Awalnya nggak berniat menggubris sederet poin yang dipost oleh teman saya di grup WhatsApp. Tapi, setelah membaca komentar tentang postingan itu, maka saya membacanya. Ada yang lucu, tapi ntah apa saya sendiri tidak tahu. Lalu, sesampainya di kosan, kakak saya kembali curhat tentang masalah yang sejak beberapa hari lalu sedikit menyita perhatiannya. Saya, sekali lagi, membaca postingan teman saya itu. Ah, ya… jodoh memang tidak bisa kita paksakan. Semua sudah memiliki jalurnya sendiri. Jadi, tenang saja… tidak perlu tergesa-gesa. 🙂

Jadi, ini dia yang dipost oleh teman saya…

Sebuah kajian, “Jodoh Memilih atau Dipilih” di MUI
sumber: Faisal Jamil,
dishare oleh: Isna Maratu R.

#1. Jodoh tak akan tertukar. Yang terjadi adalah beda rasanya, karena beda cara menjemputnya dari tangan Allah.

Yaps, jodoh, mau dulu sempat jadi pacar terus putus trus musuhan, tetap kalo dia adalah jodoh kita, ada aja jalannya untuk kembali dan membina rumah tangga yang sakinahmawadah dan rahmah. Yang beda emang cuma rasanya. Mungkin orang yang menemukan jodohnya dengan cara pacaran dulu bertahun-tahun akan beda dengan dia yang menemukan jodohnya dengan cara pacaran sehari doang, atau nggak pake pacaran sama sekali. Beda lagi rasanya dengan orang yang bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan cintanya dan niat mengikat diri dibanding mereka yang maksain cintanya dan seolah “kebelet”. Pengennya buru-buru aja. Ya, beda rasanya karena menjemputnya dengan cara yang berbeda-beda.


#2. Urusan kita berikhtiar, dimana dan bagaimana cara Allah memberikan jodoh (atau rezeki), itu urusan Allah.

Ya, jodoh emang di tangan Tuhan, tapi kalo nggak dijemput ya gimana mau dapet?


#3. Kalau Allah jadikan mudah, mudah sekali.

Begitu juga sebaliknya, kalau Dia ingin kita berjuang mati-matian, kenapa tidak?


#4. Ini bagaimana adab kita menjemputnya di hadapan Allah

Sama kaya minta duit ke orangtua kali ya? Kalau nggak pake adab bisa jadi nggak dapat duitnya malah kena ceramah. Hahaa


#5. Doa saat ikhtiar: Yaa Allah, aku mohon pilihkan dengan ilmu-Mu, bukan ilmuku, karena ilmuku terbatas. Dan aku memohon ketetapan padamu dengan kuasa-Mu bukan kuasaku.

Karena sesungguhnya, pilihan-Nya adalah yang terbaik. Sekalipun ntar mendapatkan jodoh yang di mata kita cuma bisa bikin susah (misal: suami yang KDRT atau istri matre) tatap dia yang terbaik, karena memberikan pelajaran untuk kita dan orang lain :p


#6. Jangan pernah ketika mengusahakan sesuatu, merasa kita berkuasa. Mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan sesuatu.

Yaps! bahkan orang yang besok mau nikah aja bisa jadi batal nikah cuma karena pasangannya tiba-tiba ilfil trus nolak buat nikah. Siapa tahukan? Jadi, nggak perlu lebay, nggak perlu merasa dia HARUS jadi milik kita. Let it flow aja… bawa santai… selow~


#7. ini bukan mencari jodoh yang IDEAL atau SEMPURNA, yang kita butuhkan adalah jodoh yang TEPAT!

Sudahkah dia tepat untukmu? Sebenarnya ini menjadi pertanyaan saya juga sih, gimana bisa tahu dia tepat atau nggak ya? -_-a bisa jadi hari ini kita yakin dia tepat, kalau tiba-tiba besok nggak? Kan Tuhan Maha Kuasa, bisa membolak-balikkan hati dalam sekejap? Nah, balik lagi ke poin sebelumnya kalau gitu… jangan pernah merasa berkuasa atas segala hal. Kembalikan semuanya pada Tuhanmu, dan berserah dirilah padanya 🙂 *nanya sendiri jawab sendiri*


#8. Bangun cinta hanya dengan satu orang, sementara jatuh cinta pada banyak orang

Ya, biarkan benih cintanya jatuh dimana-mana, tapi cukup pada satu lahan aja cinta itu benar-benar diurus dan dijaga. 🙂


#9. Mengupayakan perbaikan diri sebelum memutuskan jodoh kita adalah suatu keharusan.

Ingin jodoh yang baik? Ya, jadilah orang baik. (mungkin gitu kali ya maksudnya? ._.)


