Kalau diceritakan dari awal, akan menjadi cerita yang sangat panjang. Karena ini cerita hidup seorang gadis malang yang… ntahlah, saya sendiripun tidak tahu kehidupannya seperti apa dank arena apa. Dirundung malang? Bisa jadi. Dia korban pemerkosaan yang pelakunya adalah saudara kandungnya sendiri. Jarak umur mereka cukup jauh, terpaut 9 tahun. Dan saat pemerkosaan itu terjadi, usianya masih 7 tahun. Muda? Ya, sangat muda!

Lalu, apakah dia tidak melaporkan tindakan saudaranya itu? Ya, dia melapor ketika ayah dan ibunya pulang malam itu. Malam kejadian itu. Tapi, apa yang dilakukan ayah dan ibunya? Ntah rasa sayang berlebihan terhadap si sulung, atau karena terlalu lelah dan ingin segera tidur, mereka mengabaikan si bungsu. Tidak. Mereka tidak marah, hanya sedikit terkejut lalu berkata, “Nggak usah ngawur, deh! Sudah malam. Kakakmu juga sudah tidur dari tadi kan?”. Lalu dia? Kembali ke kamarnya dengan perasaan super kacau. Perawan? Dia belum masuk masa puber. Tapi, tetap saja bisa dikatakan “keperawanan”nya sudah direnggut sedangkan orang yang ia percayai akan melindunginya malah menuduhnya berbicara ngawur.

Ah, saya jadi menceritakan panjang lebar. Ah, tapi tidak apalah, sudah terlanjur.

Waktu itu mereka memang sedang berlibur ke Bali. Mereka tinggal di sebuah villa besar nan indah yang pekarangan belakangnya adalah pantai dan samudera luas. Kebiasaan ayah dan ibunya setiap kali datang ke Bali ini, hampir setiap malam, mereka pergi berpesta. Meninggalkan kedua anaknya di rumah dengan kepercayaan berlebihan pada si sulung untuk menjaga adik semata wayangnya.

Keesokan hari setelah malam pemerkosaan itu.. ah, ya.. saya lupa member tahu. Pemerkosaan itu terjadi di pantai belakang villa mereka. Tidak perlu saya jelaskan seperti apa, yang pasti di sanalah masalah serius itu terjadi. Berbeda dengan malam selanjutnya ketika ayah dan ibu mereka kembali pergi di malam hari. Sang kakak lagi-lagi meminta si gadis untuk melakukan hubungan intim itu. Gadis mungil itu menolak dan berlari ke kamar ayahnya dan mencoba mengunci pintu kamar. Tapi sayang, sang kakak lebih sigap dan mampu menahan dorongan pintu si adik. Gadis itu mencoba menyelematkan diri berlari ke sisi kasur. Tapi, ah… intinya, si kakak berhasil melepas semua pakaian si adik. Dan melakukannya lagi. Tidak ada rumah penduduk yang dekat dari villa mereka. Tidak ada satupun orang di rumah selain mereka berdua. Percuma. Berteriak sekuat apapun, tidak akan ada pertolongan. Menyadari hal itu, gadis tersebut yang mengetahui dengan baik kondisi kamar ayah dan ibunya membuka lemari ranjang yang ada di atas kepalanya. Si kakak yang tertidur lemar di atas tubuhnya tidak menyadari gerakan itu. Dengan penuh hati-hati, gadis tersebut mengeluarkan sebuah pistol dari lemari, dan mengarahkannya ke tubuh si kakak. Ya, pistol. Kesulitan memang ia menembakkan pistol itu, namun dengan usaha keras, akhirnya pelatuk pistol tertarik dan….kalian tahu bagaimana kelanjutannya.

Pembunuhan?
Yang pasti, sang ibu bersikeras menutupi kasus ini. Iya mengurus kematian anak tersayangnya sendiri. Dan mengubur kasus pemerkosaan itu bersama jasad anak lelaki satu-satunya. Dan dia tidak mau tahu apa pun. Tidak mau mendengar pejelasan gadis malang itu, pun tidak mau bertatap muka dengan gadis yang jelas-jelas dilihatnya bersimbah darah di atas kasurnya, terhimpit tubuh kakaknya yang telanjang dan tak lagi bernyawa. Dan tangisannya tak di acuhkan. Dia dilupakan.

