Depok, 21 April 2013

Yts. Ibu yang tak pernah kulihat wujudnya

di tempat yang ntah kapan aku ‘kan ke sana.

Seharian penuh aku melihat berita tentang kau. Kebanggan, kebahagiaan, semangat, dan semua energi positif menjalar dari layar satu ke layar lainnya, dari telinga satu ke telinga lainnya, dari tangan satu ke tangan lainnya. Ya, pemberitaan tentangmu yang bukan hanya dari mulut ke mulut, tapi juga dari tangan ke tangan, layar ke layar. Tangan-tangan yang mengetik cerita, sejarah, dan kata-kata indah untukmu yang tak lagi mampu membaca. Tak bisa membaca ‘surat-surat’ dari kami. Wanita-wanita (yang seharusnya) menjadi penerusmu. Penerus semangatmu untuk generasi selanjutnya. Dan layar-layar yang menampilkan wajahmu yang cantik jelita, yang menampilakn tumpukkan kata yang bercerita sekilas tentangmu. Layar-layar yang tak mampu kau lihat. Yang takkan pernah bisa kau lihat isinya, dan membenarkan cerita yang terkarang di dalamnya.

Tapi, Ibuku, bukan hanya energi positif.  ‘Kecemburuan’ tiba-tiba saja muncul di dunia yang damai tentram yang kini mulai bercahaya, terang, setelah gelap yang mendekap lama, terbang menghilang. Serasa ada yang disembunyikan, disengajakan, dan seolah semua yang ada saat ini hanyalah rekayasa semata. Mematahkan semangat, kebanggaan, bahkan mencoreng kebahagiaan yang sesaat. Energi negatif pun bermunculan silih berganti dengan energi positif yang berusaha tersebar luas. Mengalahkan energi negatif meski itu mustahil. Ibu, bukankah hidup harus seimbang? Maka, dengan seizinmu, energi negatif itu pun akan menjadi semangat positif bagi kami untuk menjadi menerus semangat ‘juang’mu. Semangat mengalahkan kebodohan dan pembodohan. Pembodohan dan rekayasa. Iya, ‘kan?

Lalu apa sebenarnya inti dari ‘surat’ku ini? Mungkin kau bisa mengerti sendiri. Tidak ada sesuatu yang penting dalam surat ini. Hanyalah sampah tak berguna yang memenuhi kotak suratmu saja. Dan beruntung sekali seandainya kau mau menyempatkan diri untuk membaca tulisan sederhana yang tak berguna ini. Ah, Ibu. Andai saja aku punya kemampuanmu itu. Menuliskan ‘surat-surat’ ke seluruh dunia. Bukan sekedar surat pemenuh kotak pos belaka. Dan mampu berdiri, bangkit dari kursiku sekarang ini, dan bertindak nyata untuk negeri ini seperti pendahulu-pendahulumu, dan teman-temanmu, dan wanita-wanita setelahmu. Mungkin dengan doamu jalanku bisa dimudahkan, Bu. Maka doakanlah aku, gadismu yang tak pernah melihat wanita yang diagungkan di negara kita ini, untuk bisa meneruskan mimpimu. Mimpi yang juga mimpiku, gadis yang hanya mengenalmu dari tumpukan kertas-kertas sejarah yang ‘terekayasa’. Yang terselip bumbu penyedap yang tak seharusnya ada di sana. Ya, kan, Bu?

Tapi melalui surat yang takkan pernah bisa dan takkan pernah kau baca ini aku ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang mungkin sudah pernah disampaikan orang-orang sebelumku, teman-temanku, dan akan dikatakan orang-orang setelahku nanti. Ya, Ibu, kau wanita lambang negara kita. Negara yang dijajah oleh bangsa yang mencintaimu, katanya. Indahnya masamu kini, dicintai semua orang. Bahkan yang dulu adalah musuh bangsa kita. Dan, Ibu, tahukah kau? Kau menjadi simbol kebangkitan wanita-wanita yang ‘merdeka’. Yang mau keluar dari zona aman dan nyamannya. Yang mau keluar dari zona gelap menuju terang. Yang berani menyentuh ‘saklar’ ilmu untuk menerangi dunia. Dan karenanya, Ibu, meski tetap ada ‘kecemburuan’ yang tertuju padamu, tetap cintaku untukmu, wanita yang tak pernah kutahu seperti apa rupamu, takkan luput. Meski baru saja cinta itu lahir, setelah bermenit-menit menenggelamkan diri dalam cerita-cerita lama yang hangat: yang miring tentangmu, yang lurus, yang bengkok, yang tegak dan sebagainya. Tapi tetap bangga dan bahagia, bisa menikmati sisa-sisa cerita kenangan tentangmu.

Dan, Ibu. Selamat untukmu. Di hari ini, 21 April 2013, dan setahun lagi, setahunnya lagi, dan lagi dan lagi… Juga setahun sebelumnya dan sebelumnya. Tetap kau yang dikenang. Tetap kau yang terkenang. Selamat harimu, Ibu. Selamat Hari Kartini.

– Yang menyayangimu,

Aku

528390_3018361233729_874362265_n
diedit oleh: Yasser Ihsan
Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s