Darah??

Mengapa aku menjadi sangat pusing?? Bukankah pistol tadi kuarahkan ke dinding? Tapi….

BRUK!

“Daniel!!!!” Jack dan si wanita seksi itu berteriak histeris sekali. Sedangkan aku terdiam di tempatku berdiri. Masih belum percaya bahwa aku menembaknya. Tapi seingatku pistol itu ku arahkan ke…. Okay, dindingnya rusak dan pelurunya memantul dan menancap tepat di kepala bagian kiri Daniel.

Dan seharunya aku senang karena kami menang dan akan bebas. Tapi, bukan ini maksudku bersedia memainkan permainan konyol ini.

Teman-temanku sudah berlarian ke luar kelas. Tetapi satu dari mereka sepertinya masih berusaha memanggilku.

“Luna!!!” teriak Mikha dari pintu kelas. Aku tersadar lagi dan melihat ke arah Mikha. “Ayo, lari!!!” serunya. Aku mengangguk dan bersiap berlari. Tetapi kakiku digenggam erat si pendek yang masih terbaring di lantai. Seketika dia mengeluarkan pistol dari balik jasnya.

“Ini pembalasanku untuk Daniel!” ia berseru lantang, dan…

DUAR!!!

Sekali lagi suara itu membuatku pusing. Aku tertembak?? Apa aku harus mati?

“Luna, lariii!!!” Ricky meraih tanganku dan menarikku.

Rupanya suara itu datang dari pistol di genggamanku, yang lagi-lagi memakan korban. Si pendek pun tergeletak tak berdaya, sama seperti Daniel, tewas tertembak senjata mereka sendiri, olehku.

**************************

Polisi sudah memenuhi pelataran sekolah. Teman-temanku berkumpul di depan salah satu mobil polisi. Aku gemetaran melihatnya dari lantai dua, begitu banyak polisi di bawah.

“Siapa yang menelepon mereka?” tanyaku.

“Frisca,” jawab Ricky, “Ayo, masih ada beberapa orang lagi di gedung ini, kita harus segera turun!” seru Ricky menarik tanganku dan Mikha.

“Tunggu!” kataku. “Kalian pergi saja dulu, aku akan menyusul!”

“Apa-apaan kau. Di sini masih sangat berbahaya!”

“Masih ada satu peluru lagi.” jawabku seraya menunjukkan pistol yang masih kugenggam. Terdengar enteng padahal mencekat leherku. Dan aku langsung lari meninggalkan mereka berdua.

**************************

Berakhir menjadi pahlawan untuk teman-temanku yang terbebas dari sekapan mafia-mafia kelas ikan teri. Sekaligus menjadi buronan polisi karena rasa takut dan bersalahku yang membawaku melarikan diri. Ku pikir tidak dengan cara membunuh mereka maka baru kami bisa bebas. Ada cara lain seharusnya. Dan aku sangat takut dengan keteledoranku itu. Membunuh. Hahaa.. ya, aku memang pernah terlibat dalam kasus pembunuhan. Membunuh seorang dari lima orang mafia kelas ikan teri, dan menjadi buronan hingga saat ini.

Ya, satu, karena ternyata si pendek masih hidup. Hanya tangan kirinya harus diamputasi karena bekas tembakanku itu menginfeksi bagian tangannya yang tertembak.

Hahhh…

Itu sebabnya aku di sini sekarang. Duduk termangu mengingat kejadian itu lagi dan lagi. Masih dalam pelarian dari kejaran polisi yang mungkin saja berniat baik, atau memang ingin menjebloskanku ke penjara. Aku tidak pernah tahu. Karena aku sudah terlanjur bangun dari mimpi petualangan semalam itu.

:p


Selesai

baca juga: The Murder Story of Luna – 1

dan: The Murder Story of Luna – 2

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s