Aku mempelajari beberapa proposal yang diberikan Ibu padaku. Siang itu, Kak Kani pulang membawa tumpukan proposal, lalu menyerahkan beberapa buah kepada Ayah dan Ibu. Aku diminta mempelajari dengan sungguh-sungguh semua proposal yang diberikan Ibu kepadaku pada malam harinya.
Beliau bekata, “Mulai dengan basmallah, karena ini masalah yang serius.”

 


Minggu ke-3, April  20xx

                Aku hanya seorang sarjana lulusan S2 yang menolak bekerja. Lebih memilih pulang ke rumah dan menemani Ayah dan Ibu. Menggantikan posisi Ibu sebagai pekerja rumah tangga. “Itung-itung latihan jadi istri,” kataku setiap kali kakak-kakakku bertanya mengapa aku tidak mencari kegiatan di luar dan malah lebih memilih tinggal di rumah saja.

“Minimal jadi guru bimbel, Dek,” kata Kak Firda suatu hari.

“Kalau ada yang mau diajarin, datang ke rumah aja. Toh, rumah ini terlalu besar dan sepi untuk kami bertiga. Pasti tambah sepi ‘kan kalau aku juga harus pergi ngajar setiap hari? Kasihan Ayah dan Ibu,” jawabku.

“Kan tidak harus setiap hari dan tidak seharian penuh,” sanggahnya.

“Aku hanya ingin di rumah, melakukan apa saja yang bisa kulakukan untuk Ayah dan Ibu sebelum nanti aku dibawa pergi.  Lagian, aku juga udah punya kerjaan, kan, di rumah?”

“Apa?”

“Editor blog?” jawabku seraya tertawa. Kak Kani yang waktu itu juga bersama kami hanya meringis mendengar jawabanku. Sedang Kak Firda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Ya, aku seorang blogger yang tidak terlalu pandai dan membenci pekerjaan serius. Aku lebih senang bekerja di rumah, membantu Ibu membersihkan rumah, memasak, mencuci piring, mencuci baju dan berkebun. Sedangkan waktu istirahatku kuhabiskan di depan laptop, melanjutkan pekerjaan yang tertunda: menyunting blog. Aku menerima tawaran dari seorang temanku, menjadi blog editor. Katanya sesuai dengan hobi, kemampuan dan kemauanku. Dan tentunya aku  mendapat bayaran meskipun tidak banyak. Di lain waktu, aku melewati sore bersama Ibu, sekedar bercerita-cerita sambil makan cemilan, atau sambil membersihkan pekarangan rumah. Selebihnya, mungkin menonton televisi, membaca buku, koran, artikel atau…… tidur. Sepertinya lebih sering yang ini, karena aku pecinta tidur!

Bisa dikatakan, aku tidak seutuhnya duduk di rumah saja. Beberapa kali aku mengikuti kegiatan di forum media tempat Kak Kirzi dan Kak Mala, istrinya, bekerja. Aku juga sempat mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan rumah singgah milik Kak Firda dan suaminya. Tapi, kagiatan ini tidak rutin dan tidak menuntut keharusan. Paling hanya sekali-dua kali dalam seminggu. Tidak seperti pekerjaan yang ditawarkan kakak-kakaku, yang semuanya menyita waktu lebih banyak.


Berkaitan dengan kedatangan Kak Kani siang itu dengan membawa banyak sekali proposal pernikahan, secara tidak langsung, aku sendirilah yang memintanya. Sekitar pertengan Maret lalu, ntah angin apa yang membuatku nyeletuk, “Aku ingin menikah,”, di meja makan, saat makan malam bersama keluarga besar. Ayah, Ibu, kakak-kakakku beserta pasangan nyaris tersedak serempak. Terang saja semua mata langsung tertuju mataku. Gerakan mereka pun terhenti seolah aku telah menekan tompol pause. Lalu beberapa saat kemudian, gelak tawa pacah. Aku hanya memutar bola mataku dan melanjutkan makan.

“Menikah sama siapa?” tanya Kak Kani.

“Nggak tau,” jawabku polos.

