“Kok di luar?” tiba-tiba suara yang kuhindari bergema di gendang telingaku.

“Karena nggak di dalem,” jawabku asal.

“Hahaa.. ya itu gue juga tau kali. Nggak tidur?”

“Baru aja gue nyaris terlelap udah lo bangunin.”

“Lah? Tidur di sini?”

“Kenapa nggak? Hahaa.”

***

Masih ingat denganku? Orang-orang memanggilku Senja, Embun Senja. Mungkin kau sudah bisa menebak siapa pasangan bicaraku tadi. Yaps, Rama. Rama Fajarendra. Kami sedang di dunia antah berantah sekarang. Di luar Jawa. Pergi berlibur bersama teman-teman dari Tim Tanggap Bencana yang kutemui setahun yang lalu. Setahun…. hmm… sudah lama, ya? Ternyata aku sudah ‘mengenal’ dia setahun lamanya.

Tepatnya, kami berada di………. puncak gunung? Bukan, tapi dinginnya nyaris serupa seperti di puncak gunung. Dingin sejuk menusuk. Sepi dan sunyi. Kaya akan pemandangan yang indah. Di malam hari, tidak ada pemandangan yang lebih indah dari bulan dan bintang yang saling beradu cahaya. Yah, Kaki Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Jauh ya? Yah, aku akui ini adalah tempat terjauh yang pernah kusinggahi. Sekitar sebulan-dua bulan yang lalu, Rissa dan Ayu nyeletuk ingin keluar dari pulau Jawa. Refreshing. Dan keinginan mereka bersambut harap. Ibnu yang kebetulan lahir dan besar di Banjarmasin mengajak mereka untuk main ke rumahnya. Rencana awal memang, kami -ya, kami. Aku, Prama dan Zahra terpaksa ikut- berencana ke Banjarmasin akhir tahun ini, menghabiskan seminggu-dua minggu di kampung halaman Ibnu. Tapi, tetiba rencana berubah total seminggu sebelum keberangkatan. Tepat waktu kami sedang mencari tiket kapal ke Banjarmasin -ya, perjalanan jauh ke pulau seberang naik kapal rasanya lebih menantang daripada naik pesawat yang terkesan eksklusif-, kami bertemu Rama yang waktu itu juga sedang mencari tiket ke Makassar. Dan ntah bagaimana ceritanya, aku pun tidak begitu paham, kompak mereka semua mengubah destinasi menjadi kampung halaman Rama, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Minggu kedua -lagi- di bulan Desember, aku bersama 13 orang lainnya pun pergi berlayar kurang lebih dua hari ke pulau seberang, Sulawesi.

***

“Udah baca kertas tadi?” tanyanya padaku setelah hening panjang menyeruak ke permukaan tanah dan memenuhi udara malam itu.

Aku hanya mengangguk. Dan kemudian tertawa mengingat apa yang telah tejadi dua hari terakhir di sini. Terlebih kegiatan kami malam ini. Benar-benar konyol!

“Jadi, siapa yang lo maksud?”

“Ha? Maksudnya?”

“Iya, di jurusan emang cuma gue yang bernama Rama angkatan kita.”

“Terus?”

“Ya, jadi yang maksud lo siapa?”

“Emang gue bilang Rama angkatan kita ya?” Rama menatapku dengan tatapan yang…. ah, ntahlah. Tidak tergambarkan. Bingung, kesal, dan haha… malu? Mungkin. Membuat orang lain kege-eran itu memang paling kusuka. Apalagi yang ge-er itu Rama. Kebahagiaan tiada tara sepertinya.

“Bete nih, gue, kalo begini,” keluhnya.

Aku hanya tertawa. Dan kemudian diam. Lagi.

***

“Langsung aja, gue mau minta maaf sama lo, Nja.” kata Putra. Seketika 13 pasang mata lainnya tertuju padaku.

Malam itu, kami berkumpul di pekarangan villa. Duduk membentuk lingkaran mengelilingi api unggun yang dibuat oleh Kak Kevin dan beberapa teman laki-laki lainnya. Kak Kevin adalah senior kami, hanya saja beda departemen; departemen psikologi, setahun di atas kami. Dia adalah koordinator lapangan tanggap bencana sewaktu di Desa Sanjaya. Tiga hari yang lalu, Kak Kevin yang juga asli orang Makassar datang ke villa dan menghabiskan liburan di sini bersama kami. Dan malam ini, seperti malam-malam di Desa Sanjaya dulu, selalu ada games yang dibuat olehnya, yang mengarahkan kami untuk saling mencurahkan isi hati. Semacam deep sharing.

