Kali ini saya mau berbagi cerita selain cerita galau karena nggak bisa tidur. Hahaa.

Hari Minggu lalu, 24 November 2013, saya dan sahabat saya, Yumei, berjanji akan pergi jalan-jalan ke Museum Gajah alias Museum Nasional di Jakarta Pusat. Sebenarnya, rencana jalan-jalan ini sudah kami bicarakan seminggu sebelumnya. Bahkan, H-1 saya masih sempat memastikan Yumei, jadi atau tidaknya. Tapi ketika hari H, saya kebablasan tidur karena semalamnya abis pulang ngebolang (ceritanya ada di sini) dan baru tidur selesai Subuh. Akhirnya, acara jalan-jalan sekaligus temu kangen ini pun di undur.

Cerita singkat tentang Yumei, dia adalah teman yang saya kenal di dunia maya (pernah dibahas sedikit di sini). Seorang gadis gemuk yang cantik dan percaya diri. Dia adalah gadis keturunan jawa yang lahir dan besar di Jakarta tapi nggak terlalu hapal Jakarta (sama, sih, sama saya yang nggak hapal Pekanbaru dan sekitarnya ._. wkwk). Berdasarkan umur, dia lebih muda setahun dari saya, tapi berdasarkan tingkat pendidikannya, dia TUA setahun dari saya. (HAHA TUA! >_<) Dan sekarang dia sedang sibuk memikirkan skripsinya yang dituntut selesai dalam kurun waktu 2,5 bulan. (Semangat Umeeeei!! Kamu pasti bisa! Yoshh!!). Deskripsi orangnya, Yumei itu baik, pendengar yang setia sekali, ceria, juga banyak ceritanya, selalu tertawa dan riang gembira, suka jalan-jalan, anak rumahan (lah?), banyak temen, (dulunya) suka online (makanya bisa ketemu), rajin, pinter, mau usaha dan selalu berusaha keras, dan TANGGUH!! Ya, cewe satu-satunya di keluarganya ini (selain Ibunya, tentunya) adalah anak yang lebih tangguh daripada saya, karena mandiri pergi kemana-mana, bisa masak dan bersihin rumah, dan lain sebagainya, sedangkan saya nggak bisa apa-apa. Hahaa.

Kembali ke cerita!

Jadi, hari Minggu itu kami berjanji akan bertemu di St. Pasar Minggu pukul 10.00 waktu-Indonesia-sebelah-mana-aja. Saya sudah ancang-ancang dari malamnya untuk tidur lebih cepat agar bisa bangun lebih cepat pula. Tetapi ternyata tidak ampuh, mbabrooo. Saya tetap tidur sekitar pukul 2-an, dan bangun sejam sebelum waktu yang di janjikan. Hahaa.

Setelah bangun, saya langsung sms Yumei, janjiannya diundur sekitar pukul 11-an karena saya baru bangun. Yumei-pun selow. Sekitar pukul 10-an, saya berangkat dari kosan pake ojek-yang-tumben-harganya-normal-padahal-kalau-Minggu-biasanya-harganya-plusplus. Saya tiba di St. UI dan mengantri di antrian panjang-yang-lalu-diserobot-orang-yang-sempat-beradu-tatap-dengan-saya.  Saya pun segera meng-sms Yumei,

Saya: “Berenti di stasiun apa nih?”
Yumei: “Lah, kemarin lo bilang stasiun apa?”
Saya: “Juanda. Ya udah, juanda ya.. gue udah beli tiket, tinggal nunggu kereta.”
Yumei: “Oke… tapi lo santai aja, De. Gue mau *sensor* dulu. Hahaa”
Saya: “Okee..”

Dan saya pun menunggu….

Dan keretanya datang.