Dan mereka pun tertawa lagi. Baiklah….

Lah? Terus gimana ceritanya mau nikah?” tanya Kak Tami, istri kakak sulungku, Kak Fazhan.

“Ya, dicari calonnya.”

“Mau dijodohin?”

“Hahahahaaa….” aku hanya tertawa dan lalu mengibaskan tangan. “Sudah… makan lagi, makan lagi…” kataku. Mengalihkan pembicaraan? Bukan, tapi kupikir bukan waktu yang tepat untuk membahasnya.

Dua hari kemudian, ketika semua kakak-kakakku sudah kembali ke rumahnya masih-masing, Ayah dan Ibu mulai menginterogasiku. Dan aku sudah siap! Sudah sejak malam itu aku bersiap jika sewaktu-waktu pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul.

“Kamu beneran mau nikah?” tanya Ibu memulai.

“Gadis mana sih, Bu, yang nggak mau nikah?” aku balik bertanya.

“Ya sudah, cari pacar sana,” jawabnya. Aku hanya tertawa. Pacar? Lagi? Tidak. Apa tidak ada cara selain pacaran atau jodoh-jodohan?

Sore mendung menampiaskan cahaya samar dari senja yang lelah. Aku, Ibu dan Ayah –seperti biasa–  duduk di teras rumah, menunggu azan Magrib. Aku membiarkan menit berlalu dalam diam. Masih menimbang, pacaran atau ta’arufan? Kalau bisa sih langsung nikah aja! Batinku.

“Apa aku ngikutin Kak Kani aja, ya, Bu?” kataku kemudian.

“Maksudnya?”

Ta’arufan?

“Ya terserah kamu. Kamu maunya gimana?”

“Maunya, ya, nikah sama orang yang aku suka,” jawabku lantas tertawa. “Terus gimana dapetin proposalnya?” sambungku.

“Nanti, biar Ayah yang tanya ke Kak Kani. Dia pasti lebih mengerti.”

Begitulah. Hingga keesokan harinya Kak Kani datang membawa proposal-proposal tak bernama dan tak berfoto itu. Ini juga syarat yang kuutarakan pada Ayah dan Ibu sore itu. Aku tidak ingin mengetahui nama maupun rupa si pengirim proposal. Pun begitu aku, tidak akan mencantumkan nama dan foto di CV-ku. Karena bukan fisik yang ingin kupertukarkan, bukan fisik yang ingin kulihat.


Beberapa hari kemudian aku pergi ke rumah Kak Kani dan mengembalikan semua proposal itu. Semuanya menarik. Tapi tak satupun dapat menyentuh hatiku.

“Mau lihat fotonya dulu? Mungkin ada yang menarik hatimu,” kata Kak Yaya, isti Kak Kani. Aku hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala. Dan sepertinya dia pun mengerti apa yang ada dipikiranku.

“Proposal kamu sendiri bagaimana? Sudah selesai?”

“Belum. Aku akan merampungkannya setelah menemukan proposal yang cocok denganku.”

“Kalau begitu mau sampai kapan?”

“Sampai Allah berkata, ‘ini saatnya,’” jawabku.

“Ya sudah kalau begitu. Nanti Kakak sampaikan ke Kak Kani, mungkin dia masih punya kenalan lain.”

Setelah menyeruput teh dan bermain beberapa lama bersama keponakan kecilku, akhirnya aku undur diri. Saat akan pergi, di depan pagar aku berpapasan dengan pengendara motor yang sepertinya juga ingin bertemu dengan Kak Kani. Tidak ada pikiran lain selain, mungkin itu murid mengaji Kak Kani. Tidak ada firasat, tidak ada curiga.

Seminggu kemudian, Kak Kani datang lagi dengan membawa proposal. Kali ini tidak sebanyak kemarin. Hanya ada dua proposal.

“Sudah dari seminggu yang lalu murabbi-nya menyerahkan proposal ini. Tapi Kakak selalu lupa mengantarkannya ke sini.”

