Mika menyadari sudah tak bisa lagi dia berada di antara orang-orang itu. Dia memutuskan untuk pergi saja. Sayangnya, mau melangkah kemana dia tak tahu. Akhirnya dia hanya duduk di tangga paling bawah. Menunggu keputusan dari otaknya yang sedang mengadakan meeting dengan hati. Menentukan langkah yang masuk di akal dan berkenan di hati. Duduk. Hanya itu saja yang dia lakukan untuk beberapa lama. Menunggu.

***

Berbulan telah berlalu sejak Mika memutuskan untuk pergi dari orang-orang yang tak lagi membuatnya nyaman. Namun Mika, masih dengan pakaian yang sama, dandanan yang sama –hanya saja mungkin sedikit lebih kumal–, tetap duduk di tempat yang sama. Saat ditanya oleh salah satu orang yang membuatnya tak nyaman itu, dia hanya berkata, “Menunggu keputusan.” Rupanya Mika masih menunggu hasil keputusan rapat hati dan pikirannya yang semakin lama semakin bekerja sangat lambat.

Ku pikir, Mika itu sudah sinting. Dia terlihat tak pernah mandi. Meski dandannya tidak berubah tapi dia kumal. Terlihat bahwa dia memang tidak mandi sejak ia mulai duduk di sana. Dia juga seperti tidak makan. Dia kurus. Tirus! Ntah apa yang dipikirkan orang-orang yang tinggal di sini. Apa mereka tidak melihat ada orang di sana yang sepertinya sudah tidak bisa bergerak karena kelaparan itu? Ku rasa dia juga tidak tidur. Apa mungkin? Lingkar matanya terlihat sangat jelas. Hitam pekat dan berkantung. Bola matanya juga memerah. Yang paling membuatku heran, bagaimana bisa dia duduk berlama-lama di sana tanpa harus ke kamar mandi? Kau tahu maksudku kan? Ritual setiap manusia. Apa jangan-jangan dia buang air di celana? Di sana? Ih! Betapa baunya tempat itu. Sudah pasti, kan? Berbulan lamanya dia tidak beranjak dari tangga paling dasar di gedung itu. Aku curiga, mengapa tak satu orang pun yang mau memindahkan seonggok daging, ah bukan, seonggok tulang tak berdaging itu dari sana ke tempat yang lebih layak? Maksudku, kau lihat saja. Dia, dengan kondisi memprihatinkan itu, duduk di tangga yang langsung menghadap lobi gedung. Sudah pasti semua orang yang keluar-masuk gedung itu pernah melihatnya. Apalagi dia duduk di tangga yang menjadi akses satu-satunya untuk ke lantai dua dan tiga karena gedung ini hanya menyediakan lift dari lantai tiga. Apa kata orang-orang tentangnya. Terlebih lagi, dia bisa dijadikan kambing hitam atas buruknya image gedung ini, kan? Tidak mungkin tak ada satu orang pun yang sadar akan keberadaannya, kan?

Sempat pula aku berpikir, apa hanya aku yang menyadari hal ini? Atau, hanya aku yang terlalu ambil pusing dan sok peduli? Ini adalah kali ke lima aku datang ke gedung ini dan menemukan kondisi Mika seperti itu. Aku tidak tinggal di sini. Aku hanya menjemput temanku yang tinggal di lantai tujuh gedung ini, bersebelahan kamar dengan Mika. Temanku itu pernah memperkenalkanku pada Mika sebelumnya. Sejak saat itu, kami hanya bertegur sapa alakadarnya setiap kali bertemu di lobi. Dia juga tidak pernah lupa untuk tersenyum. Saat aku bertanya tentang Mika dan kondisinya itu, temanku itu menolak untuk menjawab. Dia tidak berkata, “jangan tanyakan itu padaku!” atau kalimat semacam penegasan bahwa aku tak boleh bertanya. Dia hanya pura-pura tidak mendengar pertanyaanku namun segera mengalihkan pembicaraan sehingga aku tak punya kesempatan mengulang pertanyaan yang sama.

Mika yang sempat kukenal sebentar itu adalah gadis yang ceriwis meski aneh dia tak pintar berbasa-basi di hadapan orang yang baru dikenalnya. Dia pemalu tapi matanya selalu berani menatap lawan bicara. Dia pendiam tapi sangat pintar berargumentasi. Dia adalah gadis manis yang baik hati. Cerita temanku, di sekolah dia bukan termasuk golongan anak pintar, tapi Mika cukup berbakat. Dia pintar bermain musik. Gitar adalah sahabatnya sejak ia masih di bangku sekolah dasar. Keahliannya di bidang kerajinan tangan sangat banyak, seperti kerajinan tangan dari origami, kain flanel atau kertas biasa. Dia juga pintar merajut, menyulam dan menjahit. Dia juga sangat suka memasak. Dengan penggambaran hidup yang seperti itu aku sudah bisa membayangkan bahwa hidupnya nyaman dan menyenangkan. Dia menyukai semua yang dilakukannya dan dia menguasainya. Apa lagi yang kurang? Pacar? Ah! Dengan bakat yang sangat banyak itu, lelaki mana yang tidak bersedia antri menunggu jawabannya atas pernyataan cinta mereka?

Namun Mika yang sekarang ada di tangga itu hanyalah seonggok tulang tak berdaging, yang menggeser badan sedikit pun tidak ketika ada orang lewat di tangga itu. Mika yang duduk di tangga itu seperti orang asing yang sama sekali tak pernah ku kenal, yang sama sekali tak pernah ku tahu cerita tentangnya. Binar matanya sudah lama meredup. Senyum cerianya sudah lama pudar. Suaranya tak lagi pernah terdengar.

Dan aku masih penasaran. Tiga jam sudah aku duduk di sini menunggu temanku itu –ntah apa yang dia lakukan di kamarnya, aku tak peduli– tak satu orang pun yang kulihat bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk melihat ke arah gadis itu. Tak ada lagi yang bersedia bertanya, “Mika, sedang apa kau di sini?” padanya. Ada apa sebenarnya? Apa mereka mencoba mengabulkan keinginan Mika, yang ingin pergi dari lingkungan yang katanya membuatnya jengah ini? Karena Mika tak kunjung pergi, mereka yang mulai tak peduli. Begitu? Tapi……

Hai, Mika! Apa kabar?” tanyaku. Sudah lelah aku menunggu adanya volunteer yang memberikan pertanyaan itu pada Mika. Tapi… Hei! Ini kali pertama aku yang menegur Mika. Biasanya, dulu, dia yang menyapaku terlebih dahulu. Menepuk pundakku atau sekedar tersenyum.

Mika?” tanyaku lagi. Matanya menatap mataku. Yang satu ini sepertinya tidak berubah. Dia masih memiliki keberanian untuk membalas tatapan orang lain. Meski kosong.

“Kamu sudah lupa caranya berbicara, ya?” tanyaku berusaha menggodanya.

Gilang?” suara Misya, temanku itu, mengejutkanku.

Ah, Hai. Aku hanya penasaran, mengapa Mika masih duduk di sini. Jadi, ya… Aku coba bertanya saja. Tidak bermaksud mengganggunya, kok.”

“Tapi, nggak ada siapa-siapa di sana, Lang.”

Hah? Kamu nggak lihat….,” 

Aku tak bisa menyelesaikan kalimatku. Karena memang tak ada Mika di situ. Tidak ada Mika di tangga itu.

***

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 31 Maret 2014

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s