Saya (sms Yumei): “Mei, ini keretanya udah datang. Gue gimana nih?”
Yumei
(sekian menit kemudian baru balas sms saya): “Lo tunggu di peron St. Pasar Minggu aja, De. Gue lagi nunggu bis.”
Saya : “Yah, Mei. Keretanya udah lewat hahaa. Nunggu lagi gue. Udah di Depok keretanya.”
Yumei: “Oke, ntar sms aja lo di gerbong berapa. Gue udah di bis.”

Dan kereta datang.

Dan saya pun naik.

Dan lalu sms Yumei (capek ah! -_-)

Intinya, kami pun bertemu di St. Pasar Minggu, di peronnya. Dan menunggu kereta selanjutnya dengan ngobrol panjang ngalor kidul kemana-mana. Hahha (pe-rem-pu-an!)

Kereta pun datang sekitar pukul 11-an. Dan kami melaju bersama kereta CL itu menuju St. Juanda.

Setibanya di St. Juanda, kami pun terdiam. Nggak tau harus jalan kemana. Dua-duanya buta arah dan buta jalan. Saya pun inisiatif untuk nekat jalan, masuk ke Monas, dan berharap menemukan tanda-tandanya dari dalam lingkungan Monas. Tapi ternyata, nggak ketemu ._.

Kami pun berjalan dari gerbang Monas yang satu ke gerbang Monas lainnya (dan saya pake wedges. gilak!) sampai kami pasrah dan nanya ke mbak-mbak. Si mbak-mbaknya pun bilang, kalau Museum Nasional di sebelah sana. Dekat deretan sananya Monas (pokoknya di seberangnya dari tempat kami berdiri sekarang. Jauuuuuh~). Setelah itu, kami pun mengikuti kata-kata mbaknya. Tapi ternyataa… yang kami temui adalah St. Gambir yang ternyata ntah-dekat-ntah-jauh dari lokasi tujuan.

(setelah saya cek di google map, ternyataa….

St. Gambir - Museum Nasional
St. Gambir – Museum Nasional

…..jauuuh ._.)

Yumei ngajakin naik TransJakarta. Tapi saya rada-rada malas. Tapi, kami berdua pun jadi malas karena waktu melihat petanya, kami terpaksa muter jauh dulu ke Senen. Ya kaleee -_- Kami pun memutuskan untuk jalan kaki. *saya ulangi* JALAN KAKI  saja. :’) :’) :’) :’)

(see? seberapa banyak langkah yang harus kami berikan menuju Museum tercintah…meskipun lewat jalan sebaliknya, tetap ajaa.. dua titik itu berada di tengah-tengah dan saling berseberangan rupanya -____-“)

peta perjalanan (pake kaki) kami, Minggu, 24 November 2013
peta perjalanan (pake kaki) kami, Minggu, 24 November 2013

Menyusuri jalan raya yang isinya mobil dan motor yang ngebut-ngebut. Bisa dikatakan, hanya kami yang berjalan kaki (cukup jauh). Ojek pada nawarin, kami tolak mentah-mentah. Kalo saya sih, emang doyan jalan. Dulu aja pernah jalan kaki dari St. Bogor ke Puncak bareng bolang (penasaran ceritanya? Ntar kapan-kapan saya ceritain :p) Hahaa. Jadi, saya senang bisa jalan bareng Yumei, beduaan doang. Karena ini kesempatan saya curhat abis-abisan! Hahaa. Kalau waktu ke rumah sakit kemarin dokternya nyaranin ketemu psikolog, saya ketemu Yumei udah cukup kok, teman curhat setiaaa~ Hahaha >_<

Saya senang. Yumei?? Karena dia teman saya yang baik hati, tidak sombong dan tidak manja, dia juga sepertinya hepi-hepi aja :’) Heheee…

Sekitar berjam kemudian….

tibalah kami di tempat tujuan…..

pinjem tante :’)

MUSEUM NASIONAL a.k.a MUSEUM GAJAH !!! :’)

*kali pertama saya ke Museum looh ini.. Muehehehe >_<*

Lalu, apa yang kami lakukan di sana?

BERFOTO-ria!!! Hahaa..