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil membolak-balikkan proposal itu tanpa membaca cerita yang mereka tulis. Ya, aku memberi syarat sebagai pengganti identitas: tulisan. Tidak betema, serupa karangan bebas. Ntah karena naluri seorang penyelam susastra aku sendiri tidak mengerti. Hanya aku ingin melihat calon suamiku bisa sejalan denganku atau tidak melalui tulisannya.

“Oke, nanti aku pelajari. Kakak sudah makan?”

Dan hari itu, Kak Kani singgah lebih lama dari biasanya. Menceritakan tentang semua calon-calon yang kemarin mengirimkan proposalnya padaku. Aku hanya menganggukkan kepala. Tidak berkomentar apa.


Satu dari dua proposal itu sama sekali tidak menarik minatku. Ntah mengapa aku hanya membaca proposal pertama yang berjilid kertas hijau. Apa karena warna kesukaanku? Haha, kurasa tidak.

Aku mempelajarinya, membaca berulang kali tulisannya. Menarik. Ya, semua tulisan mereka menarik. Memberiku inspirasi untuk menulis. Maka selanjutnya, aku meninggalkan satu proposal lagi di samping meja rias, dan menenggelamkan diri di dunia maya: menulis di blog.

Dan proposal itu, terlupakan.


Minggu Ke-2, Apri, 20xx

                “Bagaimana? Sudah ada jawaban?” tanya Kak Kani di suatu siang melalui telepon.

“Aku baru mempelajari satu proposal,” jawabku.

“Selama hampir dua minggu?” tanyanya, heran.

“Ya, paling nanti malam aku mulai membaca proposal selanjutnya.”

Dan malam itu, aku memaksakan diri membaca proposal kedua. Mungkin jenuh? Atau merasa putus asa? Selama seminggu sebelum dua proposal itu datang, pun, hatiku sudah berkata, “ya sudahlah,”. Antara pasrah atau berputus asa. Mungkin itu sebabnya aku tidak terlalu berminat mempelajari proposal yang terakhir ini –yah, semoga saja yang terakhir.


Ada getaran yang membuatku ingin menangis tatkala kucermati baris pertama tulisan itu. Dan sekujur tubuhku terus menggigil setiap kali kata-kata itu kubaca. Bukan, bukan cerita sedih yang ia tulis. Pun tidak pula kisah romantis. Dia tidak menulis cerita seperti apa yang ditulis pengirim-pengirim sebelumnya. Hanya sebuah surat. Sebuah surat yang ditujukannya padaku.


Assalamu’alaikum, Kak Kani?”

Wa’alaikumussalam warahmatullaah, ya? Ada apa, Dek?”

“Besok siang, aku, Ayah, Ibu dan Kak Fazhan ke rumah Kak Kani, ya?”

“Sudah menemukan jawabannya?”

“Belum, tapi aku tertarik dengan proposal bermap jingga. Dan aku meminta Ayah untuk bertemu pengirimnya.”

“Lah? Kamu sendiri gimana?”

“Nanti, setelah Ayah bertemu dengannya, baru aku bisa menentukan.”


Keesokan harinya, kami pergi ke rumah Kak Kani ba’da Zuhur. Aku langsung menuju taman di belakang rumah, bermain bersama keponakanku. Sedangkan Ayah, Ibu dan kakak-kakakku menunggu kedatangan si pengirim proposal.

Sesuai dengan janji, sekitar pukul 3 kurang beberapa menit, ia tiba. Aku mendengar suara motor dan sekilas mendengar suaranya yang pelan disambut suara Ayah dan Ibu. Penasaran? Tentu saja. Ayah dan Ibu terdengar akrab sekali dengan orang itu. Siapa dia??

“Ayah dan Ibu tidak bisa memberikan komentar lebih,” kata Ayah di perjalanan pulang ke rumah. “Karena cocok tidaknya hanya kamu yang bisa menilai. Ini akan berhubungan dengan masa depan kamu, kamu yang akan menjalaninya.”

Hening beberapa saat. Aku tetap diam, mendengarkan Ayah. Tidak mau berkomentar apa-apa dulu.

