“HAHAHAA…!!”

Suara tawa yang berat membuatku bergidik. Ciut? Sedikit. Suaranya mengerikan, apalagi orangnya? pikirku. Aku membalikkan badan dan turun dari atas meja. Tepat dibelakangku, berdiri dia. Orang yang akan mati terbunuh olehku. Tawanya menggema dan sepertinnya sangat geli ntah karena apa. Tapi tiba-tiba dia bejalan ke arahku. Begitu cepat sampai aku tak sempat mengarahkan pistol kepadanya. Dia mencengkram mulutku dan berbicara begitu dekat. Ugh! Sepertinya dia lupa mempersiapkan mulutnya. Baunya sungguh….. hoek!

“Jadi kau menantang kami, ya?” tanyanya.

Dan ya, awalnya aku hanya marah karena salah satu dari mereka memegang kepalaku. Tapi, tidak lucu, ‘kan, kalau aku menjawab seperti itu? Maka, ku jawab saja begini,

“Aku hanya ingin kalian melepaskan kami. Kami toh tidak ada masalah dengan kalian!”

Dan ternyata salah. Mereka malah menertawakanku, lebih lepas, lebih geli dan semakin menyebalkan! Sekarang ku pikir, wajar saja mereka tertawa. Itu memang jawaban bodoh.

“Baik, mereka akan kubebaskan, kalau kau tidak mati tertembak pistol ini.” Oh, ya! Matilah aku! Pistol itu… argh! Mengapa sudah berpindah tangan? Mungkin dia punya ilmu beladiri? Ninja? Atau apa sajalah. Karena gerakannya begitu cepat dan mengejutkan!

“Hanya ada 3 peluru di dalam pistol ini. Bukan begitu, Jack?” Okay, yang duduk di kursi bernama Jack. Jack The Ripper? Yang pasti bukan!

“Dan, kalau kau bisa lolos dari ketiga peluru ini, maka kalian semua bebas.”

“Hanya kau saja yang boleh bermain tembak-tembakkan?” tanyaku.

“Oh.. jadi kau ingin ikut bermain? Ini bukan pistol mainan, kau tahu?”

“Paling tidak kau juga ikut tahan napas karena nyawamu diambang batas.” Asal saja kujawab. Pokoknya aku ingin menakut-takutinya juga!

“BAIK! Kalau itu yang kau mau. Hanya 2 kali kesempatan. Kau dua, aku dua!”

“DEAL!” Dan aku bersiap melangkah untuk merebut pistolnya. Tapi dia menembakkannya terlebih dahulu ke arahku. Membuatku terpaku, menahan napas dan merasakan apakah ada satu peluru menembus tubuhku?

“Well… giliranmu, bocak kecil. Semoga kau berhasil!” tawanya kembali menggelegar, mengembalikanku ke alam sadar dan ternyata aku baik-baik saja. Pistol ku tangkap dengan mantap, dan segera arahkan padanya. Okay, ini kesempatanku membuat semuanya ribut dan kalang kabut. Agar kami bisa lari. Aku melirik ke arah teman-temanku. Memberikan kode kalau mereka bisa lari setelah aku selesai menembak. Sang ketua kelas sepertinya mengerti. Ya, karena dia langsung berbisik ke teman-teman yang lainnya.

“Apa kau tidak mau mengucapkan kata-kata perpisahan dulu?” ujarku meniru pelaku kejahatan di komik Dan Detective School. Dan lagi-lagi aku berhasil menghibur mereka. Ini dia saatnya!

DUAR!!!

Belum habis tawa mereka, pelatuk telah selesai kutarik. Ku arahkan pistol itu ke dinding kelas seraya berseru,

“LARIIIIIII !!!!!!”  dan DUAR!, pistol itu menyelesaikan tugasnya!

Berhamburanlah teman-temanku ke pintu kelas. Ku pikir mereka, mafia-mafia itu, hanya akan panik karena kami yang seketika berlari dan ribut seperti anak ayam kehilangan induknya. Teman-temanku bahkan ada yang mendorong si pendek hingga ia terjatuh dan tak sempat berbuat apa-apa. Tapi rupanya, lain lagi yang menjadi perhatian Jack dan aku. Membuatku terdiam dan membatu. Napasku tertahan dan kepalaku menjadi pusing.

Darah???


bersambung~

cerita sebelumnya: The Murder Story of Luna – 1

Iklan

Satu pemikiran pada “The Murder Story of Luna – 2

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s