Kami adalah dua orang udik yang nggak tau sama sekali tentang Museum itu dan isinya. Oke, Yumei udah pernah ke Museum ini waktu SMA. Tapi, berdasarkan ceritanya, dia lupa ._. Jadi, beginilah.. Kami hanya meninggalkan jejak kosong di Museum dan otak kami, hanya meninggalkan kenangan di hati dan kamera (papa) saya :’) Hihiii..

(Tapi ternyata, Museum Nasional punya situs resminya loh -_-! Saya baru tahu hari ini pas searching di google. Aneh, ya. Baru nyari-nyari infonya setelah mengalami ‘petualangan’ bego. Hahaa)

Dan sesi foto-foto di mulai dari sebuah patung dewa Siwa. Tapi saya mau nampilin foto pertama saya dulu. Hahaa.

DSC03333
wedges-nya udah di lepas, berganti dengan sendal gunung kesayangan, pemberian kakak ipar tercintah 😀

Dan Yumei, yang saya paksa harus mau foto!!

DSC03340
Yumei dan Patung Ganesha

Dan ini foto-foto patung yang tertangkap kamera 😀 (untuk infonya, ada di situs resmi Museum Nasional 😀 )

arca dewi laksmi

DSC03386saya dan GaneshaDSC03394saya dan yumei yang difotoin oleh timerPrasasti Kawambang KulwanSiwa - ParwatiBhairawa BuddhaDSC03337DSC03354DSC03353WisnuPatung Dewa-dewi…

DSC03352

pekarangan tengah sebelah kiri dari pintu masuk sebelah kanan dari pintu masuk DSC03385 DSC03389 Singa DSC03393 lagi-lagi saya saya lagi Makara Roda Cakra

Banyak patung-patung yang unik.

Tapi ini menurut saya lebih unik!

Saya dan Bhairawa Buddha.
Saya dan Bhairawa Buddha.

Bhairawa Buddha adalah patung terbesar yang saya temui di Museum ini. Lebih besar dari Ganesha. Waktu ngeliat foto ini, Yumei nyeletuk, “Kalo patungnya tumbang terus nimpa gue, gimana ya, De?”. “Ya mati!” jawab saya. Hahaha, ya kali kan, ketimpa patung segitu gede masih hidup :’)

Kepala Buddha
Kepala Buddha

Apa yang kalian ingat pas ngeliat patung ini? Kalau saya, film jaman kecil. Boboho! Hahaa..

Jaladwara
Jaladwara

Tau Jaladwara? Menurut keterangan patungnya, itu adalah aliran air di istana. Keren yah? Aliran air aja di ukir. Ckckck

Yoni
Yoni

Nah, kalau ini namanya Yoni. Siapa yang namanya Yoni?? Biasanya yang namanya Yoni, cewe atau cowo sih? Soalnya, menurut keterangannya, ini adalah simbol perempuan. Saya sendiri bingung, dilihat dari segi mananya? =,=a

Lalu, setelah puas mengelilingi bagian patung-patung yang saya sebut Ruang Arkeologi, kami pun melanjutkan penggerebekan di……

DSC03401

dan apa saja yang ada di sana? BUANYAK! Sampe-sampe saya nggak bisa moto lagi, karena memori kameranya penuh. Hahaa. Ini beberapa koleksi yang tertangkap kamera (dengan editan seperlunya):

Bali corner
Bali corner (klik foto untuk memperbesar)

Dari pintu dengan bacaan menarik itu, kami berbelok ke kanan, dan menemukan koleksi etnografi BALI! 😀

Lalu, terus berjalan menyusuri sisi kanan. Koleksi etnografi Jawa-Sumatera sudah menanti rupanya..