“Hanya saja, sesuai permintaan kamu, Ayah dan Ibu sudah bertemu dengan pengirim proposal itu, dan Ayah menyarankan, temuilah dia.”

Aku hanya bisa melongo. Tidak ada pendapat ataupun komentar, hanya sebuah saran. Bimbang? Yang kurasa hanya deg-degan.

“Kalau Ayah sudah bilang begitu, ya sudah. Lakukan. Tapi CV-mu harus tetap dibikin, ya. Untuk dipelajarinya juga.”

Malam itu langsung saja aku menelpon kakak-kakakku. Meminta pendapat. Dan jawabannya tidak jauh beda. Mengiyakan saran dari Ayah. Maka, dengan basmallah, aku dan Ayah menentukan hari pertemuan dengannya.


Mei 20xx

                “Assalamu’alaikum,

Kudengar suara seorang lelaki di depan pintu. Ayah pergi membukakan pintu diiringi langkah kaki Ibu. Aku masih terhenyak di atas kasur. Hari ini pertemuan pertama dengan si pengirim proposal. Ya, aku belum mengetahui namanya. Masih dirahasiakan –lagi-lagi aku yang memintanya, ntah atas dasar apa.

Aku bangkit dan bercermin –berulang kali! Cemas, takut, malu, dan ah! Semuanya bercampur aduk. Sedangkan suara yang kudengar dari luar sama sekali tak ku kenal. Ada dua suara lelaki, yang satu sangat lantang dan yang satu tak terlalu jelas, samar. Satu lagi suara seorang perempuan. Ya, dia memang berjanji tidak akan datang sendirian. Dan aku semakin tidak berani untuk keluar.

“Ayaa…,” panggil Ibu sambil mengetuk pintu kamarku.

“Ya,” jawabku dan membukakan pintu.

“Orangnya sudah datang.”

“Iya, aku dengar kok. Tapi kok rame banget?”

“Iya, dia datang sama adik-adiknya.”

“Kirain teman-temannya.”

“Ya, sudah. Ayo buruan..,”

Aku menarik napas sekali lagi, dan melangkah keluar. Berjalan sambil menundukkan kepala dan menggenggam erat CV-ku. Setibanya aku di pintu ruang tamu, ku angkat kepalaku dan…


Apa kau percaya dengan takdir? Apa kau percaya dengan pita merah yang direkatkan Tuhan pada kita?

********************************                                           ********************************

Maret 20xx

Aku mendengar kabar itu dari adik laki-lakiku. Dia lalu memintaku untuk menulis sebuah proposal . Awalnya aku menolak, karena sesungguhnya aku bosan. Yang kupikirkan saat itu adalah, jika memang aku berjodoh dengan gadis mana saja, maka aku akan bertemu dengannya dengan cara apa pun. Tapi aku berharap tidak dengan cara seperti ini. Mengirimkan proposal? CV? Ah…! Meski aku cukup mengerti, tapi ntah mengapa tidak terlalu masuk ke dalam hatiku. Aku berharap ada cara lain.

“Baca dulu syaratnya,” ujar adikku.

“Syarat? Menulis CV pakai syarat? Memangnya ikutan lomba menulis?”

“Lah, memang, ‘kan? Lomba menemukan jodohmu.”

“Saingannya siapa?”

“Waktu dan lelaki lain yang juga ingin menjadi suaminya.”

Aku memilih untuk tidak melanjutkan dan menerima selembar kertas dari adikku. Membacanya dengan saksama. Aku mengkerutkan dahi saat membaca beberapasyarat yang tertulis di kertas itu. Ini syarat yang berbeda; hanya ada 3 syarat khusus langsung dari perempuan itu. Pertama tidak menuliskan identitas seperti biodata pribadi, kedua tidak menyematkan foto, dan yang terakhir menuliskan satu buah tulisan.

“Ini, beneran untuk proposal nikah?” tanyaku, ragu.

“Ya, menurut Kakak?”

“Tapi syaratnya….”

“Sudah, kerjakan atau tidak sama sekali!” dia memotong kalimatku dengan nada tegas. Membuatku terdiam.

