Itu alasan mengapa aku memilih untuk menjadi housewife full-time worker.

Meski aku tak terlalu yakin dengan alasan yang kubuat. Meski aku terkadang goyah karena penyebab-penyebab lain yang terpikirkan, aku tetap akan memilih menjadi housewife full-time worker.

 

Mama adalah seorang PNS. Beliau menghabiskan kira-kira sepertiga hidupnya untuk negara. Mengabdi menjadi pegawai PNS yang, akunya, sering cabut demi keluarga.

Ibu adalah seorang guru. Beliau menghabiskan kira-kira duapertiga hidupnya untuk negara. Mengabdi menjadi seorang guru lalu kepala sekolah yang, kata orang-orang, menjadi suri tauladan.

Kakakku adalah seorang akademisi, calon akademisi. Beliau menghabiskan masa mudanya untuk belajar, belajar, belajar dan belajar. Fokusnya adalah mengabdi pada masyarakat melalui pendidikan dan pertanian. Itu sebabnya dia mengambil S2 agar bisa menjadi seorang dosen yang ditempatkan di pedalaman timur sana, lalu dengan jalan itu memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan pertanian.

Aku….

Adalah gadis yang tak sedikitpun berniat terjun menjadi budak negara. PNS tak pernah masuk ke daftar pekerjaan yang akan kulamar kelak –seandainya aku akhirnya memilih untuk bekerja.

Meski menjadi guru pernah terbesit dan melintas menjadi pilihan cita-citaku, dia tak benar-benar kutekuni.

Akademisi, pemberdaya masyarakat. Hei! Aku bukan seorang gadis rajin seperti itu. Pikiranku tak pernah melulu tentang pelajaran, selalu bercabang. Dan cabangnya akan terus bercabang. Dan teh kehidupan akan terkalahkan oleh wadah-wadah yang mengalihkan perhatian. Artinya, menjadi akademisi sama seperti PNS. Tak pernah lolos masuk ke daftar pekerjaan yang kuminati.

Meski menjadi pemberdaya masyarakat adalah salah satu bidang yang menarik menurutku dan menjadi mereka yang bisa menolong banyak orang dengan memberikan pelayanan yang selayaknya adalah satu hal yang dapat menyenangkan hatiku, aku tetap muak tergerus oleh sistem. Ntah karena apa, tetap saja menjadi pemberdaya masyarakat mau tak mau harus mengikuti sistem-ntah-apa-dan-dari-mana.

Maka aku adalah gadis yang akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang housewife full-time worker.

Begini cerita asal mula munculnya ide ini…

Aku dikenal oleh diriku sendiri sebagai seorang yang rendah diri. Aku tak percaya diriku akan bisa seperti Mama, Ibu atau Kakak. Aku bukan perempuan tangguh seperti mereka. Kemampuan fokus di bidang yang sulit menyertakan hati dan perasaanku adalah satu hal yang selalu membebaniku. Aku terlalu memilih dalam melakukan sesuatu. Ya, aku terlalu membiarkan diri mengikuti ego dan suasana hati. “Let it flow”, kataku setiap kali orang bertanya bagaimana jika-maka kehidupan masa depanku.

Atas dasar kerendahdirian inilah akhirnya aku menilai pekerjaan yang kujamin merupakan pekerjaan tersulit di dunia ini adalah pekerjaan yang cocok untukku. Alasannya, karena…

Selain rendah diri, aku adalah orang yang berusaha sadar diri. Mama pun pernah bilang, aku adalah anaknya yang mudah sekali sadar diri. Masalahnya aku adalah anaknya yang juga paling susah mengubah diri. Dalam hal ini aku menyadari, urusan rumah tangga adalah hal aku senangi sejak kecil. Aku selalu senang memperhatikan Mama memasak, membersihkan rumah, menyuci-menjemur-menyetrika pakaian, dan segala hal-hal berbau ibu rumah tangga. Semakin kesini aku semakin menyadari, adalah hal yang menyenangkan jika suatu hari nanti anakku yang memperhatikanku melakukan semua hal itu.