“Ya, Put?” tanyaku bingung. Putra mendapat giliran untuk mencurahkan isi hatinya saat itu.

“Iya, gue minta maaf udah bikin lo nangis kemarin malam.”

Lagi, serentak teman-teman yang lain menatap ke arahku. Hanya kali ini ada sepasang mata yang lebih memilih menatap rerumput daripada aku atau Putra.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

“Gue rasa lo udah tau alasannya. Semua yang di sini juga harusnya juga udah tau kenapa. Gue sadar, becandaan gue semalam udah kelewatan. Padahal lo udah bilang nggak mau ikutan tapi gue tetap maksa, terus maksa lo juga untuk jujur untuk hal yang nggak wajib lo publikasikan. Makanya, gue jadi nggak enak sama lo, Nja. Sorry, ya?”

“Se….”

“Jawabnya ntar aja, Senja, pas giliran kamu,” potong Kak Kevin segera. Aku pun diam dan hanya mengangguk.

“Dan gue juga minta maaf ke satu orang lagi yang menjadi korban juga. Mungkin, gara-gara yang kemarin juga timbul suasana dingin antara lo dan Senja. Ya, nggak perlu gue sebut. Lo pada juga udah tau, ‘kan?”

***

“Gue jadi nggak enak.”

“Udah, sih, Raam… Tadi kan udah pada maaf-maafan. Masih aja dipikirin.”

“Gue nggak enak sama elonya.”

“Gue nggak kenapa-napa kok.”

“Tapi lo jadi pendiem gitu.”

“Lah, emang gue nggak boleh diem?”

“Yaa.. bukan nggak boleh sih. Tapi, gue jadi ngerasa nggak kenal lo.”

***

“Well.. giliran gue nih?” tanyaku. “Peserta terakhir?”

“Iye, Nja, lanjut aja sih!” perintah Ibnu.

“Hahaa.. oke, oke. Jadii… gue harus ngomong apa nih?” kikuk? Ya, gimana nggak? Fokusnya masih sama; aku. Roni, Putra, Ibnu, Prama, Rissa, dan terakhir Rama, semuanya tiba-tiba minta maaf padaku. Mengungkit lagi kejadian kemarin malam. Ah, kejadian yang memalukan.

“Tinggal kamu tanggapin teman-teman kamu, tadi, Senja,” kata Kak Kevin membantuku berpikir.

“Oya, bener,” kataku lagi. “So… siapa dulu nih?”

“Siapa aja, Nja,” seru nyaris semua orang yang ada di sini. Lalu tawa garing menggema di udara. Oke, loncat ke kubangan kayanya enak, nih. Batinku.

“Hmm….,”

***

“Emang gue yang lo kenal gimana?” tanyaku. Ada nada menantang di sana. Menantang Rama yang baru benar-benar kukenal di Desa Sanjaya, lalu berkomunikasi tidak intens via internet, sesekali via sms. Apakah dia benar-benar mengenalku?

“Lo selalu ribut. Heboh. Ceria. Temannya Rissa tuh, suka teriak-teriak. Dan, nggak bisa diem deh pokoknya. Itu yang gue tau.”

“Masa sih?”

“Setidaknya itu Senja yang gue kenal di Desa Sanjaya dulu. Nggak tau deh kalau waktu udah megubah itu semua. Atau pengakuan terpaksa lo tadi malam.”

***

“Gue nggak pernah ambil pusing kok,” kataku perlahan. Semua hening, mendengarkan dengan seksama. Hanya ada dua belas pasang mata yang menatap ke arahku. Sepasang lagi, tertegun, masih menatap rumput.

“Iya, emang bener kemarin gue nangis. Tapi bukan karena turth or dare itu kok. Bukan karena siapa-siapa. Tapi karena emang gue mau nangis. Lagian pada tau darimana sih gue nangis?” tanyaku sambil melihat ke arah Prama.

“Bukan gue yang bilang. Sumpah!”

“Gue tau dari Rama,” jawab Putra.

“Hah?” ekspresi terkejut menghiasi wajah manis itu. Tidak fokus, sudah pasti. Ntah berada dimana pikirannya saat itu.

“Iya, kemarin lo yang bilang kan, Senja nangis?” tanya Putra meyakinkan.

“Gue kurang yakin sih. Kan gue bilang, gue cuma ngeliat sekilas doang di dapur.”

