Judul: After Orchard
Penulis: Margareta Astaman
Penerbit: Buku Kompas
Cetakan: Pertama, Agustus 2010
Tebal buku: 193 hlm
Bintang: 3/5

“After Orchard”. Satu dari tiga novel yang saya dapatkan langsung dari penulisnya plus tanda tangan, plus foto bareng! Hahahaa 😀

Novel ini menceritakan kehidupan, pengalaman dan penilaian tentang Singapura menurut Margareta Astaman selama ia tinggal di Singapura dan berstatus mahasiswi Nanyang Technological University. Sebuah novel yang mengungkap fakta di balik kemegahan Orchard Road, yang menjadi icon negara Singapura. Mengupas habis wajah lain dari Singapura dan penduduknya yang ramah dan selalu tersenyum yang sering kita jumpai di Changi Airport.

Yaps! “After Orchard” adalah sebuah buku, yang menurut saya, penuh akan kritik terhadap sistem yang terlahir di sebuah negara kecil, Singapura. Sistem yang menjadikannya negara maju dan mampu membentuk karakter masyarakatnya menjadi masyarakat yang kompetitif, aktif, ambisius, pekerja keras. Novel ini mengungkapkan kelebihan maupun kekurangan dari sistem itu sendiri. Sistem yang layak kita contek— seperti sistem denda barangkali? Yang bisa diterapkan di Indonesia dengan masyarakat “tajir” tapi kurang taat aturan— tanpa harus meninggalkan budaya yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat kita—seperti tolong menolong, senyum, toleransi dan berinteraksi misalnya.

Bahasa yang digunakan dalam novel ini lebih santai karena menggunakan bahasa pergaulan sehari-hari. Kalau saya pribadi, merasa seperti membaca buku harian seseorang. Dan benar saja, karena novel ini memang “disalin” dari blog pribadi Mbak Margie sendiri. Seperti halnya bahasa blog yang tidak terlalu mementingkan gramatikal dan kebakuan bahasa, buku ini pun juga demikian.

Banyak informasi, tentunya, yang bisa kita dapatkan dari buku ini. Informasi tentang kehidupan suatu kaum masyarakat di suatu wilayah yang berbeda dengan kita. Singapura sangat berbeda! Sangat jauh berbeda kehidupan masyarakat Singapura yang dilukiskan Margie dalam buku ini bila dibandingkan dengan masyarakat Indonesia. Dalam buku “After Orchard” terpampang jelas perbandingan budaya dan kebiasaan dua negara yang saling bertetanggan ini. Dan saya yakin, di balik penulisan buku ini pun tidak terselip niatan untuk menjelek-jelekkan Singapura maupun Indonesia. Pun tidak tampak keberpihakan penulis pada salah satu negara tersebut. Novel ini hanya memperlihatkan bahwa sebuah negara seperti Singapura bisa menjadi seperti sekarang ini dilatarbelakangi oleh banyak hal. Banyak hal pula yang harus dikorbankan untuk meraih kesuksesan dan menjadi negara “maju”.

 Dan seperti memberikan tantangan kepada setiap pembacanya: Mampukah Indonesia menjadi seperti demikian? Atau lebih tepatnya, Maukah?

Sebab, saya pribadi setelah membaca buku ini, malah semakin bersyukur terlahir, besar dan hidup di Indonesia. Meski cukup banyak bolong di sana-sini, birokrasi yang carut-marut, keamanan yang masih dipertanyakan, kehidupan sosial yang timpang, dan banyak lagi yang lainnya, Indonesia tetaplah negara yang tidak (atau belum?) menuntut rakyatnya untuk menjadi robot! Setidaknya, saya masih bisa menghabiskan waktu duduk berjam-jam di depan laptop tanpa dipenuhi rasa takut akan sesuatu yang memaksa untuk segera diselesaikan, tanpa harus takut terkalahkan dengan orang lain, tanpa harus tergesa-gesa melakukan hal apa pun, tanpa harus pusing dan merasa tertekan karena liburan nggak ngapa-ngapain!.

Dengan kata lain, tentu saya tidak mau menjadi bagian dari negara yang secara tidak langsung membentuk masyarakat apatis yang dengan tentangga sendiri saja tidak kenal! (Tapi untuk masalah ini kembali kepada diri masing-masing, sih. Karena jujur saja, saya sendiri tidak kenal tetangga kosan sendiri, selain sepupu saya yang kamarnya di sebelah kamar saya; Safirah, teman kampus yang kamarnya di seberang kamar saya; Dea, teman kampus lagi yang kamarnya cukup jauh, tapi saya kenal dan sering main ke kamarnya; dan Lia, teman SD yang ajaibnya bertemu lagi sini karena satu universitas. Hehee)

Lagi-lagi, saya tidak mewajibkan teman-teman harus membaca buku ini. Tapi kalau mau baca, silakan. Karena buku ini LAYAK dibaca, kok. Ambil yang positif-positifnya aja. Yang negatif, mari kita jadikan pelajaran untuk hidup yang lebih baik lagi 😀

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 5 Januari 2014

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s