Tersendat karena kegalauan. Tersendat karena kemalasan. Dan tersendat karena minimnya sumber untuk melengkapi isi dari “Meja Belajar”. Oleh sebab itulah, “Meja Belajar” ini baru terisi satu tulisan. 

Nah, seharusnya sekarang saya berada di kampus. Mengikuti matakuliah paling bermasalah dengan saya karena, pertama: Dosen Native-nya berbicara menggunakan bahasa Rusia dengan cepat tanpa spasi. Bagian bolong diisi dengan Bahasa Inggris. Meskipun saya adalah mahasiswi semester 5, dua bahasa itu masih belum saya kuasai dengan baik dan benar. Sehingga setiap kali kelas dengan dosen Native, yang ada di pikiran saya saat di kelas adalah yang tertuang dalam gambar di bawah ini:

pinjem bos :p

kedua: dosen Pribumi-nya (maaf, Pak) lebih absurd dari yang Native. Saya bahkan lebih nggak ngerti sebenarnya lagi belajar apa di kelas itu. Okay, kosakata yang berkaitan dengan perusahaan. Hmm… Terlalu jauh dari penggambaran seorang dosen tentang mata kuliah ini. Ya, mungkin karena saya terlalu suka berasumsi dan berekspektasi!

Nah, diluar lingkup kelas yang absurd itu, sekarang saya sedang duduk di depan laptop saya, menuliskan ini (#PLAK). Ya, maksud saya, sedang rajin-rajinnya mengerjakan tugas yang deadlinenya hari Minggu lalu di kumpul ke ketua kelompok, eh sekarang malah saya diminta untuk ngurusin karena saya dan beberapa teman belum ngerjain sampai lewat tenggat waktunya. Jadinya sekarang saya dikejar deadline sendirian karena deadline sesungguhnya adalah besok! -_____-” (karena itu saya nggak masuk kelas hari ini hahaha #alasan #antara-rajin-dan-malas #malas-ke-kelas #rajin-ngerjain-tugas :p)

Lalu mengapa saya ada di sini sekarang?

Hal ini berkaitan dengan tugas teman-teman saya yang sudah mereka selesaikan minggu lalu, kemudian mengirimkannya ke saya. Saya salut, karena tidak sampai sehari setelah saya sms untuk segera mengirimkannya ke saya sebelum hari Minggu –karena saya harus menganalisa secara keseluruhan (dengan kata lain saya butuh hasil pencarian dan pemikiran mereka untuk saya godok lagi)– mereka sudah membalas sms saya yang berbunyi:

"De, tugasnya udah gw kirim ke email lo. Cek yaa."

Dan saya pun hening. ._.

Hening karena terlalu bahagia mereka menyelesaikan tugas mereka dengan sangat cepat, dengan jumlah lembar yang tidak sedikit.

(dan) Hening karena terlalu terpana pada huruf-huruf yang dirangkai menjadi kata-kata yang……. saya tidak mengerti. (maaf >_<)

Seketika pun saya menulis demikian di twitter (promo):

Yah, menjadi penerjemah bukanlah hal yang pantas dianggap sepele. It’s not easy as you thought! Bermodalkan banyak kosakata saja tidak cukup. Bermodalkan niat dan disiplin diri untuk menerjemahkan juga tidak cukup!! Tapi, pemahaman dan kemampuan menulis! Ah! Saya lupa istilahnya untuk kemampuan menerjemahkan sesuatu ke dalam suatu bahasa dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam penutur bahasa tersebut. (keriting bacanya -_- hahahaa)

Dan saya tidak melihatnya dalam hasil karya teman-teman saya itu. Pun, saya bukanlah orang yang pandai dalam menerjemahkan teks Bahasa Inggris atau Bahasa Rusia ke dalam Bahasa Indonesia. Tapi saya di sini mampu menilai: apakah ini pantas disebut terjemahan yang baik dan benar berdasarkan pemahaman saya terhadap teks tersebut, atau tidak. Dan kenyataannya: rambut saya semakin keriting dan rontok membacanya. Hell!

