Bu,

pertanyaan yang sama masih selalu berputar-putar di atas kepalaku. Dan semua diawali dengan kata tanya “mengapa”. Ya, mengapa harus ada pikiran semacam ini di kepala ku. Apa kau dulu juga begitu? Mengapa sesal selalu datang belakangan? Dan mengapa aku tak penah berhasil belajar dari hal-hal yang memberiku rasa sesal hingga keubun-ubun. Iya, sesal yang membuatku muak karena selalu karena alasan yang sama. Bu, mengapa harus seperti itu? Mengapa aku harus melakukan ini dan menghindari itu? Mengapa aku tidak terlahir sebagai anak pembangkang yang berani? Aku hanya berani membangkang di dalam diri. Dengan aksi diamku itu. Melarikan diri. Sedangkan kau berulang kali berkata, “Percuma,” masalah takkan hilang begitu aku lari. Dia akan menungguku. Mengapa begitu ibu? Mengapa masalah itu tidak mencari orang lain yang mau mengahadapinya? Atau sebenarnya dia sudah mendatangi mereka dan kalah, lalu mendatangiku? Mengapa aku tidak bisa melawannya dengan sekali kedip mata, bu? Mengapa? Aku sungguh ingin menjadi anak yang bermasalah. Yang menunjukkan sikap membangkangku terang-terangan. Tapi selalu gagal, karena kata hatiku, “Kasihan Ibu, dia akan sedih.” Benarkah, Ibu? Mengapa kau harus bersedih untuk anak yang tidak tahu diri sepertiku? Ah, bukan… untuk anak yang tidak tahu diri seperti bayanganku? Dan mengapa aku selalu merasa bodoh dan takut ketika sudah mencapai ujung mata, air mata itu. Ketika aku ingin menangis, selalu ada tatapan-tatapan merendahkan. Apakah menangis itu perbuatan tercela, Ibu? Mengapa orang kuat tidak boleh menangis? Mengapa ada slogan, “wanita yang tegar tidak menangis”. Memangnya ada apa dengan tangisan, Bu? Sehingga tidak ada orang kuat yang boleh menangis? Apakah aku boleh menangis? Aku bukan orang kuat, berarti aku boleh menangis, kan, Bu? Tapi mengapa air matanya menolak untuk keluar? Seperti membatu di balik bola mata yang kering dan panas. Bu, mengapa? Mengapa ada orang yang selalu berpikir mengapa? Tapi tidak pernah mencoba mencari jawabannya. Bu, apakah aku bodoh? Bertanya padamu tapi tidak pernah dengan suara. Bahkan kau pun tak bisa melihat catatanku. Bu, mengapa aku selalu bertanya padamu, tapi enggan membiarkanmu tahu? Kata hatiku, “jangan buat Ibu cemas.” Apakah kau cemas Ibu? Dengan keadaan anakmu yang kian hari kian memburuk. Memburuk karena semakin takut untuk keluar. Semakin enggan berhubungan dengan orang-orang. Mengapa , Bu? Mengapa?

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s