Aku sadar diri dengan minatku ini. Sejak SMA. Aku sempat memutuskan untuk terjun ke bidang tata boga, karena tidak jauh dari urusan ‘rumah tangga’. Tapi Mama berharap cita-citaku lebih tinggi dari itu. Sesadar diri apa pun aku, Mama memang lebih mengerti siapa anaknya ini: gadis yang semangatnya cepat pudar. Pikiran Mama waktu itu, semangat untuk terjun ke dunia tata boga hanya karena tugas akhir salah satu mata pelajaran di SMA adalah memasak; membuat olahan makanan hasil fermentasi. Karena yang digunakan adalah dapur rumahku, aku menjadi semangat dan sangat ingin memiliki dapur sendiri. Terjun ke tata boga adalah salah satu jalan untuk mendapatkan dapur sendiri. Dan Mama tahu, semangat itu akan segera pudar.

Dan memang begitulah—saat itu. Aku masih sangat susah mengubah diri: mengubah kebiasaan bertindak sebelum berpikir, dan kebiasaan semangat hanya di awal saja. Semangat itu mengendur seiring berjalannya waktu. Menjadi seorang psikolog adalah cita-cita selanjutnya yang terpikir olehku yang lalu kandas hanya karena cerita dari abang dan Mama: praktik ke rumah sakit jiwa! Aku tidak membenci, tapi takut! Aku takut bertemu dengan orang gila. Bila harus memilih dikejar orang gila atau anjing gila, aku lebih memilih untuk tidak dikejar oleh mereka berdua. Ya, berjalan santai tanpa rasa panik memang lebih nikmat kan?

Tapi lalu, setelah memasuki dunia kuliah, aku semakin mengenal—semoga saja—diriku sendiri. Tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang kutekuni sekarang meskipun mereka menyumbang peran walau hanya sedikit. Kesadaran itu muncul setiap kali aku pulang ke rumah di masa liburan. Meski setiap kali pulang sekeluarga, ujung-ujungnya aku hanya akan menghabiskan waktu di depan komputer karena ada Kakak, jujur saja aku tetap menyenangi pekerjaan rumah. Ada rasa yang aku tak tahu bagaimana harus menceritakannya, yang menggebu setiap kali aku mendengar segala hal yang berhubungan dengan ‘rumah’.

Dan alasan terkuat adalah aku ingin melahirkan generasi yang tidak mengecewakan, paling tidak, tidak mengecewakanku dan keluargaku.

Aku ingin memperaktikkan semua jawaban yang diberikan Mama atas pertanyaanku tentang bagaimana mengurus suami dan anak. Aku tertantang sendiri apakah aku mampu menjadi lebih baik dari Ibu dan Mama di bidang ini? Mereka, dua perempuan terhormat yang telah melahirkan generas-generasi membanggakan. Melahirkan orang-orang sukses yang mandiri—apakah aku termasuk? Hahaa. Dan aku merasa tertantang saja. Merasa dengan hasil yang mereka perlihatkan padaku, mereka menantangku apakah aku bisa mengurus keluargaku kelak?

“Menjadi wanita karir adalah pekerjaan mulia, karena selain mengabdi pada keluarga, kita pun bisa mengabdi kepada masyarakat,” jawab seorang finalis Miss Indonesia 2014.

Benarkah?” tanyaku.

Mungkin, ntah di belahan dunia mana—bisa jadi tetanggaku sendiri? Atau tetanggmu?—berhasil menjadi seorang ibu yang perfect seperti itu. Tapi, bolehkan aku berkata bahwa itu hanya 1:1000? Aku melihat, ada banyak wanita karir di sekelilingku. Lalu apa yang kulihat? Hal-hal mengecewakan dan menyedihkan menurut pandanganku. Dan aku tak mau ‘kesedihan’ itu menimpa keluargaku kelak. Menjadi seorang wanita karir—kalau tak pintar-pintar—hanya akan meninggalkan luka pada orang-orang terdekat. Jangan…jangan sampai nanti mereka malah menuntut ‘banyak’ di hari tua kita kelak.

