Aku melihat kita di sana.

***

Duduk di lantai beralaskan tikar berwarna hijau, bercorak domba. Aku sedang menyusui anak pertama kita: laki-laki tampan yang sehat dan selalu makan kenyang. Dia gemuk,  sama sepertimu. Karena kalian berdua memang selalu makan kenyang.

Kau menanyakan pertanyaan yang dulu pernah kau tanyakan padaku. “Pernah berpikir tentang masa depan kita?”. Kau menanyakannya lagi sekarang setelah mimpimu dulu —mimpi kita—, terwujud.

                “Masa depan yang mana?” tanyaku malu sambil menatap lekat bayi kita yang sedang menikmati setiap tetes ASI-nya. Aku tak pernah berani membalas tatapanmu setiap kali kau melempar tatapan seperti itu.

                “Ya, masa depan kita. Masa depan setelah ini. Masa depan keluarga kecil kita.

                “Hmm.. sepertinya aku bisa melihatnya,” jawabku sambil mencoba melawan tatapanmu. Dan aku sedikit gugup karena ini kali pertama aku bisa membalas tatapmu lebih dari semenit. “Yah, aku bisa melihatnya. Besok, si Kecil yang tampan ini akan tumbuh dengan sangat cepat, dan dia akan memiliki empat orang adik yang lucu-lucu. Dan pintar, sepertimu. Adiknya yang pertama adalah seorang perempuan yang cantik jelita dan anggun. Lalu tak lama akan lahir saingan Si Tampan, seorang laki-laki yang tak kalah gagahnya. Si Cantik tidak sendirian, tidak beberapa lama setelah Si Gagah lahir, Si Cuek nan mempesona akan lahir menambah riuh hari-hari kita. Kakak-kakaknya akan berebutan ingin menggendongnya, menciumnya, bahkan memandikannya. Tapi hanya si tampan yang kuizinkan menyuapinya makan, karena si Cantik dan Si Gagah tidak pernah benar-benar menyuapi adiknya, malah mereka yang memakan makanannya. Bertahun lamanya, Si Cuek akhirnya punya adik. Si…….. Pemberani. Bukan berarti kakak-kakaknya tidak pemberani, tapi dia si Bungsu yang berani. Dan kehidupan kita takkan ada habisnya dari riuh dan keceriaan anak-anak.

                “Sampai akhirnya mereka tumbuh dewasa dan mandiri. Mereka akan menyelesaikan sekolah seperti yang kita harapkan dan sesuai cita-cita mereka—kita tidak akan menjadi orang tua yang egois, ‘kan? Mereka bebas memilih jalan mereka sendiri. Ya, ‘kan?. Dan tidak lama, mereka akan menemukan tambatan hati masing-masing. Kita, masih di rumah kecil kita ini, hanya bisa menunggu mereka pulang suatu hari bersama keluarga kecil mereka. Menceritakan legenda mereka sendiri. Dan kita, di sini, hanya bisa tersenyum penuh syukur. Di hari tua kita, mereka masih ingat pulang, masih ingat dimana legenda mereka bermula. Dan masih, kehidupan kita akan tetap riuh dengan keceriaan dan gelak tawa anak-anak: cucu-cucu kita yang lucu, silih berganti datang bersama pahlawan-pahlawan mereka, mengisi sepi yang menyelimuti rumah kita ketika mereka tidak ada.

                “Kita akan berkeliling dunia! Tentu saja. Hari ini kita akan tinggal di rumah Si Tampan, besok di rumah Si Cantik. Lusa di rumah Si Gagah, lalu di rumah Si Cuek, dan kemudian di rumah Si Bungsu. Ya, merekalah dunia yang sebenarnya, dunia kita yang begitu ingin kita jelajahi meski mereka telah menjajaki dunia sendiri. Lalu, setelah puas mengelilingi dunia, kita akan pulang ke rumah, dan merasa sepi namun begitu bahagia. Karena mereka kita akan selalu bahagia. Mereka, dunia kita —anak-anak kita.

                “Hingga nanti di suatu pagi, salah satu dari kita mati. Sampai jumpa di kehidupan yang lain…” sebait lagu kunyanyikan, menorehkan senyum di bibirmu.

                “Tapi, bukan begitu akhir cerita kita.”

                “Lalu? Seperti apa?” tanyamu penasaran.

                “Kau tahu cerita ‘The Note Book’? Ku rasa begitulah akhir yang kuinginkan. Dalam genggamanmu, dalam pelukanmu, kita sama-sama menuju kehidupan yang lain. Memulai legenda baru bersama lagi.” Dan kecupan manis di bibirmu mengakhiri ceritaku.

                “Perjalanan yang panjang,” katamu, “Semoga Tuhan mendengar doa kita.” Kau pun membalas kecupanku.

***

Dan semua bermula dari pertemuan ntah ke berapa.

***

                “Menikahlah denganku,” katamu tanpa basa-basi.

Waktu itu, ntah untuk alasan apa, kita dipertemukan ntah dimana. Kita tidak begitu banyak bicara meski aku terus menerus mencoba mengisi kekosongan dengan tanya yang tidak begitu penting—memperlihatkan bahwa aku resah dan salah tingkah. Lalu, setelah akhirnya aku menyerah, karena kau hanya menjawab tanpa balik bertanya, kau pun berkata demikian. Seketika jantungku pun lompat dan melarikan diri.

