada fajar, tidak pula ada senja. Jadi? Gelap atau terang? Dengan tanda salib aku mencoba berdoa. Berharap begitu banyak agar pintu ini terbuka. Pintu yang mengurung terang benderang, menguncinya dari gelap gulita malam.

“Bu, kuncinya mana?” tanyaku setelah solat magrib.

– Ade Surya Tawalapi –

4

Pak Oji membisu. Gadis itu hanya menatapnya. Pandangan gadis itu dalam sekali laksana jurang, matanya begitu gelap –meninggalkan Pak Oji terdiam bingung.

“Aku ingin melihat salju,” ujar si gadis setelah mengunyah bak pau. Pandangannya keras, tidak ada tanda ingin kembali dan membatalkan.

Lelaki di depannya masih terdiam, mencerna tantangan si gadis. Ia tahu mengapa si gadis mengajukan sebuah absurditas: ia telah melihat bendera itu –berdera sebuah negara yang jaraknya 15000 km dari tempat ia berpijak sekarang. Hal lainnya, kerena ia memakai ikat rambut merah keparat itu, bak pau yang telah ia cerna… semua!

“Aku ingin bertemu ibu,” tambah si gadis. Memperdalam jurang kebisuan mereka.

– Perdana Putri –

5

Merahnya nyaris seperti darah. Matahari itu. Yang muncul perlahan dari bawah tanah. Sekarang sudah berada di horizon panjang yang di baliknya seolah-olah ada jurang. Bagai api yang menyala-nyala, di sekitar lingkar merah sang surya. Tinta biru sang langit tampak terbakar. Bel pun berbunyi sebagai tanda sudah saatnya memayungi kepala, kalau tak mau pusing dan rusak rambut indahmu itu. Nafas mulai terengah-engah. Pengap. Ditambah lagi kaus dalam yang tebalnya minta ampun. “Salah kostum!” ujar Nirmala. Terserahlah. Tapi rasanya terlalu pagi untuk mematahkan hak sepatu ini. Baru satu langkah dan aku menyerah. Pagi ini benar-benar gerah! Mana remote ACnya? Ah, iya! Listrik mati, ‘kan?

– Ade Surya Tawalapi –

6

“Kabarnya, kalau kau cabut paku dari tugu itu ketika ada burung di dekatmu, maka matilah kau dalam tidur pulas yang panjang.”

Genta membaca runtutan kata itu di sebuah blog langganannya. Yang punya blog, pastilah ketika menulis hal itu sedang pancaroba hatinya. Biasanya tulisan si blogger ini lebih baik: filosofi tomat, misalnya –yang merah, gendut berair dan tak enak. Ugh!

Ia tahu tugu yang dimaksud, tugu di kotanya Sebuah tugu anker yang tak berani dihancurkan warga, karena ketika dibakar ia secuil pun tak hancur. Genta tak tahu mengapa, ia hanya menuruti orangtuanya untuk jauh-jauh dari tugu itu. Bahkan, kata kakeknya katika tugu itu ditarik dengan tali, talinya yang putus!

Bagi Genta kecil, tugu itu biasa saja, hanya palu dan arit yang menghitam. Ia terdiam sesaat, lalu keluar rumah menuju tugu, meninggalkan zona amannya.

– Perdana Putri –

 


7

Di sepanjang jalan yang gelap itu, temanku memakan apel, sembari memegang obeng. Perutnya yang buncit –mungkin sebuah bukti kemakmuran hidup– bergoyang dan berbunyi heboh.

Ia teman sekaligus tetangga yang aneh: ia memelihara kalelawar, yang ia pasung di sebuah papan. Binatang malam yang terjalang –semakin susah hidupnya.

Di kegelapan, ia mengetukkan obenganya ke sebuah tangga. Ia menyeringai, air sari apelnya meleleh keluar dari mulutnya. “Naik ke tangga!” suruhnya, “dan kuperlihatkan kau neraka.” Aku terdiam gugup.

Tanpa tanda Tanya, kupanjat tangga itu. Kulihat sekeliling: hanya ada kegelapan.

– Perdana Putri –

8

Memangnya jeans yang sobek-sobek itu menunjukkan apa? Katanya seperti preman, garong kelihatannya. Sampai ayam pun bisa-bisa takut berkokok. Takut mengganggu si garong yang terlelap, dininabobokan lagu jazz. Bukan, bukan si kucing manis ini yang kumaksud. Dia yang sedang tidur di sana, sambil memeluk novel karya Tolstoy. Dia bermimpi dan selalu bermimpi –padahal matanya terbuka lebar– tentang perdamaian. Gila saja! Utopia kata guruku, yang sekarang sedang mendalami ilmu psikologi. Sepertinya, karena orang itu terlalu banyak membaca. Eh, bukan! Dia hanya membaca satu novel: Perang dan Damai. Ya, yang dipeluknya itu. Sampai-sampai, karena terlalu sering bermimpi, ia diusir dari bar. Masa mau membayar 2 botol bir dengan manik-manik? Alasannya, ini demi perdamaian. Orang-orang harus toleran, termasuk menerima manik-manik dari orang yang tak berduit yang ngotot mau minum bir. Kalau kataku, mungkin ada yang salah dengan orang itu, yang belakangan ku ketahui seorang wanita, mantan pekerja di sebuah rumah sakit “istimewa”, khusus orang-orang penderita Skizofrenia. Gila!

