“Akhirnya aku memutuskan untuk menuliskannya saja. Berharap aku ‘kan berani mengirimkan surat ini padamu dan membiarkanmu (atau lebih berharap?) kau membacanya. Lalu, semoga kau temukan maknanya.

“Seminggu, begitu yang kuharapkan. Tapi tidak begitu yang terjadi. Hanya beberapa hari saja, tapi begitu berarti. Kau datang lalu pergi lalu datang lagi. Menatap mataku -seperti yang biasa kau lakukan ketika aku tak mampu memalingkan wajah darimu- dan lalu tersenyum. Kau bahkan berjalan lebih jauh. Berjalan semakin jauh ke arahku, lalu semakin lebar senyummu untukku. Aku memutar badan berharap ada seseorang di belakangku yang tengah membalas senyum manismu. Tapi kosong. Hanya ada aku dan dinding bercat putih itu. Aku yang seketika membatu dan dingin. Kupu-kupu itu mulai berterbangan dan menggelitik setiap sudut perutku.

“Kau berbicara -Apakah ini karena kemarin aku tidak sengaja mendengar suaramu meski samar? Di sore itu, kesempatan terakhir aku bisa menikmati indahmu di hari itu dari sudutku. Dan dengan menaikkan ketajaman telinga ku fokuskan mata, fikiran, bahkan hatiku ke sosok tubuh yang tengah mondar-mandir di depan mataku. Bermeter-meter jaraknya. Sesosok tubuh yang dibalut jins, baju kaos berkerah hitam-merah, dan tas ransel di pundaknya- padaku. Untuk pertama kalinya. Membuatku ternga-nga. Membuatku membelalakkan mata, tercengang. Dan kau mengulang kata-katamu seolah meyakinkan aku, ya, kau sedang berbicara padaku. BER-BI-CA-RA. Dan aku mulai sadar, lalu balas mengeluarkan suara. Dan kita menikmati saat itu. Saat itu.

“Lalu kau pergi. Dan aku menatap punggung gagah itu menjauh dariku.

“Kemudian kau kembali lagi. Semakin terbiasa aku menyambut kata-kata dari mulutmu. Bahagia rasanya. Akhirnya kita tak hanya sekedar tahu. Kita mengenal. Paling tidak, dari sisa-sisa percakapan kita kemarin, hari ini, esok, dan lusa.

“Lalu kau pergi lagi. Meninggalkan cerita yang belum selesai. Meninggalkan tanya di benak yang selalu ingin tahu. Meninggalkan kenangan yang membuatku hanya melihat wajahmu dijagaku. Meninggalkan bekas.

“Kau pergi…. dan tak lagi kembali… ke alam mimpi yang menghiasih setengah malam tidurku.”

– Ade Surya Tawalapi –
Depok, 5 Juli 2013

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s