Berhari sudah berlalu. Membuka tutup pintu ini mengharapkan apa saja yang akan membuatku terperanjat dan kemudian tertawa terbahak atau menangis tersedu. Ah, tidak. Aku ingin menangis mengerang. Biar kau di sana dengar dan datang ke sini. Aku butuh asupan.

Kalau saja kau memutuskan untuk meninggalkanku malam itu dengan kunci tetap di tanganmu, dan pintu terpaku rapat, mungkin tidak ada tingkah konyol yang merekat erat pada tanganku yang masih saja membuka pintu padahal semenit yang lalu ia baru saja kututup. Harapan akan sesuatu yang dapat membuatku tertawa bahak atau menangis mengerang masih melambung terbang memenuhi ruang sempit kotak persegi panjang ini. Aku ingin ada sensasi. Haruskah aku yang membuatnya dengan tiba-tiba berlari ke keramaian sambil bersimbah darah? Atau memecahkan gelas saja di sini, biar ramai! biar gaduh!? Aku hanya ingin suasana hatiku berubah seketika setelah yang satu berlalu. Sulit memang.

Jadi, kapan kau akan pulang? Mengembalikan kunci itu padaku, menutup pintu lalu mendekapku erat dalam peluk hangat? Aku melihatmu dari kejauhan mata hati yang merindukanmu. Tapi ketika kau tepat berada satu sentimeter di depan mataku, tak pernah kumampu mengeluarkan suara sepatah kata saja. Hanya ada angin di antara kita-yang bernyanyi kala menyentuh lembut tubuh yang hanya untukku peluk dari jauh. Kau, bagai tabir kedap suara, menelan suaraku hingga tak bersisa seujung kuku.

– Ade Surya Tawalapi –
Depok, 11 Juli 2013

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s