Judul: Raksasa Dan Seribu Ekor Semut
Penulis: Salman Rusydie Anwar
Penerbit: DIVA Press, Jogjakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2009
Tebal Buku: 258 hlm
Bintang: 4/5

“Coba sekarang kau renungkan, apakah engkau bisa memenuhi semua kebutuhanmu dengan tenaga dan akal pikiranmu sendiri? Bisakah engkau mendapatkan semua hal yang kau inginkan tanpa harus ada keterlibatan pihak lain di luar dirimu? Jika kau merasa tidak bisa mewujudkan keinginanmu hanya dengan tenaga dan akalmu sendiri, bukankah dunia ini memang penuh dengan rumus bebagi?

“… Maka cobalah untuk sedikit mengerti bahwa engkau adalah bagian dari dunia ini yang memiliki sangat banyak keterbatasan-keterbatasan. Engkau terbatas dalam semua hal. Dalam hal usia, kau tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama dari yang kau inginkan. Engkau tidak akan selamanya sehat karena struktur tubuhmu mengandung hukum alam keterbatasan yang sangat sulit dilanggar.”

“Maka, apa susahnya seandainya engkau menyediakan peluang dan kesempatan kepada orang lain selama orang lain itu mampu memanfaatkannya dengan baik. Kemampuan yang kau miliki bukanlah suatu prestasi yang bisa kau raih sendiri. Ada orang lain di belakangmu yang secara tidak langsung telah ikut mendukung kesuksesanmu. Oleh sebab itu, jangan kau abaikan keberadaan mereka.”

Demi menyelamatkan kaumnya dari sifat-sifat yang dapat menghancurkan dunia, seekor semut tua menempuh perjalanan jauh dan melelahkan. Namlu namanya. Seekor saksi mata dari tindak tanduk kekejaman Raksasa yang telah memusnahkan nyaris seluruh semut yang sedang mencari makan—mengumpulkan remah-remah roti si Raksasa yang telah jatuh ke tanah, mengumpulkannya untuk dibawa ke sarang mereka yang kekurangan makanan dan dilanda bencana kelaparan. Puluhan tahun setelah pembunuhan yang dilakukan oleh si Raksasa yang beringas itu, Namlu yang telah menjadi Guru bagi kaumnya bermimpi tentang kehancuran dunia. Dan di dalam mimpinya itulah, ia mendapat titah untuk melakukan perjalanan: mendapatkan ilmu dan pelajaran tentang hidup lalu membaginya kepada seluruh makhluk, termasuk manusia.

Seekor semut tua yang di-guru-kan oleh kaumnya tersebut menjadi tokoh utama dalam cerita. Namlu sebisa mungkin mengingatkan kaumnya untuk selalu sadar akan hakekat dan tugas mereka sebagai seekor semut. Selalu ingat dan mematuhi hukum semut yang berlaku sudah sejak lama dan menjadi panutan mereka dalam bertindak. Namlu, yang sudah cukup sering berurusan dengan Raksasa dan manusia-manusia begitu takut jika suatu saat seluruh makhluk di muka bumi, termasuk kaumnya bertindak seperti manusia. Alangkah buruknya masa yang ntah akan menjadi nyata atau sebatas ketakutan Namlu semata.

Demi menjaga kaumnya dari sifat-sifat “mengerikan” itulah, ia percaya akan mimpinya. Namlu memutuskan untuk melakukan perjalanan, sesuai dengan perintah yang ia dapatkan di dalam mimpi.

Tiga orang suci telah menanti kedatangan Namlu: Kiai Arif, Kiai Saleh, dan Aki Pamungkas. Mereka telah siap dengan segudang ilmu dan pengetahuan serta pencerahan yang akan diberikan kepada Namlu yang memiliki semangat belajar yang tinggi meskipun ia adalah seekor semut. Dan perjalanan panjang itu pun, membuahkan hasil yang setimpal!

“Raksasa dan Seribu Ekor Semut” adalah buah karya Salman Rusydie Anwar, seorang penulis asal Jogjakarta. Melalui cerita fabel ini, penulis mencoba mengingatkan hakekat manusia di dunia. Mengingatkan hal apa yang seharusnya dilakukan oleh khalifah bumi tersebut. Pesan dan nasehat, sindiran dan kritikan tentang kehidupan manusia-manusia yang pura-pura lupa akan tugasnya di muka bumi, menjadi inti dari buku ini yang disampaikan melalui percakapan para tokohnya.

