Aku, bahkan saat ini, benar-benar ingin menjadi Venus saja. Venus yang belum pernah bertemu Torey. Yang tidak perlu pusing memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentangnya, apa yang mereka lakukan, apapun yang terjadi di sekitarnya. Bahkan mungkin tidak terlalu peduli –atau tidak tahu? tidak sadar?– dengan apa yang ada di pikirannya sendiri. Tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

Menjadi Venus yang hidup bersama mentari yang menyapanya hangat setiap pagi di tembok itu. Venus yang kata orang-orang seperti mati, tapi masih mampu menghirup udara segar di pagi hari. Venus yang mampu menatap tajam ke siapa pun, tanpa takut, tanpa merasakan apa-apa. Venus yang juga memilikii kekuatan melindungi dirinya sendiri, ketika orang berpikir bahwa dia akan tumbang sekali sentuh. Venus yang menjalani apa yang dia mau –diam dan berteriak– tanpa peduli apa kata orang-orang. Tanpa peduli pandangan orang. Tanpa tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

Ya, aku memilih untuk menjadi Venus yang itu, yang belum pernah bertemu Torey.

Karena kupikir, tidak perlu ada rasa mencekat ketika sederetan huruf yang kau tulis muncul di hapadanku, dan menikam jantungku, atau rasa-yang-semua-orang-tidak-mampu-mendeskripsikan-nya setiap mataku menangkap tubuh yang sudah dihapal otakku, dan menghentikan langkahku

Ya, aku memilih untuk menjadi Venus sekarang. Sekarang dan selamanya.

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s