Aku pernah terlibat dalam kasus pembunuhan. Seorang dari lima komplotan perampok yang datang ke sekolahku malam itu tewas tertembak pistol yang mereka lempar padaku dan memintaku untuk menarik pelatuknya. Belakangan ku ketahui bahwa dia adalah ketua komplotan bodoh itu. Bermain-main dengan senjata api, meskipun berhadapan dengan anak kecil, tetap saja membahaykan, ‘kan? Dan mereka meremehkan kami. Meremehkanku!

Awal mula kejadian itu, tidak begitu jelas. Tapi coba kuingat-ingat dulu. Hmm…

————————————————————————————

Waktu itu, kalau tidak salah hanya tinggal aku dan teman-teman sekelasku saja di sekolah. Malam itu, kami mempersiapkan perlengkapan drama, dan gladi resik untuk penampilan esok hari. Sekolah kami akan mengadakan acara pentas seni menyambut ulang tahun sekolah, dan kelasku terpilih untuk menampilkan sebuah drama. Tidak ada guru pembimbing, tidak ada kepala sekolah, hanya ada seorang penjaga sekolah yang sedang berkeliling ke kelas-kelas dan gedung-gedung lain. Dan hari sudah semakin gelap. Malam telah larut, sedangkan 15 orang anak di bawah umur ini masih sibuk dengan pekerjaannya. Lupa dan lengah, bahwa sekolah kami berada di daerah yang rawan. Rawan perompak, bandit, orang jahat, pemerkosa dan lain sebagainya.

Tidak satupun diantara kami yang sadar bahwa saat ini berpasang-pasang mata sedang mengintai gerak-gerik kami. Penjaga sekolah? Sudah pingsan dihajar mereka sepertinya. Ntah ada berapa orang, yang kuingat seorang wanita cantik berpakaian seksi berwarna hitam, dan dua orang lelaki berpakaian rapi seperti pegawai kantor. Lengkap dengan dasi dan jasnya. Ku pikir, merek bukan perampok biasa. Mafia? Bisa jadi. Karena setahuku, berdasarkan film dan buku yang kubaca, hanya kawanan mafia yang berpakaian seperti mereka, serba hitam plus topi hitam untuk sang ketua.

Kami diserang! Iya, aku ingat waktu itu aku mencoba kabur tapi tertangkap dan dilempar ke lantai. Sakit!! Dan itu membuat emosiku naik. Mungkin mereka pikir anak kecil tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi mereka salah. Mereka sedang berhadapan denganku sekarang. Gadis yang pantang kalah!

Apa yang terjadi selanjutnya? Yah, seperti di film-film. Teman-teman perempuanku menangis ketakutan. Yang laki-laki hanya bisa diam menundukkan kepala. Tidak satupun dari mereka yang berani menatap tiga orang yang sedang menyekap kami di depan kelas. Mungkin cuma aku? Karena itu aku dimarahi lagi dan lagi, bahkan aku dipaksa untuk menunduk, kepalaku ditekan oleh laki-laki berkacamata hitam. Si pendek pengecut, kataku.

Aku melawan! Tentu saja. Siapa dia berani-beraninya memegang kepalaku. Hanya ayah dan ibuku yang kuizinkan memegang kepalaku. Tidak orang lain. Dan mereka, seperti telah menekan satu tombol ditubuhku yang menghasilkan keberanian yang terlalu berlebihan, menurutku.

Dan pertarungan antara aku dan mereka berlangsung. Aku tidak ingat apa-apa yang kulakukan dan ku katakan. Seketika saja aku melompat ke atas meja dan merebut pistol yang diarahkan kepadaku oleh laki-laki yang duduk di belakang meja guru itu. Secepat kilat sampai-sampai laki-laki itu, dan wanita cantik di sebelahnya, terkejut. Aku ingat! Aku ingat wajah mereka yang berbalik pucat pasi. Haha! Masih mau meremehkanku? Dan mulut pistol pun ku arahkan ke laki-laki itu. Sedangkan si pendek? Hmm.. sepertinya dia berdiri kaku karena kuancam akan menembak temannya kalau dia berani bergerak sedikit saja.

“HAHAHAA…!!”

————————————————————————————

bersambung~

Iklan

2 pemikiran pada “The Murder Story of Luna – 1

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s