Aku tidak ingin suamiku diurus oleh pembantu rumah tangga karena aku terlalu sibuk ‘mengurus’ karirku.

Aku tidak ingin anak-anakku diajar oleh mahasiswa-mahasiswa yang mencari ‘uang jajan tambahan’ karena aku terlalu sibuk ‘mengurus’ ini itu.

 

Ah, ini berhubungan dengan ideologi dan idealisme. Plus latar belakang keluarga! Aku berasal dari keluarga yang mengutamakan agama dan pendidikan yang berdasar dari ajaran keluarga. Maksudku bekalnya diajarkan oleh keluarga sendiri, berkiblat pada Qur’an dan Hadist. Meski hasilnya tak selurus yang diharapkan Ibu dan Mama—karena tetap saja ada yang ‘melenceng’ dari idealnya Ibu dan Mama—tetap tertanam di hatiku harapan mereka. Yang kemudian menjadi harapanku untuk keluargaku kelak. Maka satu-satunya cara yang terpikir adalah menjadi housewife full-time worker—karena aku sadar, aku takkan mampu seperti Ibu, Mama atau Kakak.

 

Dan begitulah, aku semakin yakin untuk menjadi housewife full-time worker.

Demi suamiku, anak-anakku, dan keluarga kecilku kelak…

-ast-

PPA 62, 23 Februari 2014; 01.26 WIB

 

 

Iklan

10 pemikiran pada “Catatan. #40

  1. ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia, mengurus anak dan suami tak semudah yg dibayangkan orang.
    justru itulah pengabdian sesungguhnya.
    well, kalau keuangan keluarga sudah aman sih.
    😀

    well, istriku bekerja dan aku membebaskannya untuk memilih jalan hidup. mau kerja/jadi ibu rt. go ahead!

    Suka

    1. setuju juga deh sama masnyaa… hahaa.. 😀

      nah, itu juga yang menggoyahkan niat untuk menjadi ibu rumah tangga (saja): keuangan. ya untung kalo dapet suami berpunya, kalau nggak? kan nggak mungkin dibiarin dia banting tulang sendiri. yah, sampai saat ini kemungkinan pekerjaan lain yang terpikir oleh saya untuk bantu-bantu suami kelak adalah menjadi guru bimbel atau privat atau menjadi penerjemah. dan dua-duanya bukan pekerjaan yang mudah. Hahahaa -_-”

      saran, ridha dan kebebasan dari suami juga memperngaruhi sih sebenarnya, berdasarkan apa yang saya amati karena kebetulan sampai detik ini saya masih berstatus pengamat. hahaa. :p

      Suka

        1. hahaha.. tapi itu benar juga sih kalo dipikir-pikir. Karena pengalaman adalah guru yang tidak pernah salah, kan? Jadi emang harus mengalami sendiri dulu baru tau mana yang ‘seharusnya’ dan ‘cocok’ ! :p

          Suka

    1. pilihan ada di tangan masing-masing sih. beda kepala beda pikiran dan pendapatnya. hahahaa..

      tapi, ibu rumah tangga nggak berarti nggak bisa update dandanan, nggak berarti nggak bisa tau soal dunia luar, nggak berarti obrolannya nggak bisa nyambung sama suaminya. hahhaa..

      it’s all depend of the people =D

      Suka

  2. “Demi suamiku, anak-anakku, dan keluarga kecilku kelak…”
    Sugooiii… keren banget. Suka banget dengan kutipan ending ini. Mungkin menjadi seorang wanita karir akan memberikan manfaat pada segelintir orang di perusahaan saja. Tapi, dengan menjadi seorang ibu sepenuhnya, akan memberikan manfaat bagi keberlangsungan bangsa dan negara. Bangsa ini merindukan sosok-sosok ibu yang melahirkan orang-orang besar. 😀

    Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s