“Tapi gue liat kok,” Roni menyela. “Waktu lo minta sleeping bag lo ke gue, mata lo sembab.”

“Oke…” jawabku lagi. “Jadi jelas ya, gue nangis bukan karena kalian, bukan karena permainan gila itu. Juga bukan karena seorang anak di kampus kita, bukan karena anak DepNik angkatan 11, bukan karena dia bernama Rama, dan bukan karena lo, Ram!” kataku tegas dan lantang. Sambil menatap lurus ke Rama yang duduk tepat di seberangku. Dan dia hanya menatap kaku. Bisu.

“Yah, gue rasa tanggapan dari pernyataan kalian itu aja. So, slow guys. Nggak ada yang jadi beban pikiran gue kok. Kalau gue nangis, diem atau marah-marah itu ya karena gue yang mau. Tapi kalo marah kayanya karena ada sebab yang jelas deh. Hahaa”

***

“Masih aja….”

“Ya, nggak bisa dilupakan, Nja. Lo jawabnya juga serius banget.”

“Lagian lo juga nanya dengan ekspresi sok serius gitu.”

“Tapi itu gue emang serius.”

“Gue jadi bingung, truth or dare itu games apa penelitian sih, pada serius-serius amat mainnya.”

“Kayanya kalo berkaitan dengan perasaan emang mau nggak mau serius.”

“Oya?”

***

Kegiatan deep sharing berakhir setelah Kak Kevin menarik kesimpulan dari semua yang kami utarakan. Kemudian menjelaskan sisi negatif dan positifnya. Ya, persis seperti seorang psikolog. Keberadaannya di sini ntah mengapa mengurangi sedikit rasa gundahku. Dan melenyapkan perlahan rasa kesal dan amarah yang membakarku kemarin malam.

***

“Tapi kalau dipikir-pikir bener juga sih. Gue udah sering jadi korban soalnya,” kataku kemudian. “Gue tipe yang gampang cinlok sih. Hahaa.”

“Jadi bener?”

“Apanya?”

“Rama yang lo maksud itu gue?”

“Lo pede banget ya orangnya?”

“Kata seseorang yang gue kenal sih, ‘pede itu baik‘.”

“Itu kata-kata gue!” jawabku seraya menatapnya dengan mata disipitkan.

“Tuh, kan. Lo sendiri yang bilang. Jadi jangan heran kalo gue ikutan pede.”

***

Sebelum kembali ke villa dan tidur, kami mengakhiri malam itu dengan berfoto bersama. Aku berdiri di ujung sisi kanan, di sebelah Prama. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam erat tangan kananku. Ketika aku menoleh….Rama!

***

“Gue cuma nggak mau ada yang berubah,” bisikku lirih.

Rama hanya menoleh ke arahku. Menunggu rangkaian kata selanjutnya yang inginku keluarkan.

“Kejadian kaya gini nyaris tiap semester gue alamin. Tapi yang berhasil ngasih gue pelajaran, cuma kejadian pas semester satu. Waktu itu gue dijodoh-jodohin sama temen gue. Awalnya sih kita berdua biasa-biasa aja. Tapi gara-gara main truth or dare ini, malah jadi musuhan. Sampai sekarang bahkan dia menolak komunikasi dengan gue.”

“Serius?”

“Makanya gue bilang udah biasa. Dan lagian lo masih mau ngobrol gini sama gue, berarti nggak ada masalah.”

“Nah! Berarti emang gue dong, ya?”

“Sial!”

Dan Rama pun tertawa lepas. Dia menang. Lagi dan lagi!

***

Rama menggenggam erat tangan kananku. Berfoto seolah tidak ada apa-apa. Dan pun tidak ada yang menyadari selain aku dan dia. Ya, tidak ada yang sadar ada sepasang tangan yang sedang bergandengan di sini.

Dia menyelipkan secarik kertas di tanganku. Surat?

Seusai berfoto dia langsung melepas genggamannya dan pergi ke dalam. Sedangkan aku, terdiam seribu bahasa setelah membaca sederet kata yang tertoreh di atas kertas itu.

“Senja, bintangnya kereeeeeeeeeen!!!” seru Prama dan Rissa seketika mengalihkan perhatianku.

“Wah, iya, Kak… keren banget! Langitnya kaya senyum gitu,” ujar Ayu yang juga ikut menyaksikan keindahan langit malam itu.

