Masih inget cerita “10.000 Langkah Menuju Museum Gajah Bersama Sahabat“?

Nah, kali ini, saya mau menepati janji saya di tulisan itu: cerita tentang saya yang jalan kaki ke puncak!

Setelah kemarin-kemarin mengumpulkan serpihan ingatan, maka hari ini saya akan menuliskannya. 😀

 


Berbulan sebelum melakukan perjalanan panjang itu, seorang teman kami bercerita kalau dia bernazar akan berjalan kaki ke puncak kalau IP-nya memuaskan. Waktu dengar ceritanya tentang nazar itu, hal pertama yang terpikir oleh saya adalah, “ni orang waras nggak sih?” Tapi sejurus kemudian, saya yang heboh neror dia, “Kapan mau jalan ke puncak? Gue ikut!!” pake ngotot lagi. Hahaha…

Lalu, mereka, para lelaki bolang itu menyusun rencana. Dari yang rencana mau naik motor beberapa orang buat ngawal si penazar yang jalan kaki, sampai akhirnya muncul beberapa orang yang memutuskan untuk ikutan jalan. Setelah menyusun rencana sematang mungkin, dan mencari pasukan buat nemenin dia menuntaskan nazarnya, maka kami pun berangkat dengan amunisi secukupnya. =D

 

2 Juli 2012.

Setelah berkumpul di basecamp a.k.a kosan saya dan Safirah, kami pun berangkat ke St. UI menuju St. Bogor. (Jadi sebenarnya nggak jalan kaki dari Depok, melainkan dari St. Bogor. Hahah :p)

 

sesampainya di St. Bogor, kami segera melangkahkan kaki ke menuju Terminal Baranang Siang (EH? naik bis?) Ya, nggak lah! Cuma numpang lewat :p

di depan Kebun Raya Bogor
di depan Kebun Raya Bogor
kalau Rejak, teman kami yang bernazar itu, memanggil dua cewe cantik ini: "Pembimbing " selama perjalanan. Hahahaa
kalau Rejak, teman kami yang bernazar itu, memanggil dua cewe cantik ini: “Pembimbing ” selama perjalanan. Hahahaa

611068672

Trus, panggilan "pembimbing" berubah jadi "dua wanita tangguh" -_-
Trus, panggilan “pembimbing” berubah jadi “dua wanita tangguh” -_-

 

Sekitar pukul 10-an, kami sudah melewati Terminal Baranang Siang.

 

Tidak jauh dari Terminal Baranang siang, kami mengambil jatah istirahat pertama di Masjid Raya Bogor

pemandangan dari 'beranda' belakang Masjid Raya Bogor
pemandangan dari ‘beranda’ belakang Masjid Raya Bogor
Karena yang lain ga mau pose, ya udah saya aja yang pose. Hahaha >_<
Karena yang lain ga mau pose, ya udah saya aja yang pose. Hahaha >_<

Setelah beristirahat beberapa menit, mengisi bensin dan meregangkan otot, kami pun melanjutkan perjalanan.  Sekitar pukul 11.30 kami sudah di Jalan Tajur Raya, Bogor (berdasarkan live tweet-nya si penazar. Hahaa)

 

Setengah jam selanjutnya, kami kembali beristirahat di Masjid kedua: Masjid Jami Anni’mah. Saatnya menunaikan ibadah shalat Dzuhur! 😀

 

611074720
ngaso dulu lah, ya, sebentar hahaa.. Ini saya dan Safirah 😀
611076494
dan ini Asrof 😀

*yang bernazar kaga ada foto yeh? -_-a

Sudah merasa lebih adem karena selesai solat dan basah-basahan dengan air wudhu, saatnya melanjutkan perjalanan. Menurut laporan, perjalanan masih sekitar 15 kilometer lagi (tapi rasanya lebih deh, karena itu masih lama banget nyampenya hahah ._.)

teriknya Matahari memantul di jalanan Jalan Raya Ciawi/Wangun
teriknya Matahari memantul di jalanan Jalan Raya Ciawi/Wangun
Yang kepanasa, yang mengkerut keningnya, yang ikutan pose. (Hehe peace bu ^^v)
Yang kepanasan, yang mengkerut keningnya, yang ikutan pose. (Hehe peace bu ^^v)

