Judul: Mereka Bukan Anakku: Jalinan Kasih yang Tersisih
Penulis: Torey L. Hayden
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Agustus 2004
Tebal Buku: 548 hlm.
Bintang: 5/5

“Jadi, beritahu aku rahasia agar tetap sabar dan bertahan dalam tekanan dari segala sisi: sistem yang tak kunjung tepat, orang-orang yang tak mengerti, anak-anak yang tak juga keluar dari dunianya sendiri. Beritahu aku caranya, Torey. Beritahu aku.”

Begitulah yang terus saya katakan setiap kali mengakhiri buku bacaan karya Torey Hayden. Setelah terhipnotis berhari-hari, saya tetap terpengaruh kisah-kisah membahagiakan pun ketidakberdayaan Torey dan anak-anak yang tak beruntung itu, berhari-hari setelahnya. Sebuah buku catatan perjalanan yang menakjubkan!!

Buku “Mereka Bukan Anakku: Jalinan Kasih yang Tersisih” adalah salah satu buku yang mengangkat kisah perjuangan Torey Hayden dalam sebuah ruangan di sudut gedung sekolah. Kelas khusus. Kelas yang bagi sebagian orang tidak ada gunanya, buang-buang waktu dan tenaga, dan dipandang sebelah mata. Tapi bagi sebagian kecil– termasuk yang selalu datang ke kelas itu setiap harinya– kelas itu adalah kehidupan, dewa penolong, tempat pelarian, tempat mengadu, tempat mencari apa yang hilang, tempat menenangkan jiwa dan pikiran. Bagi Torey sendiri, kelas itu adalah tempat untuk mengenal yang tak bisa dikenal, tempat menemukan dirinya sendiri, tempat kebahagiaan yang dia cari berada.

Ada empat anak istimewa yang menjadi pusat perhatian Torey dalam buku ini. Tiga di antaranya selalu mempertanyakan mengapa ada “orang asing” yang mau peduli pada mereka, dan mengapa “orang asing” itu meminta mereka untuk mengerti dan peduli pada sesuatu yang tidak bisa dimengerti dan tidak mau peduli? Sedangkan yang satunya, terlalu menikmati dunianya sendiri meskipun ia “pulang” sesekali dan melihat apa yang dikerjakan Torey.

Boo, Lori, Tomaso dan Claudia.
Empat bocah dari latarbelakang dan permasalahan yang berbeda bersatu dalam satu ruang. Bukan dari Torey kita akan banyak belajar. Tapi dari mereka semua tamparan itu muncul. Mereka memang mencari guru untuk diri mereka sendiri di ruangan itu. Tapi sesungguhnya, merekalah yang mengajarkan banyak hal pada Torey, padaku, dan kamu– kita, yang melahap habis buku ini sembari menikmati secangkir kopi atau teh di senja yang tenang.

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 24 Maret 2014

*berikut beberapa kutipan dari buku ini yang menarik perhatian saya (klik)

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s