oleh: Ade Surya Tawalapi
ditujukan sebagai tugas harian mata kuliah Kajian Puisi Rusia,
minggu pertama semester 5

Interpretasi Puisi

adalah sebuah pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis terhadap sebuah puisi [1]. Interpretasi setiap orang terhadap puisi bisa berbeda-beda berdasarkan metode pendekatan yang dilakukannya terhadap puisi, pemahamannya terhadap puisi dan si pengarang, serta penguasaannya di bidang puisi. Namun, interpretasi puisi yang berhasil adalah interpretasi yang mendekati makna puisi tersebut di mata pengarangnya. Pada dua puisi di bawah ini, saya mencoba memberikan interpretasi saya sesuai dengan pemahaman yang saya tangkap ketika membaca puisi tersebut. Metode pendekatan yang saya lakukan adalah analisa dan daftar pustaka, yakni mencari referensi yang berkaitan dengan si pengarang dan karyanya, lalu menganalisa puisi tersebut dengan mengaitkannya dengan kehidupan si pengarang.

Malam Lebaran

Bulan di atas kuburan

(Sitor Situmorang)

Bila kita menelan mentah-mentah judul “Malam Lebaran” dengan isinya “Bulan di atas rembulan”, maka kita akan menemukan ketidaksingkronan antara kedua kalimat tersebut. Sebab, malam lebaran adalah keadaan dimana bulan berada pada fase bulan mati [2], tidak terlihat. Namun ketidaksingkronan ini menjadikan sajak tersebut sarat makna.

Saya menginterpretasikan, bulan yang dimaksud bukan bulan yang sebenarnya, melainkan secara simbolis adalah sebuah hidayah yang menghampiri seseorang sehingga ia menemukan “cahaya” dalam hidupnya. Sedangkan kuburan yang dimaksud adalah masa lalu orang tersebut yang kelam, penuh nestapa dan keputusasaan. Dan di malam lebaran tersebut ia menemukan jalannya untuk kembali ke jalan yang benar, menemukan cahaya di atas masa lalunya yang kelam dan menemukan terang untuk masa depannya.

Dilihat dari proses pembuatan sajak itu sendiri sebenarnya tidak ada hal yang istimewa selain penyampaian kesan Sitor Situmorang tentang pemandangan malam di kuburan beberapa hari setelah lebaran di tahun 1954 [3]. Menurut ceritanya, saat itu Sitor Situmorang dalam perjalanan pulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer dalam rangka halal bi halal. Sitor Situmorang pulang dengan rasa kecewa karena Pram saat itu tidak ada di rumah. Di perjalan pulang, Sitor tersesat di suatu tempat asing yang penuh pohon tua dan tembok. Sitor penasaran apa yang ada di balik tembok. Saat ia melihatnya ternyata di balik tembok tersebut adalah sebuah kuburan yang terpapar sinar rembulan dari sela-sela pohon. Ketika Sitor melihat pemandangan tersebut, seketika rasa kecewanya tergantikan dengan rasa kagum sehingga terciptalah sajak tersebut.

Berdasarkan kronologis di atas, saya kembali mencoba menafsirkan bahwa dalam sajak tersebut Sitor Situmorang mencoba menyampaikan –dengan sadar ataupun tidak–, sesungguhnya di atas keburukan sesuatu selalu ada keindahan; di atas keputusasaan selalu ada harapan; di atas kegagalan selalu ada kesuksesan; selalu ada hikmah di balik terjadinya sesuatu. Pemandangan kuburan yang diterangi cahaya bulan –yang ternyata muncul pada malam setelah Lebaran– adalah hasil dari perjalan Sitor yang gagal bertemu dengan Pram, tersesat pula. Pengalaman tersebut dapat menginspirasi Sitor sehingga ia mampu menciptakan sajak pendek yang fenomenal dan sarat makna.

##

catatan kaki:

[1] definisi diambil dari artikata.com yang bersumber pada kbbi 3

[2] sebagian menyebutnya sebagai bulan baru (new moon), jatuh pada tanggal 1 setiap bulan di penanggalan Islam (qomariyah/kalender Hijriah). Pada malam lebaran ini, jika diartikan sebagai lebaran Idulfitri, berarti tepat pada tanggal 1 Syawal. Sedangkan jika lebaran yang dimaksud adalah lebaran Iduladha, tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah, bulan sudah mulai tampak. sumber:  wiki sih :p

[3] beberapa artikel yang saya baca di internet menjelaskan, pada suatu pertemuan Sitor Situmorang menjelaskan cerita di balik puisi fenomenal ini saat ia ditanyai mengenai proses pembuatan puisi tersebut. (saya lupa mencantumkan sumber artikelnya, silakan cari di google yah. hehehe ^^v)

##

baca juga:

Makna dari puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang
Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup
Pendekatan Semiotik Mengenai Puisi Pendek “Malam Lebaran”
Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s