Aku menghindar dari keramaian. Di tempat seperti ini tidak ada yang bisa menyembunyikanku, memang. Tapi aku punya satu pintu yang bisa membawaku jauh dan meninggalkan mereka dan semua persitegangan yang ntah dimulai sejak kapan. Ntah sejak kapan.

Mengapa semua tidak diperjelas dengan mulut-mulut yang membuat api merah-biru tersulut? Ntah mengapa tidak ada yang berani memulai tanya, “ada apa?”, pun aku tak berani berkata-kata.

Sayangnya tak satupun yang juga mau diam. Tak satupun ingin bungkam. Menebar ke sana-kemari. Mencari pasukan dan membentuk kubu. Tapi cuma bisa diam. Diam dalam artian tak berani bertindak apa-apa. Pun aku hanya bisa diam dan melarikan diri. Tapi tak pernah berhenti diam juga.

Mengapa tak satu pun mulut-mulut itu berani berucap, “Maafkan aku,”? Tak satupun yang mau, paling tidak, mengalahkan ego sendiri. Pun aku menolak untuk berdiam di antara bara api yang masih merah, yang bila terhembus sedikit menyalakan mata api yang menolak padam.

Sadar. Ya, semua sadar dalam penolakan untuk diam. Tapi tak satupun yang sadar apa dikatakan itulah yang harus mereka lakukan. Mereka tak kan pernah diam, tapi sayang, mereka selalu diam. Pun aku menolak berkata duluan, memilih diam dalam permai dendam, tak mau diam dalam kalut penuh dendam.

Pun aku tak ‘kan pernah diam untuk menceritakan dendam yang memuncak, yang mematikan ego yang mengajak untuk berbaikan.

– Ade Surya Tawalapi –
Pekanbaru, 12 Agustus 2013
Masih dalam suasana…. yah, itulah.

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s