Kasus itu mati. Tenggelam seiring menghilangnya ingatan si gadis akibat sebuah kecelakaan, ketika ia mencoba bunuh diri karena putus asa. Ya, bagaimana tidak, korban pemerkosaan yang dituduh sebagai penggoda. Gadis usia 7 tahun mengerti apa tentang dunia seperti itu? Diabaikan ibu, dan tidak pula dibela ayah. Lalu untuk apa lagi ia hidup? Maka ia pun mencoba gantung diri. Namun gagal. Di kamarnya, ia memakukan tali pramuka itu ke langit-langit kamarnya. Ketika ia bersiap menggantung diri, paku itu lepas dan ia pun terhempas. Kepalanya terbentur ujung renjang, dan semua ingatannya hilang bersama darah yang mengalir kencang.

Ia dan keluarga pindah ke kampung halaman ayahnya, Ekaterinburg, sebuah kota kecil di selatan Rusia. 7 tahun ia tinggal di sana, dalam keadaan mengenal dirinya sebagai anak tunggal. Ingatan baru dirancang oleh sang ibu. Ntah dengan niat apa. Tapi sepertinya, rasa benci masih tersimpan di hati sang ibu yang buta hati itu. Katya, gadis itu, dimasukkan ke sekolah asrama di Ekaterinburg. Jauh dari orang tuanya, semakin jauh dari mimpi buruknya.

7 tahun berselang.

Karena berbagai alasan –ibunya seorang wanita karir sedang ayahnya seorang pelukis terkenal, dan tentu saja, berpindah-pindah negara bukan hal yang mustahil bagi mereka. Maka, mereka pun kembali ke  Indonesia. Jakarta, adalah tempat tinggal mereka selanjutnya.

Di sinilah dia menemukan pujaan hatinya. Di sebuah SMA ternama di kota Jakarta, ia akhirnya menemukan lelaki yang bisa menarik perhatiannya tanpa menimbulkan rasa takut. Ya, meskipun Katya lupa ingatan, ia tetap merasa takut dan was-was ketika berhadapan dengan anak laki-laki atau pria dewasa. Mungkin, secara naluriah, tubuhnya menyadari adanya kemungkinan bahaya yang mengancam dirinya, seperti 7 tahun lalu.

Namun berbeda dengan laki-laki yang selalu berhasil membuatnya terdiam kaku dan mengeluarkan cairan darah dari hidungnya. Gatra, ketua kelas di kelas baru Katya, seorang yang pintar dan berwibawa yang mampu membuat Katya selalu mimisan tiap kali bertemu. Aneh memang.

Waktu berlalu. Cinta tak hanya terbit dari serpihan hati Katya yang masih hancur karena perlakuan ibunya yang tak berubah. Namun juga di hati Gatra yang sama terpesonanya kali pertama menatap wajah Katya nan sendu namun bersahabat. Mereka pun menjalin kasih. Selama SMA, semua berjalan dengan baik. Ada cinta yang akhrinya Katya kenal, meski tidak dari kedua orangnya tapi cukup untuk membuatnya nyaman berada di keramaian. Cukup untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya di depan mata para lelaki yang sebelumnya ia takuti. Cukup untuk membuatnya tenang dan leluasa menceritakan semua yang terlupakan, yang akhirnya ia ingat setahun lalu ketika ia terjatuh dari tangga gedung asrama. Serpihan mimpi buruk berdatangan. Namun, pertemuannya dengan Gatra, memberinya keberanian untuk bersuara. Tidak di depan kedua orangnya, tapi di depan Gatra ia curahkan segalanya. Ada harapan kekasihnya akan percaya padanya dan memang begitulah adanya. Gatra percaya pada Katya sepenuh hati hingga tiba hari semua harus berakhir. Kepercayaan hilang, lagi-lagi karena dimakan ego dan emosi. Lenyap bersama uap yang terbang akibat darah yang mendidih.

Mereka sekolah di satu kampus yang sama. Katya memang selalu menjadi idola. Kecantikannya tiada dua. Kalau dipikir-pikir, jadi tidak heran jika saudara kandungnya sendiri pun terangsang. Bukan karena pakaiannya yang seksi, namun…. Ah, ntahlah! Katya memang gadis yang berbeda. Dia berbeda!