Maka aku mulai menuliskan apa yang harus kutuliskan, dengan tidak berharap banyak.  Aku bahkan tidak tahu nama perempuan itu. Kakaknya saja aku tidak tahu. Tidak kenal lebih tepatnya. Adikku bertemu dengannya di sebuah seminar di SMA saat Kak Kani, teman adikku itu, mengisi sebagai pembicara.

Aku menyelesaikan proposal itu dalam kurun waktu kurang dari sehari. Terkesan tidak serius, tapi hanya itulah yang terpikir olehku.  Berulang kalipun aku membaca tulisan-tulisan itu, tetap tidak ada tambahan yang terlintas di kepalaku. Akhirnya aku menyerahkan proposal itu kepada adikku, dan dia mengurus semua prosesnya.


“Besok, aku akan mengantar proposalmu, Kak. Mau ikut, tidak?” tanya adikku setelah membaca berkasku.

“Tidak perlu. Titip salam saja untuk Kak Kani, semoga aku tidak mengecewakannya.”

“InsyaAllah.”

Dan esoknya, adikku pun pergi.


Dua minggu telah berlalu semenjak adikku  mengirim proposal itu. Tidak bisa kupungkiri, ada sedikit harap, tapi hatiku tetap menampiskannya. Sampai tibalah kabar baru dari adikku, tentang proposal itu.

“Keluarganya ingin langsung bertemu, Kak.”

“Apa? Aku saja belum membaca CV-nya.”

“Kakak tidak membaca syaratnya dengan teliti, ya? Di situ tertulis dia akan mengirimkan CV-nya setelah ia memutuskan, ‘ya’.”

Lah? Tapi keluarganya mau bertemu denganku?”

“Ya, katanya ini salah satu caranya menilai.”

“Berarti dia juga ada di sana?”

“Tidak, hanya Kakak dan keluarganya, tanpa dia.”

Bingung! Baru kali ini mendengar model ta’aruf yang seperti ini. Sejauh pengetahuanku, kedua belah pihak harus sudah mempelajari CV calonnya masing-masing, baru setelah itu diadakan pertemuan. Tapi inii…?

Esoknya, aku terpaksa berangkat sendiri ke alamat yang ditulis adikku, karena begitulah permintaan pihak perempuan. Semena-mena, gerutuku. Tapi kemudian, aku mencoba untuk memberanikan diri dan ikhlas, lalu pergi ke sana dengan mengendari motor. Sesuai perjanjian, pukul 3 aku harus sudah tiba di rumah Kak Kani.


Minggu Ke-2, April 20xx

                “Assalamu’alaikum…

“Wa’alaikumussalam warahmatullaah…, ayo masuk!” suara yang ntah mengapa terdengar tidak asing di telingaku itu mendekat dan membukakan pintu.

Aku terdiam untuk beberapa saat.

Lelaki itu, dulu sempat aku mengenalnya saat aku masih kuliah. Gadisnya-lah yang dulu sempat mendekam di hatiku, lalu pergi. Dan sekarang, aku berdiri dihadapannya, dipertemukan oleh sebuah proposal yang dikirimkan oleh adikku sendiri. Beginikah cara-Mu mempertemukanku dengannya lagi, Rabb?

                “Ya, ampuun… Farza! Jadi kamu?” tanya lelaki itu.

“Iya, Pak. Saya sendiri juga tidak tahu, kalau ternyata…”

“Ya, sudah, sini. Duduk dulu….”

Beliau mempersilahkan aku masuk dan dengan cepatnya aku melebur di antara keluarga calon istri-ku itu.

“Jadi, bagaimana? Ternyata nggak jauh-jauh juga, kan, perginya?”

“Hahaa.. Iya, Pak. Tapi saya ingin mendengar keputusan dari Aya dulu.”

“Kalau begitu, datang saja langsung ke rumah. Kalau kamu memang serius ingin menikahinya.”

DEG!


Mei 20xx

                “Farza?” suaranya pelan menyebut namaku. Aku hanya menganggukkan kepala. Bahkan senyum pun aku tak mampu.