– Ade Surya Tawalapi –

9

Aku ingin tahu seperti apa baunya –mungkin seperti petrichor, karena warna kelabu bajunya itu. Mendadak realita meninjuku, ah ya aku di pameran lukisan. Aku tak tahu mengapa aku ada di sini, membawa setumpuk kertas yang paling-paling hanya jadi lembar sejarah nantinya.

Jamku terus berdetik, kereta terakhir masih lama, tapi aku ingin pulang membawanya –si gadis kelabu. Mungkin aku bisa mengajaknya ke kafe; kita minum segelas kopi, lalu ia tolak kopi itu karena ia hanya meminum jus jeruk –karena ia seorang pecinta. Seorang pecinta hanya bisa minum sesuatu yang masam tapi manis dan membuat ketagihan.

Kami juga bisa mulai bertanya hal pribadi. Ia pasti akan bertanya, mengapa semua sendalku berwarna biru, mengapa kantorku menyebalkan, dan mengapa lainya. Ah, sebuah penyelaman dialektis. “Permisi,” panggil seorang pekerja galeri. Lalu ia memindahkan si gadis kelabu. Begitu saja.

– Perdana Putri –

10

“Aku tidak menemukan buku-buku di sana. Padahal plang yang kubaca tadi bertuliskan ‘perpustakaan’,” gerutu Masha. Dia baru saja pulang dari bioskop, habis menonton film Dee Lestari, Rectoverso, katanya. Tapi yang kulihat dia pulang membawa banyak sandal baru, padahal kemarin baru saja membeli tiga pasang sepatu.

“Mana kacamatanya?” tanya Nina. Ah! Pasti dia lupa. Dia memang suka begitu. Pikirannya tidak pernah sinkron. Pernah sekali waktu, saat Nina dan Andre sedang memerah susu sapi di kebun belakang. Masha datang dan membawa kabel hitam, seraya berkata. “Mau ditaruh dimana rumputnya?” Kurasa karena dia melihat tumpukan rumput dihadapanku.

“Rumput?” tanyaku.

Masha hanya melihatku dengan tatapan asing, lalu berlalu. Ia masuk ke dalam rumah dan mengacak-acak kotak berwarna cokelat di samping guci.

“Cari apa?” tanyaku lagi.

“Benang dan jarum.”

“Untuk apa?”

“Menjahit mulutmu itu, supaya berhenti menceritakan hal yang sama berulang-ulang!”

Teriakan Maya tepat menggema di telingaku. Rupanya penyakit nostalgia ini masih terus menggerogoti ingatanku.

– Ade Surya Tawalapi –

11

Ning ingin membunuh Nga dengan jilbabnya. Dari dulu, dendam yang lahir dari gula-gula mimpi terus menyakiti otaknya.

Membunuh Nga? Bagaimana caranya? Dalam perjalanannya di pesawat, ia terus memikirkannya –ah, Ning, tak lelahkah lehermu menopang pikiran yang busuk itu?

Ning berpikir, ia bisa membunuh Nga dengan menggantung Nga di tiang –dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Atau, ia kubur Nga hidup-hidup di tanah, di sebuah lapangan kosong.

“Ning!” jerit Nga –yang selalu mengganggu Ning sejak mereka lahir. Ning tak menangis ketika lahir, tapi Nga menjerit keras sekali.

“Ning!” jerit Nga lagi. “Tak inginkah kau pergi ke rumah Baba Liong? Imlek di rumahnya meriah betul!”

“Pergilah, Nga,” keluh Ning kesal. “Lebih baik aku imlek di Neptunus. Atau suruh Baba Liong ke sana.”

Ning pergi dengan gontai, membunuh dendamnya –tapi gagal, dan akan terus menghantuinya.

– Perdana Putri –

12

Mak pergi ke pasar, mau beli kapur untuk dibawanya ke sekolah besok. Buat belajar anak-anak miskin itu. Mak selalu berkata, biarlah mereka miskin harta, asal jangan sampai miskin ilmu. Lalu aku dan Mak tersenyum. Beliau mengacak-acak rambut ikalku yang bau karet terbakar. Tak pernah kucuci sejak air dalam sumur Mbah Jati habis. Kering. Padahal rumahnya baru saja dikeramik. Mewah! Tapi untuk air dan sekarung beras, dia juga ngutang ke Pak Haji. “Kalau dia itu, Mak, miskin atau kaya?” tanyaku dalam perjalanan menuju sekolah pagi itu.

– Ade Surya Tawalapi –

 **

Iklan

5 pemikiran pada “Dari 10 Kata

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s