Aku pun mendongak menatap langit. Ada sepasang bintang dengan cahaya yang lebih dominan membentuk sepasang mata. Dan bulan sabit menjadi bibirnya. Tersenyum. Langit tersenyum malam itu. Apakah dia tersenyum untukku?

###

“Truth or dare?” tanya Putra untuk kesekian kali.

“Dare!” jawabku pasrah tapi lantang. Yakin tidak akan ditanyai apa-apa. Paling di suruh nyuci piring.

“Oke, tantangannya lo harus menjawab dengan jujur semua pertanyaan yang diajukan ke elo.” ujar Ibnu seketika.

“Ah, elah. Ujung-ujungnya di suruh milih truth juga ini, mah, namanya.”

“Oke, gue duluan,” segera Putra mengajukan pertanyaan. “Lo tau nggak apa yang tadi dibicarain Prama tentang Rama di luar?”

“Hah?”

“Bukan gitu pertanyaannya,” kata Ibnu. “Lo ada nggak pas Prama ngomongin Rama di luar tadi?”

“Orang dia ngobrolnya sama Prama,” sergah Rama kemudian.

“Ha? Maksudnya apaan sih?” aku balik bertanya. Bingung apa yang sedang mereka bicarakan.

“Padahal tinggal jawab tau atau nggak doang, Nja,” kata Rissa.

“Oh, iya, ya? Nggak tau gue!” jawabku seketika.

“Ini aja deh, jelaskan dengan jujur, apa yang lo bicarain sama Prama di luar tadi,” tantang Rama.

Dan sukses mencekik leherku. Padahal dia, kurasa, sudah mendengarnya langsung. Toh tadi dia, Ibnu dan Putra tiba-tiba muncul di belakangku dan Prama waktu aku dan Prama sedang melakukan sesi curhat di bangku taman di dekat dapur. Untuk apa dia membawanya ke forum terbuka seperti ini?

“Maksudnya?” tanyaku. Ada nada serius yang seolah hanya membawaku dan Rama saja dalam percakapan ini.

“Ya, jelaskan.”

“Ya, gue dan Prama cuma lagi curhat doang.”

“Tentang apa?” Roni ikutan bertanya.

“Banyak banget yang nanya, sih?”

“Ya kan tantangannya begitu, Nja,” ujar Ibnu.

“Sial lo, Nu.”

“Jadi?” tanya Roni, “tentang apa atau siapa?”

“Tentang orang yang gue suka! Puas?!” jawabku jutek.

“Belom! Namanya?” tanya Roni lagi.

“Hih!”

“Namanya siapa?”

“Rama!”

Dan yah, sesuai keinginan mereka dan perkiraanku, semua mata tertuju ke Rama.

“Emangnya yang namanya Rama dia doang?” ujarku segera.

“Jujur, anak mana?” suara Rama menggema. Dengan tatapan seperti itu, dia berhasil menusukku tepat di jantung! Sial!

“Anak kampus.”

“Jurusan?”

“Teknik!”

“Itu Departemen. Yang gue tanya jurusan.”

“Metal!”

“Angkatan?”

“Sebelas!”

Ada hening yang cukup mencekam. Nyaris membunuhku, kurasa.

“Ada berapa orang, Ram, yang namanya Rama?” tanya Ibnu kemudian.

“Banyak.”

“Udah?” tanyaku seraya berdiri dan pergi ke dapur. Membuka pintu belakang dan duduk di bangku taman. Untung Prama mengikutiku dari belakang, paling tidak aku menangis tidak sendirian!

###

Aku membuka kertas yang ia selipkan di tanganku. Tidak berani menaruh harap padanya, maka aku membukanya secepat kilat. Berusaha berharap hanya ada kertas kosong belaka!

Ternyata tidak. Sederet huruf bertinta hitam tertoreh rapi di atas kertas putih itu.

“DepNik, Metal11, cuma gue yang bernama Rama. Rama Fajarendra!”

Dan aku pun membatu. Lalu kucoba mengangkat kepalaku, dan kutemukan dia di depan pintu, tersenyum ke arahku. Kemudian berbalik badan, masuk.

Sedangkan aku? Kembali membaca, berulang kali, sederet kata itu, dan terdiam seribu bahasa karenanya.

Bodoh! Batinku.

– Ade Surya Tawalapi –
Pekanbaru, 4 Agustus 2013
Pusing? Saya juga nulisnya keliyengan
sendiri. Hahaa!

Iklan

5 pemikiran pada “Fajarsenja #4

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s