                “Apa?” tanyaku, berusaha menganggap kau sedang bercanda dan itu adalah lelucon yang paling lucu sedunia.

                “Aku tidak ingin membiarkanmu menunggu lebih lama lagi. Aku tahu kau menungguku.”

Kau tahu? Aku ragu antara ingin tertawa atau menangis. Kau begitu percaya dirinya sehingga tebakanmu tepat sekali menusuk ke jantungku—untungnya dia sedang tidak di tempat. Jantungku sedang menari di pinggir kolam karena bahagia mendengar sederet kata dari mulutmu.

                “Menikahlah denganku. Dan mari kita mulai legenda kita sendiri, bersama.”

Kau mengeluarkan kotak cincin, dan memberikannya padaku.

                “Bukalah!”

Dan aku membukanya. Kosong!

                “Kok?” tanyaku. Nyaris aku berburuk sangka, mengira kau hanya bercanda.

                “Kau sudah memakai cincinnya,” jawabmu.

                “Maksudmu?”

                “Bukankah kau ingin cincin itu yang menjadi cincin pernikahanmu?” jawabmu sambil menunjuk cincin di jari manis tangan kananku—cincin seharga seribu rupiah yang melekat di jariku sejak masa sekolah.

                “Oh,

Yah! Hanya itu kata yang mampu kukatakan. Apa lagi? Semua kata berlari bersama jantungku. Mereka sedang bermain air sekarang. Begitu bahagia.

                “Mungkin besok, kalau kau mengizinkan, aku akan bertemu orangtuamu.”

Aku masih diam.

                “Atau sekarang?”

                “Hahahaa.. yang benar saja!”

                “Lagian, kau sama sekali tidak berkata apa-apa.”

                “Ku rasa tadi aku berkata, ‘kok’ dan ‘oh’, dan…” seperti biasa, aku menjawab dengan bermain kata.

                “Biar kuantar pulang. Sekalian bertemu orangtuamu.”

                “Sekarang?”

                “Nanti, kalau udah sampai rumah.”

Dan aku hanya balas tertawa. Melepas cincinku, dan memasukkannya ke kotak cincinmu.

                “Sekalian liatin ini, ya?” kataku. Dan kaupun mengambilnya, memasukkan ke kantong jaketmu.

***

Dan kita akhirnya menikah.

***

Setelah melewati ini-itu pernikahan yang ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Padahal, ini adalah pernikahan yang paling sederhana yang terpikir olehku. Tapi tetap saja, “Menikah tidak hanya menyatukan hati dan raga kita berdua, tapi juga keluarga kita. Menyatukan keluarga besar!” katamu suatu hari saat aku mengeluhkan persiapan pernikahan kita. Yah, ku rasa aku tak salah menerimamu menjadi suamiku. Kebijakanmu, mirip ayahku.

***

Dan berbulan kemudian, kabar bahagia datang dari seorang dokter yang memeriksaku hari itu.

***

                “Selamat, sekitar tujuh bulan lagi, Bapak dan Ibu akan resmi menjadi Ayah dan Ibu.”

Tujuh bulan?

                “Usia kandungan Ibu sudah empat puluh lima hari.”

Apa??

                “Untungnya, bayi Ibu sangat sehat.”

Ya, aku hamil hampir dua bulan. Tapi tidak pernah tahu kalau aku sedang hamil. Tidak ada tanda-tanda kehamilah yang kurasakan. Bahkan perutku tidak terlihat membesar. Hari ini kita ke sini karena—mungkin tandanya baru datang sekarang?—aku merasa mual dan pusing sejak kemarin siang. Dan di pikiran kita hanya, “Mungkin kecapean atau masuk angin.

 

Dan berita bahagia ini bukan hanya untuk kita berdua. Tetapi keluarga besar, sahabat dan kerabat. Bahkan teman-teman dekat kita marah ketika tahu aku telah hamil dua bulan. Barulah mereka berkata, “Ooh…” setelah mendengar penjelasanku malam itu, saat kita mengundang mereka makan malam di rumah kecil kita.

Lalu kehidupan Ibu hamil memenuhi hari-hari kita. Kau selalu pulang dengan artikel, buku, majalah atau apa pun yang berkaitan dengan Ibu hamil dan menyusui. Kau bahkan melarangku untuk bekerja terlalu lelah—aku Ibu rumah tangga yang terlalu menyenangi urusan Ibu rumah tangga. Selama hamil dan menyusui, kaulah Bapak rumah tangganya: mencuci dan menjemur baju, mencuci piring, menyapu dan mengepel rumah, membersihkan dan menyiram tanaman, dan memasak. Oh, oke. Aku tak mau kalah. Untuk urusan memasak, kita bekerja sama dengan sangat baik. Hahaa. Menyetrika? Pakaian kantormu dan pakaian bayi kita adalah kewajibanku, sedangkan baju rumah dan bajuku adalah kewajibanmu.  Yah, kita teamwork yang kompak sekali!

***

Dan, begitulah.

Legenda kita, yang masih sebatas legenda-fiksi dari imajinasi yang melayang-layang di tengah gelapnya kamarku malam ini. Ah, bukan. Pagi ini.

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 24 November 2013, 01:19 WIB

Iklan

2 pemikiran pada “LEGENDA

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s