 

Sudah berjam-jam rasanya berjalan di Jalan Raya Ciawi. Jalanan itu berasa tak berujung, euy. Sampai akhirnya kami menemukan penunjuk jalan. Puncak?? Jalan teruuuuuuuuuus…

611080583

 

Menjelang pukul 2, akhirnya, say good bye to Bogor City

 

Tidak jauh dari penunjuk jalan (kalau nggak salah ingat), kami menemukan Rumah Makan Padang. Beuh! Jauh-jauh jalan kaki ke puncak, nemunya tetap aja Rumah Makan Padang (kalau nggak warteg) Hahaa.. Mantep!

*siapa bilang si penazar kaga ada foto? Nih!! :p

Rejak –si penazar– dan Asrof nggak sabar nunggu makanan datang~

Yaps, istirahat beberapa menit sambil nurunin perut. Selanjutnya, langsung caw! Melanjutkan perjalanan yang masih sangat puanjang!! 😀

 

Di sisi Pasar Ciawi
Di sisi Pasar Ciawi
Lelah? Yang penting foto dulu~
Lelah? Yang penting foto dulu~

Kami berhenti beberapa kali di beberapa Masjid, seperti Masjid Nurul Huda dan Masjid… hmm ._. lupa. Sore hari, saat Ashar juga kami berhenti di rumah makan (?) yang banyak strawbery-nya oke, ingatan saya terlalu buruk! Hahaa Di rumah makan itu cuma numpang shalat. Asrof dan Rejak yang ternyata tidak men-jamak shalatnya, harus berhenti dan shalat dulu. Saya dan Safirah? udah dong, kan di-jamak :p

Setelah shalat, kami duduk-duduk sebentar di pondok kecil di tepi jalan yang sepertinya digunakan untuk ronda atau tempat nongkrong pemuda-pemuda/bapak-bapak di sana. Banyak bekas rokok soalnya. Hahaa (sayang fotonya nggak ada 😥 ).

 

Lalu, kami pun segera melanjutkan perjalanan.

Yak.. Puncak semakin mendekaaaat!!!
Yak.. Puncak semakin mendekaaaat!!!

Semakin semangat karena sudah berada tidak jauh dari “kawasan wisata Puncak”.

Hampir semua, (atau mungkin memang semua??) para pengendara mobil dan motor, serta angkot yang melewati kami bengong. Ngeliatin 2 cewe unyu dan lugu bersama 2 lelaki garong #oops berjalan di pinggir jalan. Ntah apa yang dipikiran mereka. Bagi kami, mah, yang penting hepi! Hahaha >_<

Saking hepi-nya…., ni dua bocah masih sempet mampir dulu ntah kemana –– Padahal udah diburu waktu –

di atap sebuah gedung-belum-jad-seutuhnya

Tapi nggak pa-pa. Daripada serius-serius amat di jalan, jadi makin lelah. Ya nggak?

Tuh, lihat, si Safira update status. Tanpa sadar udah welcome to wisata Puncak aja kan? Hahaha >_<

 

Dan jalanan mulai menanjak, Sodara-sodaraaaa

611092278

Ini saking semangatnya atau udah oleng? Hahaha
Ini saking semangatnya atau udah oleng? Hahaha

611099507

Emang selalu sadar kamera -_-
Emang selalu sadar kamera -_-

Dan tanpa sadar, Ashar sudah berlalu (ya iyalah, udah shalat dan istirahat juga kan tadi?), Magrib pun menjelang. Senja sudah menampakkan dirinya di ujung sana. Iya, tuuuh.. di ujung dekat si Puncak!

Senja di Cipayung
Senja di Cipayung

*nggak sih, itu di belakang, bukan ke arah Puncak. Hahaaa >_<

Dan ….

Matahari terbenam, hari mulai malam~

Kami pun segera mencari Masjid atau Mushalla terdekat untuk menunaikan shalat Magrib yang hanya diberi waktu sekian menit (1 jam ya? #malah nanya haha)

 

Usai shalat Magrib, tanpa aba-aba, kami langsung melanjutkan perjalanan di tengah kegelapan petang. Para ojek sudah sedari tadi memanggil-manggil. Angkutan umum tak lagi terlihat (ya iyalah, orang macet, angkotnya ntah dimana. Hahaa). Para penjaja vila juga tak bosannya menjajakan vilanya kepada kami (gratis mau deh, Pak) Hahaa

Sampai akhirnyaa…

Cisarua?? Wah!! Ini bukannya udah di Puncak?