Katya pun menjadi incaran teman kampusnya. Namun, Gatra masih percaya diri bahwa dialah Raja. Hingga suatu hari ia mendapati Katya sedang berciuman, mesra kelihatannya, di bawah tangga gedung kampus. Katya yang menyadari kehadiran Gatra langsung berusaha melepaskan diri dari dekapan lelaki itu dan mengejar Gatra yang segera meninggalkan mereka. Kata “putus” pun terucap. Bahkan keluar kata-kata yang lebih menyayat, Gatra melukai hati yang baru separuh sembuh itu dengan tak berperasaan. Tidak perlu Katya menjelaskan apa-apa, katanya. Dan kini ia tak heran jika dulu ia menjadi korban pemerkosaan. Gatra menjadi sekutu ibu Katya. Menuduh Katyalah yang menyebabkan pemerkosaan itu terjadi. Katyalah yang sebenarnya menginginkannya.

Menangis?

Jika ada yang lebih dari itu yang bisa Katya lakukan, maka pasti akan ia lakukan. Hancur sehancur-hancurnya. Dan Katya pun melarikan diri. Menghilang dari peredaran. Bahkan kedua orangtuanya tak tahu ia ada dimana.

Sebulan.

Katya kembali. Dengan semangat yang sama ketika pertama kali Gatra mengenal Katya. Seolah Katya kembali menjadi orang baru yang baru ia kenal dan tidak pernah memiliki kenangan apapun dengannya. Gatra lebih shock. Sebab, gadis yang masih ia cintai itu, bahka terlihat tak kehilangan apa-apa. Padahal sesungguhnya, jauh dilubuk hati Katya, masih terasa perihnya setiap kali ia bertemu Gatra. Kenangan manis dan harapan indah muncul dan menghantui setiap langkahnya. Tapi bisa apa dia? Tidak ada. Katya tak bisa apa-apa termasuk menyelamatkan rasa cinta yang sesungguhnya masih ada dari kekasihnya.

Apa kalian berpikir kasus pemerkosaan itu hanya terjadi sekali-dua kali saja? Tidak.

Dulu, sewaktu perpisahan SMA, kelas Katya dan Gatra mengadakan acara liburan bersama. Bali adalah tujuan mereka. Orang tua Katya dengan sukarela mengizinkan mereka memakai villa keluarga dengan bebas dan leluasa. Dan semua itu, mengingatkan Katya akan kejadian suram masa lalunya. Waktu itulah semua rahasia terbongkar kepada Gatra. Ketika baru saja terjadi kasus pemerkosaan terhadapnya lagi, yang dilakukan oleh teman mereka sendiri. Yang nyaris terbunuh juga, oleh Katya yang menyimpan pisau lipat di kantung celananya. Laki-laki itu dilarikan ke rumah sakit. Sedang Katya dihibur oleh teman-temannya. Namun ia selalu bisa menyembunyikan rasa takut dan traumanya. Ia bahkan tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Menjelang pagi, ia berjalan ke tepi pantai di belakang villa. Tanpa ia sadari Gatra mengikuti. Dan mendapati Katya tercenung. Melamun hingga tak sadar Gatra sudah duduk di sampingnya. “Semua baik-baik aja,” ujar Katya setiap kali Gatra bertanya. “Udah pernah kejadian, kok,” katanya mengawali cerita ingatan masa lalunya.

Lalu, bulan-bulan setelah ia putus dari Gatra. Katya dan Gatra tergabung dalam satu organisasi yang sama. Dan disanalah kejadian selanjutnya. Pelakunya senior mereka. Dan Katya sempat hamil akibat pemerkosaan itu. Namun gugur karena ia memaksa menggugurkan kandungan tersebut dengan minum alkohol terus menerus dan merokok dan makan tak teratur, sesuka hati, hingga akhirnya ia pingsan di ruang kesekretariatan. Ketika dilarikan ke rumah sakit dan diperiksa, bayi di dalam kandungannya sudah tak bisa tumbuh.

Pemerkosaan hingga hamil pun terjadi lagi, ketika Katya pindah ke Australia. Pengguguran bayi sebelumnya membuatnya benar-benar hancur dan tak punya muka untuk bertemu dengan teman-temannya, terutama Gatra. Maka ia memutuskan untuk pindah ke Australia. Tapi, ah… ntahlah. Kesialan itu rupanya tak tinggal di Indonesia, melainkan ikut kemanapun kakinya melangkah. Dosennya yang melakukannya kali ini. Hingga ia hamil lagi. Dan bertengkar lagi dan lagi dengan ibunya. Ntah rasa putus asa yang keberapa. Akhirnya Katya mencoba bunuh diri lagi. Kali ini dengan obat-obatan. Ia telan semua obat-obatan yang ada di rumah. Yang terjadi, bukannya ia mati, malah keguguran sekali lagi dan ia nyaris tak bisa bergerak. Tubuhnya mati tapi ia masih bisa bernapas, masih bisa melihat. Namun tak bersuara, tak bergerak. Diam seperti boneka.

