Apa yang menyebabkan hari berjalan begitu lambat lalu tiba-tiba bergerak secepat kilat? Baru saja jam berdenting menujukkan pukul 9 pagi. Tapi ketika aku lengah sedikit, sore sudah datang menjelang. Kemana perginya 7 jam yang hilang tiba-tiba? Pergi tanpa pamit.

Hari berjalan begitu lambat ketika aku merindukanmu.  Memang benar kata ibuku, tak ada yang bisa menghilangkan sebuah kerinduan selain sebuah perjumpaan. Namun beliau lupa menambahkan bahwa detik-detik menanti perjumpaan itu benar-benar menyiksa. Ya, persis seperti yang aku rasakan sekarang. Dan waktu terasa berjalan begitu cepat ketika aku bersamamu.

Dan lalu, kembali ia berjalan begitu pelan. Lebih pelan dari yang sudah. Rindu itu memang terobati sedikit. Perjumpaan singkat kita siang ini paling tidak membuat waktu bersemangat hingga dia menghabiskan semua tenaganya untuk berlari. Saat kau dan aku bersama dia selalu bersemangat. Bahagia tampaknya.

Tapi lihat! Sekarang jarak lagi-lagi mencoba memisahkan kita. Salahkah waktu yang mempertemukan kita lebih cepat dengan perpisahan? Dia hanya berbahagia, dan lalu sekarang menderita -sama sepertiku- karena untuk waktu yang lama tidak bisa melihat kita bercumbu mesra. Tapi haruskah dia berjalan lebih pelan? Bahkan mentari senja masih terlihat bulat. Enggan menutup mata sepertinya. Sama sepertiku yang enggan berpindah ke hari lain, karena masih ingin mengenang bau tubuhmu yang masih tersisa.

Kamu bagai kopi yang setiap pagi kusesap. Aku kecanduan.
Sepertinya tak ada hari yang kulalui tanpa merindukanmu.
Hah! Aku merasa bodoh dengan perasaan ini. Aku sungguh tak ingin lagi terperangkap dalam kerumitan itu. Tapi semakin aku mencoba untuk tak memikirkan dirimu, rasa rinduku semakin besar. Ini rumit.

Tapi tidak akan serumit jika kau juga berperan sebagai obat tidur. Yang setiap kalinya kita bertemu, kuharap mampu memberiku tidur lelap dengan mimpi indah. Sayangnya tidak pernah berlaku. Kedatanganmu, lalu kepergianmu malah membuatku semakin sulit untuk memejamkan mata. Takut bertemu pagi, dan menambah rindu yang semakin dalam. Harusnya aku senang, karena terlewati lagi satu hari sepi tanpamu yang berarti semakin dekat hari bertemu denganmu kembali. Tapi, dilain sisi, semakin dekat juga waktu untuk berpisah denganmu lagi. Karena waktu akan segera menemukan tenangnya, dan berlari. Bahkan mungkin terbang karena begitu semangatnya. Dan aku harus kembali lagi, ke dalam sepi rindu yang tersisa dari pertemuan singkat kita. Haruskah?

Ya itu harus. Aku tahu, selalu ada harga yang harus kita bayar. Bahkan untuk sebuah perjumpaan yang sesaat. Ada rindu yang akan tercipta setelahnya. Aku tak mengerti bagaimana cara sebagian orang meredam rindu mereka dengan sempurna.

Dan logikaku sudah tak bisa lagi berkompromi dengan rasaku. Aku akhirnya memutuskan untuk menikmatinya saja. Menikmati rasa rindu yang begitu hebat ini dimana ada wajahmu dan aroma tubuhmu dimana-mana. Siapa tahu esok rinduku akan mereda dengan sendirinya. Ya. Aku menikmati segala rindu yang menyesakkan ini!

Yang kuyakini pasti akan berbalas. Berbalas perjumpaan yang lebih lama, atau mungkin, dengan cara tidak ada lagi perpisahan yang menumbuhkan tanya? Ya, nikmati sajalah. Bukan begitu?

 


Tulisan Kolaborasi dengan Masya Ruhulessin dan juga dipublikasina di sini 🙂 

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s