#10. Yang penting usaha mencari orang sholih dengan cara yang benar

Kalau pake modus itu bisa dibilang nggak bener, nggak sih? Haha.. *malah nanya -_-a


#11. Ta’aruf itu seumur hidup

Menjawab poin ke-7, mungkin kita bisa memutuskan dialah jodoh yang pantas dan tepat ketika kita udah sakratul maut. Kenapa? Karena seumur hidup kita tetap berada pada posisi mengenal dia. Mengenal jodoh yang telah disandingkan pada kita.


#12. Bentuk ikhtiar wanita: mengingatkan pada orangtua bahwa mereka punya tanggungjawab mencarikan jodoh yang baik.

Jadi, sekarang nggak heran Papa selalu nawarin anak teman-temannya ke kakak #eh #gagalpaham


#13. Bagaimana melihat seorang ikhwan: ibadahnya, sikap pada bunda, sikap pada kawan sebaya, sikap pada anak kecil

Wah, harus digaris bawahi nih, yang ini. Di bold kalo perlu. Hahaa.


#14. Akhwat mengajukan diri tidak melanggar syariat. Konsekuensinya satu, ditolak. Tapi lebih baik daripada tidak jelas. Tidak ada penghalang dari syariat, yang ada hanya budaya dan budaya bukan syariat.

Aha! Ini dia. Kalau kita (yang cewe-cewe ini) mau ngelamar cowo ternyata boleh-boleh aja dalam syariat Islam, cuma yaaa harus siap mental. Jangan bunuh diri, ya, kalo ntar lamarannya ditolak. Hahaa… Dan memang sebenarnya cuma masalah budaya. Seperti di Jepang, kalo cewe nembak cowo malah udah biasakan? Di Indonesia juga udah mulai biasa. Tapi, nggak tahu deh kalau urusan cewe melamar cowo masih dianggap biasa atau tabu. :p


#15. Saat memutuskan mintalah fatwa pada hatimu.

Bukan nafsumu! Agaknya kita perlu berhati-hati karena terkadang ketika jatuh cinta nafsu lebih menguasai hati bahkan bisa menjelma menjadi hati sehingga kadang kita nggak bisa membedakan mana yang kata hati sebenarnya, mana yang bisikan hawa nafsu semata.


#16. Allah akan memberikan jodoh yang terbaik saat kondisi kita sedang dalam konsi terbaik. Siapapun itu. Jadi, perbaikilah diri sendiri terlebih dahulu.

Ya, nggak jauh beda dengan poin ke-9 tadi. Ingin jodoh terbaik, maka perbaikilah diri terlebih dahulu.

Yang saya tangkep dari keseluruhan poin adalah, semua kembali pada diri kita. Mau dapet jodoh kaya apa pun juga tetap bergantung pada diri kita. Apakah kita sudah memperbaiki diri dari hari ke hari? Apakah kita sudah benar-benar memberi kuasa penuh pada Tuhan untuk memberikan jodoh itu pada kita dengan cara-Nya? atau masih ngotot maunya dikasih dengan cara yang kita mau? Apakah kita sudah tawakal dan berserah diri pada-Nya? Bahwa kesempurnaan itu hanya ada pada-Nya, bukan pada jodoh kita, ataupun diri kita sendiri? Apakah kita sudah memahami betul apa yang disebut dengan jodoh, dan jodoh seperti apa yang kita mau, dan yang pantas buat seorang hamba seperti saya, kamu dan kita ini? Ya, ikhtiar dan tawakal adalah sepasang kata yang pantas untuk kita yang sedang menanti seorang kekasih. Ikhlas dan sabar adalah sepasang kata lain yang melengkapi sepasang kata sebelumnya. Semoga Tuhan dengan ilmu dan kuasanya memberikan kita jodoh terbaik untuk hamba-hambanya ini. Hahaa

🙂 🙂 🙂

*tumben ini nge-post hal yang ‘serius’ ._. wkwkw

Iklan

8 pemikiran pada “[Tentang] Jodoh

  1. Sebulan sebelum suami meninggal,dia bilang beging:”Bu,kita jangan sampai bercerai ya,hanya maut yang memisahkan kita,itu lebih terhormat”.Akankah alm suiami menjadi jodohku di akherat (surga?)Nanti?walahuallam.

    Suka

    1. Saya pernah baca dan dengar, “pasangan terakhir di dunia bisa jadi pasangan di akhirat.” Tapi.. ya, wallahua’lam. Hehee, maaf baru sempat balas, kemarin-marin buka blog cuma buat mosting saja. Semangat, Mbak… :’)

      Suka

  2. jodoh emang misteri mba…hehe, karena itulah mungkin menjadi indah..
    tapi saya pernah dengar jodoh yang asli itu adanya diakhirat kelak ketika di surga..#bingung..

    Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s