Kabar ini sampai ke telinga Gatra. Ia yang waktu itu telah menemukan tambatan hati lain sedikit terguncang. Mengetahui bahwa masih saja kenyataan buruk itu menggentayangi gadis yang bisa dikatakan masih memiliki sepatuh hatinya. Ingin rasanya ia memeluk Katya seerat mungkin, berharap dengan begitu ia akan terlindung, akan selamat dari gangguan laki-laki yang haus akan tubuhnya. Herannya, Gatra sendiri tak tergoda untuk menikmati Katya. Sedikitpun tak terpikir untuk ikut ambil bagian. Ntah karena cintanya yang tulus, ntah karena hal lain yang mungkin dia sendiri tidak tahu mengapa.

Katya dibawa kembali ke Indonesia. Dalam keadaan bak boneka. Dan ibunya mempertemukannya lagi dengan Gatra. Dan seketika mata Katya bergerak. Menyadari keberadaan orang yang mampu membuatnya nyaman namun telah mencampakkannya dulu. Mencampakkannya karena kesalahpahaman semata. Karena sesungguhnya saat itu pun Katya diserang oleh sahabat Gatra, dan memaksa Katya untuk berciuman di bawah tangga itu. Ya, semua hanya kesalahpahaman belaka yang tak satupun dari mereka mau mengklarifikasinya. Katya terlalu takut, sedangkan Gatra terlanjur tak percaya lagi dengan gadisnya itu.

Berbulan lamanya. Hampir setiap hari Gatra bersama kekasih barunya, Shoujo, datang ke rumah Katya. Membantu terapinya. Sedikit demi sedikit Katya sudah mau berbicara, dan sudah bisa bergerak. Dan lama kelamaan Katya pun sudah mampu bergerak seperti orang sehat.

Dan terjadilah sebuah peristiwa. Di suatu malam ketika Gatra datang ke rumah Katya sendirian. Shoujo sedang ada urusan hingga tidak bisa ikut datang. Sedangkan kedua orang tua Katya sedang keluar kota. Bukan, bukan Gatra melakukanya. Tapi sebaliknya, Katya. Dia member obat tidur pada minuman Gatra, dan menggiringnya ke kamar ketika Gatra mulai tak sadarkan diri. Ya, awalnya memang, Katya ingin menyerahkan diri pada Gatra. Namun ia gagal. Karena belum pernah ia berlaku murahan seperti ini. Setiap kalinya ia yang diserang, tak pernah menyerang. Maka aksinya malam itu gagal. Gatra yang hanya bertelanjang dada tidur di sebelah Katya yang tak berbusana tanpa terjadi apa-apa di antara mereka. Tak terjadi apapun hingga pagi datang dan Gatra menemukan Katya tidur di sampingnya. Terkejut ia pun segera bangkit dan berdiri. Katya pun terbangun. Dan tersenyum. Panik, tentu saja. Karena seketika ia teringat oleh Gatra adalah kekasihnya yang sekarang. Kalau memang ia melakukan sesuatu kepada Katya, berarti dia telah menodai cintainya pada Shoujo. Itu yang terpikir olehnya. Namun Katya segera mengklarifikasi. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada. Hanya rencananya gagal. Dan semua masih baik-baik saja.

Namun ternyata salah.

Semua tak lagi bisa baik-baik saja. Kepercayaan yang tinggal sedikit di hari Gatra benar-benar lenyap! Ia semakin yakin, bisa jadi semua laki-laki itu adalah korban, bukan pelaku. Bisa saja Katya melakukan hal yang sama kepada mereka seperti apa yang Katya lakukan padanya sekarang. Maka, Gatra pun segera mengenakan baju dan meninggalkan Katya. Tanpa berkata apa-apa, tanpa berpesan apa-apa.

 Terakhir. Ya, sabar, ini yang terakhir.

Pagi hari ketika Gatra pulang, selang sejam kemudian, ibu dan ayah Katya pulang. Merea datang bersama teman ibunya. Dan hari itu juga, Katya bertunangan rupanya, dengan anak seorang teman ibunya. Dan sebulan kemudian, mereka menikah.

Mungkin… ini perkiraan saya saja. Sepertinya Katya masih ingin bersama Gatra. Mungkin dengan cara membuat Gatra menghamilinya, akhirnya mereka bisa menikah. Namun yang terjadi tidak sesuai kehendaknya. Ia tetap dinikahkan dengan lelaki lain yang ia kenal pun tidak.