Saya tidak menyalahkan teman-teman saya. Saya hanya…. bingung ._. Apakah mereka tidak mencoba membaca hasil kerja mereka berulang-ulang sehingga kemungkinan orang lain tidak mengerti manjadi semakin minim? Atau, tingkat pemahaman mereka terlalu tinggi sehingga orang seperti saya sulit memahami maksud dari karya mereka tersebut? God, help me! 😥

Dan saya membuang-buang waktu dengan menuliskan ini. Bukannya memanfaatkan waktu untuk memahami tulisan mereka itu, malah mancacek salamak paruik![1]

Oh… tentu tidak!

Saya tidak hanya akan mengomentari karya-karya itu. Tapi juga semua hasil pencarian di google yang saya temui yang berkaitan dengan materi yang sedang saya selami ini. Terutama yang bikinnya orang Indonesia.

Teori. Tentang beberapa teori yang terselip di beberapa blog keren, mantep, berisi namun minim sumjuk alias sumber rujukan. Salah saya sih, kalau mau yang valid ya carinya di perpustakaan dan baca tuh buku-buku setebal apaan tau dah! Tapi kaaaaaaaan…. kita yang menuliskan ‘pelajaran’ dan ‘ilmu’ di blog ini niatnya untuk mempermudah sesama kan? Lalu mengapa tidak mencantumkan sumbernya :’) Hiks :’) Itu penting loh :’) Kalo ntar tiba-tiba saya komen: “Eh, situ copas dari blog saya ya!?” Hayooo… gimana? Mau protes juga nggak bisa kan karena bukti otentik (#halah)-nya nggak ada. Nyehehee ._.

Jadi, itu sebabnya meja belajar saya masih ‘kosong’ karena tidak semuanya ber-sumber rujukan yang valid. Saya juga ngambil di internet kok, meski saya ubah-ubah dikit kata-katanya.

Sebenarnya lebih ke kecewa, sih :’)

Berasa di PHP-in…

Karena kan, saya berharap hasil kerjaan teman-teman saya akan mempermudah tugas saya juga, karena saya menganalisis secara umum (tapi saya nggak mau sekedar ‘umum’ doang, tapi general bedanya apa, mbak?). Tapi yang ada, saya malah mau nangis karena ini makalah bersama, ketika tatabahasanya kacau selembar doang, bakal ngaruh ke yang lain dong yah? Hehehee :’) *timbul niat jahat. Astaghfirullah

Dan dari hasil pencarian di internet juga, saya berharap dari beberapa akun blog, situs web, situs pendidikan dll itu mencantumkan sumbernya, minimal catatan kaki kaya di wikipedia versi English-nya (itu catatan kakinya berguna buanget looh, buat nambah-nambah sumber rujukan di halaman terakhir makalah, atau kalau emang mau rajin, bisa di cari jurnal yang bersangkutan di internet atau di perpustakaan. ya kan? :’) ) Tapi, kebanyakan minim sumber. Hiks :’)

Nah, timbullah niat di hati saya..

Untuk selanjutnya, ketika saya memasukkan tugas-tugas seperti makalah, interpretasi sastra dll, saya WAJIB mencantumkan sumber dari yang valid sampe yang kurang valid, such us private blog.  🙂

Nah, sekian curhat kali ini. Sedikit plong rasanya. Jikalau ada yang baca, terus tersungging, eh, tersinggung, mohon dimaafkan yak :”)
Namanya juga kritik (dan saran), kadang ada yang nyelekit, ya ‘kan?? Hehee..

Sekarang kembali ke laptop!

Ini di laptop kok ._.

WUSSHH!!!

-tawaade yang rambutnya makin kriting sekseh-
Depok, 26 November 2013

[1] mancacek salamak paruik: bahasa minang dari mencaci seenak perut. [mancacek = mencaci, memaki, mencela, dsb], [salamak = seenak; lamak = enak], [paruik = perut] #BahasaMinangitumudah :p

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s