Hari pertama kuliah dihabiskan dengan masuk kelas, duduk manis selama 15 menit, loncat ke meja dosen dan isi absen, dan cabut. Tidak ada dosen, tidak ada tugas. Hari pertama.

Sia-sia? Saya mencoba melihat dari sisi lain. Mungkin kami rugi beberapa waktu untuk mencuri ilmu di matakuliah tertentu. Tapi, saya merasa ada ilmu-ilmu lain yang bisa di dapat. Di luar kelas misalnya. Atau di dalam kelas. Seperti…. belajar untuk tersenyum, belajar untuk selalu ceria, belajar mendengarkan, dan belajar peduli dengan orang lain. Belajar berbasa-basi, belajar mengisi waktu ‘kosong’ dengan hal-hal lain yang positif: main game misalnya (?) hahaa.

Berbeda dengan hari kedua. Tentu saja. Karena dosennya juga ‘berbeda’! Meski belum resmi masuk ke pelajaran, kami, saya khususnya, memperoleh hal yang mungkin takkan bisa didapat jika dosennya bukan beliau. Kalau saja dosennya -yang bukan beliau- memilih langsung masuk ke pelajaran, tentu saja tidak ada wejangan yang membuat kami akhirnya.. ya, seharusnya… menjadi lebih berani dan percaya diri dari sebelumnya. Bukan hal yang istimewa. Karena bagi saya sendiri, apa-apa yang beliau katakan, sudah pernah ditanamkan ke diri saya oleh banyak orang. Tapi bibitnya mungkin belum tumbuh dan belum berakar. Ntahlah. Jadi, peran wejangan dari salah satu dosen favorite saya ini, di pertemuan pertama kami, adalah sebagai pengingat. Mengingatkan saya bahwa…

1. Tidak ada orang yang langsung bisa menjadi pemimpin yang baik dan bijak tanpa terlebih dahulu belajar menjadi pemimpin atau bahkan gagal. Gagal adalah keberhasilan yang tertunda.

2. Adalah masalah jika kita berfikir, “gimana mau jadi ketua kelas kalau ngurus diri sendiri aja nggak becus?”, karena dengan memimpin orang lain, kita juga akan belajar mengatur diri sendiri, ego dan emosi.

3. Di sini, kita semua belajar, termasuk belajar menjadi pemimpin, pemimpin untuk orang lain, pun untuk diri sendiri.

4. Caranya? Belajarlah memberanikan diri untuk keluar dari zon nyaman.

5. Yang paling menyelekit di jantung saya adalah ketika beliau berkata, “Sibuk menghidupkan kita.” Karena saya merasakannya sendiri. Dengan sibuk dan segala kesibukan yang saya alami dan jalani semester lalu dan akan saya jalani juga di semester ini, saya merasa lebih hidup dan bernyawa.

6. Menjadi pemimpin, sibuk? Jadi takut keteteran? Ketahuilah, tidak satupun pemimpin yang tidak sibuk!

7. Mengingat kelemahan membuat kita rendah hati. Namun, terlalu sering mengingat kelemahan membuat kita rendah diri.

8. Mengingat kelebihan membuat kita percaya diri. Namun, terlalu sering mengingat kelebihan membuat kita tinggi hati.

9. Yang terpenting, kenali dan jadikan kelemahan kita sebagai kelebihan.

10. Dan belajarlah untk berpikir, termasuk memikirkan cara menjadikan kelemahan sebagai kelebihan. Belajarlah menganalisa. Belajar menyelesaikan masalah dengan bijaksana.

– Bu Mina Elfira –
Depok, 3 September 2013

🙂

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s