Awal pernikahan mereka memang sangat indah. Seperti pengantin-pengantin baru lainnya. Mereka terlihat sangat mesra dan bahagia. Terlebih ketika Katya akhirnya hamil. Kebahagiaan menyelimuti keluarga kecil itu. Namun ternyata hal ini tak berlangsung lama. Ntah mendengar kabar dari siapa, Kevin, suami Katya akhirnya mengetahui masa lalu Katya yang begitu suram. Harapan Katya jika akhirnya suaminya tahu adalah ia akan menerima Katya dan lebih melindunginya. Namun yang terjadi bukan demikian. Lelaki itu tak lagi pernah pulang ke rumah. Kalupun pulang, hanya marah-marah saja dan mengata-ngatai Katya. Pelacur, kata yang paling sering ia keluarkan yang sudah pasti tak hanya menghancurkan hati rapuh Katya, tapi…. Ah, hatinya sudah tak berbentuk lagi. Hancur lebur!

Maka, setelah bayi mereka lahir, Katya segera meminta cerai pada suaminya. Kevin yang bahkan belum pernah melihat anaknya, malah menuntut hak asuh anak. Sejujurnya, Katya tak ingin melepas anaknya, namun apadaya. Ia bahkan tak tahu dimana kedua orangtuanya saat ini. Setelah menikah, mereka pergi entah kemana. Tak ada kabar dan tak bisa dikabari. Ia sendiri sekarang. Sendiri di kota yang memberinya mimpi buruk beruntun hingga saat ini. Dan, ia tak punya rumah, tak punya pekerjaan. Yah, kalau dipikir-pikir, tidak layak mendapatkan hak asuh anak. Dan benar saja, Katya kalah dipersidangan. Ia resmi bercerai dengan suaminya, dan juga anaknya.

Dan hari itu juga ia langsung terbang ke Jakarta, menemui  kekasih hati yang masih memiliki hatinya yang hancur lebur itu sepenuhnya. Masih berharap akan adanya harapan. Masih berharap akan adanya titik terang dari kegelapan dunianya muram.

***

Aku duduk di salah satu bangku meja makan di kantin itu. Mencari. Ya, kepalaku sibuk mencari-cari seseorang yang sangat ingin kutemui. Ada segudang cerita yang ingin kucurahkan padanya. Mungkin bisa membuatku menangis sejadi-jadinya, tapi sesudah itu aku pasti sangat lega. Sudah lama aku ingin merasakan berjalan kesana-kemari dengan ringan, tanpa beban di hati maupun kepalaku.

Aku memperhatikan bagian kantin yang bisa jadi menjadi tempat favoritnya. Pertama kali aku bertemu dengannya di kantin ini, dia berada di sana. Sudut timur kantin baru. Aku berharap penuh pada setiap lelaki yang duduk membelakangiku. Ku harap itu dia, yang lalu akan berbalik badan dan tersenyum mendapatiku duduk menuggunya di sini.

***

– “Hai! Ngapain?”

– “Nggak ada, cuma iseng aja main-main ke sini,”

– “Mimisan lo, Ya!”

– “Eh?”

– “Masih aja… Hahaa,”

– (hanya tersenyum)

– “Mana si kecil?”

– “Sama ayahnya,”

– “Loh? Kok?”

– “Iya, hak asuh jatuh ke tangannya. Baru aja sidangnya selesai,”

– “Terus?”

– (menggeleng sambil tersenyum kecut)

– “Nggak diusahain?”

– “Buat apa?”

– “Ya dia anak lo, kan?”

– “Anak ayahnya juga,”

– “Iya sih, tapi…,”

– “Gua balik dulu, yah… Daah!”

****

– “Nggak disusulin?”

– “Ngapain?”

– “Ya… kali aja, kan, masih ada yang mau dia omongin tapi ga bisa ngomong di sini?”

– “Biarin aja deh,”

– “Bayinya mana?”

– “Sama ayahnya. Udah resmi cerai dia,”

“Terus anaknya? Sama ayahnya, gitu?”

– “Yoi,”

– “Wah, janda dong dia sekarang?”

– “Kenapa?? Takut gue direbut sama dia ya?”

– “Dih, ngapain? Lagian emang dia bisa rebut lo dari gue?”

Gatra terhenyak mendengar pertanyaan Shoujo, “benarkah ia tak bisa merebut hatiku lagi?”.

***

 – Ade Surya Tawalapi –
Depok, 24 Agustus 2013

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s