02. Jawa 1 02. jawa2 02. jawa3 02. jawa4 02. Jawa5 02. Jawa6 02.jawa7

Koleksi Etnografi Jawa

03. sumatera1 03. sumatera2 03. sumatera3

Koleksi Etnografi Sumatera

04. suku-suku Indonesia

Foto di atas, menunjukkan peta persebaran suku di Indonesia dan dua orang narsis yang foto di depannya. Hahaa. Btw, waktu saya lagi foto-foto sendiri, ada om-om nggak di kenal (sepertinya turis asing) ikutan moto saya. Saya senyum, kaga di balas -_- (Om, minta fotonya!!). Kalau foto yang di pojok kanan bawah, hmm.. saya sendiri nggak tau itu apaan, main foto-foto aja. wkwk

Selanjutnya, kami melanjutkan langkah-yang-ntah-sudah-ke-berapa keeee….

DSC03490

Yaps! Ruangan yang memamerkan sejarah manusia, manusia Indonesia, manusia purba, beberapa fosil (yang saya nggak yakin itu asli. Hahaa) dan…….. ini fotonyaa..

01. human corner1Nggak banyak koleksi yang bisa dilihat. Lebih banyakan huruf yang merangkai kata dan kalimat menjadi bacaan puanjaaaaaaaaaang. Hahaa, karena saya malas bacanya, saya foto juga -_- Tapi, nggak perlu saya tunjukin, kan? :p

Barulah, kami menjelajahi koleksi di lantai atas, lantai 2 dan 3. Saya lupa mencatat (lagi dan lagi) nama tempatnya apa. Yang jelas, disana banyak kolek pernak-pernik dan perhiasan tradisional Indonesia, alat-alat perkapalan jadul alias jaman dulu. Ada prasasti-prasasti juga. Ada pistol yang puanjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang buanget! Ada miniatur rumah adat dari (hampir) seluruh daerah Indonesia. Hmm.. ada miniatur kapal dan sampan juga. Ada SEPEDA UNIK jaman dulu. Hahaa. Buanyak deh! Mongg0 di lihat-lihat, Bu, Pak, koleksi fotonya.. hahahaa

DSC03576 DSC03577 DSC03578 DSC03580 DSC03581 DSC03585 DSC03586 DSC03587 DSC03588 DSC03590 DSC03592 DSC03600

DSC03514 DSC03518 DSC03520 DSC03521 DSC03522 DSC03523 DSC03525 DSC03529 DSC03535 DSC03537 DSC03543 DSC03545 DSC03549 DSC03551 DSC03552 DSC03554 DSC03556 DSC03568 DSC03570

koleksi di lantai 2

Rupanya, di Museum Nasional lagi ada acara. Saya dan Yumei penasaran, tapi anehnya kami nggak cari tau ada acara apaan -_-a. Yang jelas, ada banyak anak-anak seumuran SD kelas 2 atau 3-an berkeliaran di lantai 2. Mencatat apa saja yang bisa mereka catat, dengan pembimbing mereka yang nggak sedikit (atau itu orang tua mereka? Ntahlah. Hahaa)

DSC03530

DSC03536 DSC03534 DSC03533 DSC03532 DSC03531 DSC03569 DSC03547 DSC03538

Beberapa foto mereka saya ambil tanpa sepengetahuan mereka, haha (peace ^^v)

Oya, nyaris lupa. Ini foto Yumei bersama pistol puanjaaaaaaaaaaaaaaaaaang itu. Hahaa..

DSC03575 DSC03574 DSC03573

Selanjutnya kami naik ke lantai 3. Hampir sama dengan yang di lantai dua, koleksi-koleksinya tidak jauh-jauh dari miniatur rumah adat Indonesia, pernak-pernik tradisional, alat berburu, mencari ikan, dan lain sebagainya. Sayang, memorinya nggak cukup buat motoin semua 😥

Tapi, eits! Jangan sedih!

