Aku menyusuri jalan yang sama bermalam-malam lamanya. Berjalan pelan dan perlahan. Mendongakkan kepala ke langit yang hitam temaram. Bulan separo kalah oleh lampu-lampu malam yang menerawang. Dan mengalah dari gumpalan awan-awan yang rindu akan tanah. Mendung. Bersama bulir-bulir bening yang membasahi kacamataku perlahan tapi pasti, aku melanjutkan perjalanan tanpa arah.

Rasanya senang ketika aku menyadari ada kebebasan yang kudapatkan di sini. Di saat aku ingin berlari, aku bisa berlari kemana saja. Di saat ingin menyusuri deretan pohon hijau perkasa di sepanjang jalan, aku bebas melakukannya. Tak seorang pun yang akan melarang. Dan tak seorang pun dari mereka akan kehilangan. Tinggal diriku sendiri, apakah bisa terbebas dari rasa takut akan gelap dan kesunyian, atau rasa takut pada setan-setan yang berkeliara, haus akan gadis dengan mata kosong yang ketakutan? Dan malam-malam ini membuktikan, bahwa keindahan bisa kutemukan dalam keberanian.

Ada kisah romantis yang tertoreh malam ini. Sepasang suami istri di sebelah kiriku, dan dua sejoli di kananku. Setiap kata yang terlontar dari mulut mereka menciptakan senyum yang tak bisa kusembunyikan. Menarik lebar bibir ini sampai-sampai aku berpikir apa aku gila? Sudah terlalu sering aku tersenyum sendiri. Mereka bilang tanpa sebab, padahal banyak sebab yang membuatku tersenyum bahagia bahkan tertawa, atau tersenyum miris bahkan menangis. Hanya saja mereka menutup diri untuk melihat dan mengerti, bahkan sekedar mencari tahu. Karena ini aku pikir aku bisa memahami isi pikiran orang-orang yang tertawa dan bicara sendiri. Ya, orang-orang yang divonis sakit jiwa oleh para ahli kejiwaan. Apa mungkin karena aku sudah menjadi bagian dari mereka? Mungkin kau bisa mengirim seorang ahli kejiwaan ke rumahku. Atau tidak.

Tapi yang menyentuh kalbuku adalah sepasang suami istri yang-cukup-tua. Ingin bermesraan tapi malu-malu kucing. Padahal, orang banyak pun akan maklum, toh mereka sudah punya hak dan tidak melanggar norma apa pun kalau memang mau bermesraan di tepi jalan sambil menunggu nasi goreng pesanan mereka. Bahkan miris ketika aku menoleh ke sebelah kananku. Ada ikatan apa yang membebaskan mereka berpegangan tangan, dan membiarkan kepala si gadis di pundak si pemuda? Ah, jadi teringat masa-masa kelam itu lagi.

Ya, kesendirian mengajariku banyak hal. Tapi tidak sebanyakmu, Anne. Kurasa hal-hal itu yang mendekatimu dan membiarkanmu mengenal mereka. Bukan sepertiku yang harus mengejar mereka dan memaksa berkenalan. Kadang berhasil, kadang aku kembali dengan tangan kosong. Pun juga pikiranku ntah tinggal dimana.

Apa mungkin, suatu malam ketika aku kembali menyusuri jalan yang sama di bawah langit berwarna ungu tua, kita akan bertemu dan melewati malam yang menyenangkan? Asal kau tahu, aku bukan orang-orang yang banyak bicara, dibandingkan teman-temanmu atau orang-orang yang pernah kau temui. Bahkan mungkin aku lebih parah dari Elizabeth –ah ya, dia juga banyak bicara. Tidak, aku tidak menemui temanmu yang lebih memilih diam daripada menciptakan suana garing yang mencekam. Ya, itu aku, Anne.

Tapi mustahil kita bisa bertemu, bukan. Kau ada seabad yang lalu, di belahan bumi utara. Sedangkan aku terlahir seabad kemudian, di belahan bumi lainnya. Mengagumi dalam keterpanaanku.

Montgomery memang pintar, Anne.

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s