Meski agak bertele-tele, namun pokok permasalahan dalam cerita ini sangat jelas: manusia dan segala bentuk sifatnya. Sifat baik dan buruk. Manusia dengan sifat yang mulia akan dimuliakan pula hidupnya. Sedang manusia yang bersifat tercela, hanya akan membawa petaka, tidak hanya untuk dirinya, namun juga dunia. Dan buku ini mencoba membuka pikiran kita, memberitahukan hal-hal apa yang sekiranya dilakukan manusia dan melekat padanya dan dapat menghancurkan dunia.

“Raksasa dan Seribu Ekor Semut” memang layak dibaca! Sebuah buku reflektif, inspiratif dan imajinatif. Meskipun penyampaian amanah-nya agak membosankan karena terus-menerus diulang, secara keseluruhan buku ini mengandung pelajaran yang sangat berguna. Sebuah buku cerminan, pengingat, dan teguran untuk diri sendiri.

Awalnya saya kesulitan menyelesaikan buku ini. Saya sudah pernah membacanya namun hanya bertahan di baba pertama saja. Barulah beberapa hari yang lalu saya mencoba untuk membacanya lagi, dan bertekad untuk menyelesaikannya. Dan saya tidak menyesal. Meskipun sembari membaca saya selalu berpikir, “Ah, kalimat ini diulang lagi, diulang lagi.” dan beranggapan apa yang tertulis di dalam buku tersebut adalah sebuah angan yang utopis, namun saat ini pikiran itu berubah.

Kalimat-kalimat nasihat dan pengingat yang terus menerus diulang adalah sebuah penekanan serta pemaksaan agar kita ingat! Ingat kepada hal apa yang akan merusak dan merugikan diri sendiri serta orang lain. Kalimat-kalimat itu memang akan membosankan, namun disanalah letak pesan yang sangat tersurat yang patut kita garis bawahi dan kita camkan dalam hati. Sebuah upaya dari sang penulis untuk membuat pembaca tertampar berkali-kali, bahwa memang demikianlah yang terjadi di dunia ini—bisa jadi kita salah satu pelakunya.

Angan yang utopis memang wajar terpikirkan ketika membaca buku ini. Sebab buku ini begitu mendambakan perdamaian dunia, keselarasan dalam hidup, toleransi, tolong menolong dan segala bentuk sikap dan sifat yang arif dan bijaksana. Penulis begitu berharap umat manusia mau mengingat—tidak lagi berpura-pura lupa—tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Dengan akal, fikiran dan ilmu pengetahuan yang bertebaran dimana-mana, penulis mendambakan manusia-manusia yang cerdas dalam mengolah diri dan segala hal yang ada di bumi demi kesejahteraan hidup seluruh makhluk. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Harapan yang demikian, menurut saya tidaklah mudah untuk dicapai, mengingat manusia itu sendiri sudah terlalu pintar. Mereka pintar bermain kata, lihai bersilat lidah, dan cerdas menggunakan akal dan fikiran. Hanya saja, mereka lupa bagaimana cara mengikut sertakan hati dalam segala tindak tanduknya di muka bumi. Selama mereka enggan mengikut sertakan hatinya, harapan penulis hanyalah sebuah utopia penambah gurih tulisannya semata.

Namun, angan utopis tersebut setidaknya akan memiliki harapan untuk menjadi nyata ketika kita—sang pembaca mengembalikan pertanyaan dan pernyataan itu kepada diri sendiri.

Penulis hanya bertugas menyampaikan apa yang ia pikirkan. Dalam fabel ini, penulis telah sukses menyampaikan amanah dan nasihat serta manjadi pengingat bagi pembacanya. Sekarang tugas pembaca, apakah bersedia menerima lalu menelaah lebih jauh lagi segala nasihat yang tersurat dalam buku tersebut lalu menyebarluaskannya kepada sesama. Atau menutupnya sendiri seiring dengan menutupnya buku yang telah usai dibaca?

🙂

-Ade Surya Tawalapi-

Depok, 7 Januari 2014

[[ulasan di goodreads]]

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s