“Duduk dulu, Aya,” ujar Ayahnya. Dia tidak bisa menutupi keterkejutannya. Semua tergambar jelas di wajahnya yang… manis itu.

Dia lalu duduk di sebelah Ibunya, berhadapan langsung denganku. Hanya menundukkan kepala dan sesekali memandang keluar jendela.

Kak Bani memulai perkenalan dengan menjelaskan latar belakang Aya dan keluarganya. Lalu Ramdhan memperkenalkan latar belakangku dan keluarga kami.  Tidak ada yang bersuara diantara aku dan Aya. Kami sama-sama diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Jadi, bagaimana Aya? CV-nya mau diserahkan ke Farza atau tidak?” tanya Kak Kani kemudian.

Dia lalu memandang kertas digenggamannya. Cukup lama. Membuatku berharap cemas.

“Aku hanya menulis sekedarnya saja. Toh, ternyata calonnya udah cukup mengenalku, ‘kan?” jawabnya seketika, lalu tersenyum.  Ia kemudian menaruh CV-nya di atas meja, mendorongnya perlahan ke arah Ramdhan.  “Mohon dipikirkan lebih matang lagi, ya, Za,” katanya kemudian padaku. Linglung, aku hanya mengangguk sembari menerima CV-nya dari adikku.

“Kapan kami bisa mendapatkan jawaban?” tanya Ayahnya tiba-tiba.

“InsyaAllah, secepatnya, Pak,” jawabku mantap.

Dan pertemuan siang itu pun berakhir ketika azan Ashar menggema.

********************************                                           ********************************

Farza…

Sebelumnya kami memang sudah pernah kenal, bahkan sudah pernah dekat. Dekat sekali. Sebelum akhirnya menjadi sangat jauh, dan terus menjauh. Ada khilaf yang menjadikan jarak sebagai penengah. Ada khilaf yang menjadikan jarak sebagai satu-satunya jalan keluar.

Dulu, jauh sebelum hari ini, jauh sebelum kami mengerti apa-apa tentang dunia percintaan, kami sempat menjalin kasih. Cukup lama. Dan cukup memberikan banyak kenangan yang menjadi alasanku masih sendiri hingga saat ini. Menghindari setiap celah yang berusaha dimasuki orang-orang yang sekedar datang kemudian berlalu pergi. Menghindari segala cara yang dilakukan teman-teman agar hati yang kata mereka kosong ini, terisi lagi. Tapi aku memilih untuk menyendiri. “Nanti, langsung nikah saja,” kataku setiap kali teman-teman bertanya mengapa aku tidak pacaran lagi.

Aku bukan seorang gadis jilbaber seperti bayanganmu. Aku hanyalah seorang gadis berkerudung yang terus belajar untuk menjadi lebih baik. Keputusanku untuk mengakhiri hubungan kami pun tidak ada hubungannya dengan konteks jilbaber atau apalah namanya. Saat itu aku hanya ingin bebas. Bebas melangkahkan kakiku, dan membiarkan Waktu memilihkan pendamping untukku. Dan pergi darinya adalah satu-satu cara yang terpikir olehku untuk membebaskan Waktu membawaku ke tempat-nya yang berani berkomitmen denganku, suatu hari nanti.

Tak disangka,

Bahkan Waktu memilihkannya untukku, menggiringku untuk kembali kepadanya yang menjadi, InsyaAllah, suami-ku.

********************************                                           ********************************

********************************                                           ********************************

********************************                                           ********************************

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 10 November 2013

Iklan

8 pemikiran pada “Proposal

          1. Nggak berani de buat berharap kayak gitu…
            Menjalani hidup apa adanya aja. Sad or happy ending terima saja *ngelus dada*

            Kereeeen…kirain inspirasi kisah nyata 🙂

            Suka

          2. hahaa.. berharap mah boleh teh, asal jangan lupa pegangan yang erat (pada Ilahi) 🙂

            hehee.. kisah nyata ya? hmm.. imajinasi yang muncul karena kisah nyata mungkin? tapi kisah nyata yang berbeda cerita dari yang terimajinasikan? hahah #ribet

            Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s