Ada foto kenangan kok, bukti bahwa kami memang pergi ke sana. Hahaa *disisain beberapa memori buat foto bebas wkwkw >_<*

Monumen.... ._. Ada yang tau namanya? hehee ^^v
Monumen…. ._. Ada yang tau namanya? hehee ^^v
Yumei dan Saya, foto dari dalam ruang kaca sebelah kanan dari pintu masuk (nggak tau nama ruangannya apaan. >_<)
Yumei dan Saya, foto dari dalam ruang kaca sebelah kanan dari pintu masuk (nggak tau nama ruangannya apaan. >_<)
Saya dan Museum Nasional. Hahaa :p
Saya dan Museum Nasional. Hahaa :p
Yumei dan Saya foto di luar sebelum pulang
Yumei dan Saya foto di luar sebelum pulang

DSC03611

(monumen –atau tugu?– di atas, postur bahan dan jenisnya sepertinya mirip, atau bahkan sama dengan yang ada di depan kantor Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman – Pekanbaru. Namanya Tugu Zapin.)

Tugu Zapin, Riau (dari om google)

Sayangnya, saya lupa berfoto dengan gajah ini:

pinjem om 😀

Padahal, kan, yang fenomenal itu Patung Gajah itu sendiri -_- Hahaa.. koplak!

Nah! Saatnya pulaaaaaaaaang!

Hm? Pulang? Lewat mana nih? Ya lewat tadilah! Hahaa.. Sesungguhnya kami sudah teramat lelah. Tapi, apa daya, kami tetap ingin berjalan kaki saja tanpa alasan konkret Hahaa >_<

Dan jalur yang kami tempuh, lebih jauh, mbabroooo.. -_-

see?
see?

Padahal, mikirnya St. Gondangdia itu deket, karena jalur keretanya keliatan dari jalan raya. Tapi ternyata, kami masuk-masuk ke pedalaman. Hahaa >_<

Mana pas nyampe stasiun, sempat cengo dulu, udah di peron yang bener apa belum. Dan saya menyadari bahwa kami berada di tempat yang benar, tetapi tidak naik ke atas kereta yang sedang menunggu. Ngeh-nya setelah pintu kereta tertutup dan kami pun terdiam. Wkwkwkw >_<

Dan kereta selanjutnya membawa kami pulang. Setelah makan beberapa gorengan dan beli air minum pas keluar Museum tadi, kami udah lupa aja niatan mau pergi makan sore bareng. Iya! Kami baru keluar dari Museum pukul 4 lewat sekian. Nyampe stasiun hampir jam 5. Mungkin karena terlalu lelah? Bisa jadi!!! Hahaaa

Yumei turun di St. Pasar Minggu, sedangkan saya lanjut hingga St. UI.

Udah??
Ohh.. beluuuum!

Perjalanan 10.000 langkah Yumei dan Saya belum berakhir. Yumei, turun dari bis harus jalan kaki lagi hingga tiba di depan pintu rumahnya. Sedangkan saya, turun dari kereta, memilih berjalan kaki hingga ke kosan. Hahaa.

Nyampe kosan, tepar -_____- tapi masih harus BELAJAR, tugasnya menanti dari kapan tau. Hahaa.. Tidurnya? Teteup! Pukul 4 pagi! >_<

Yaaah… Petualangan seru, semoga bermanfaat untuk jiwa saya dan Yumei, menambah pengetahuan kami, dan menambah pengalaman jalan-jalan keliling Jakarta JALAN KAKI!! Hahaa..

Lumayan, ‘kan? Daripada lu manyun di kosan hari Minggu. :p

The End~

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 28-29 November 2013

Iklan

15 pemikiran pada “10.000 Langkah Menuju Museum Gajah Bersama Sahabat

  1. WOOOOOOOW banyak bener fotonya. ih saya pecinta museum. sayangnya surabaya nggak ada museum se-spektakuler ini yang koleksinya bejibun. nggak ada kebun raya juga kayak di bogor yang bisa dijadiin tempat galau 😀

    Suka

          1. Nggak pernah naik bus sih. Tapi ya nggak 2 hari juga ade -___-
            paling beda beberapa jam ma kereta kalau bus kan ada macet2nya dll.
            Kereta emang paling enak sih bisa tidur dengan nyaman 😀

            Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s