Waaaah.. akhirnya yah :’)

Tapi tenaga sudah habis, Brooo :’) Sedang Masjid besar yang jadi tujuan kebanyakan orang-orang kalau ke puncak belum kelihatan, Broo. Bagaimana ini, Broo??

Jeng! Seketika udah sampai aja, kan, di Atta’awun. Hahaa

Tenang, nazarnya kan: “Jalan kaki ke Puncak”, bukan “Jalan kaki Ke Atta’awun”. Jadi, setelah tiba di Cisarua, bolehlah cari tebengan. Hahaha >_<

 

Yaps! Setelah malam mendatangkan gelap, lampu-lampu jalanan tidak semuanya yang menyala. Hanya bergantung pada lampu kendaraan yang lalau lalang. Kami yang kehabisan tenaga akhirnya sepakat untuk mencari ‘tumpangan’. Ya syukur kalo dapat tumpangan gratis beneran. Hahaha. Nyatanya, kami harus menumpang elf yang nggak gratis. Tapi, lumayan lah, dari pada lu manyun sampe besok pagi kaga sampe-sampe ke Atta’awun? Hahhaa

 

Dan kami pun melaju bersama Elf berwarna putih itu, menuju Atta’awun~

Kumel? Bodo amat! Yang penting foto dulu! Hahaha
Kumel? Bodo amat! Yang penting foto dulu! Hahaha

Dan setibanya di Masjid Atta’awun, kami pun langsung mengambil posisi untuk istirahat. Setelah shalat Isya, kami berkumpul lagi di sisi sayap kanan Masjid yang besar ini. Duduk mengisi amunisi, cerita-cerita, menikmati rembulan dan bintangnya, sampai akhirnya tertidur di sana -___-”

Menjelang subuh, sekitar pukul 3-an, saya dan Safirah melarikan diri ke dalam Masjid. Mencari spot nyaman untuk tidur. Dan… tiduuuuur.

Rejak dan Asrof?? AH, mereka udah gede ini, bisa ngurus diri sendiri! Wkwkwk >_<

 

3 Juli 2013

Selamat Pagiiiii!!!
Selamat Pagiiiii!!!

Setelah shalat Shubuh, saya dan Safira melanjutkan tidur lagi hingga pukul 7 pagi. Dari cerita Asrof dan Rejak, mereka nungguin di luar sambil foto-foto. Tapi foto mereka kok nggak ada? -_- Malah ada foto dua cewe ini #lah?

Sebelum pulang, pose lagi~
Sebelum pulang, pose lagi~

Yaps… bangun tidur, basuh muka, langsung turun menemui lelaki-lekaki kesepian itu. Dan berpose!! Hahaha >_<

 

Lalu pulangnya?
Ya naik angkot lah! Lo kata kita sanggup turun jalan kaki lagi -________- wkwkwk >_<

 

Begitulah! Cerita singkat perjalanan panjang kami. Gila emang. GILA!!! Kalau kata kakak saya, “Nggak ada kerjaan!” Hahaha

Sebenarnya, karena mau bantuin temen melunasi janjinya, solidaritas, men! Selain emang tujuan saya sebenarnya adalah buat main dan jalan-jalan. Karena saya PECINTA JALAN KAKI!!! :*

 

Setelah sekian lama nggak ke Puncak, lalu ke Puncak lagi naik motor, saya baru sadar: Perjalanan kami itu……jauh buanget loooooh .______.

 

sekian..

 

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 5 Desember 2013

Iklan

4 pemikiran pada “Walking to The Puncak!

  1. jalan kaki di gunung dgn trek terpanjang se-jawa sih bolehlah. di gunung gitu, ga mandi aja tetep kece cz udaranya dingin. tapi jalan kaki di perkotaan? berhadapan dgn macet, panas, belum lagi taruhan nyawa sama kendaraan. tapi seru sepertinya, bolehlah. kapan-kapan ajak saya dums ^_^

    Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s