Dia tatap aku

Teliti.

Kupikir dia pikir

aku senang.

Dia benci kami

Dari matanya kubaca

Geraknya

hindari aku, selalu.

 

Ada jarak

dibuatnya.

Hari-hari belakangan

semakin jauh.

Dia benci, masih!

Kupikir dia pikir

tak tahu aku.

Tapi tidak!

Aku tahu,

mengerti.

Tatapan perentang jarak

aku kenal.

Aku tahu.

 

Dan cemburu.

kupikir dia tidak tahu

Tatap bencinya

ada cemburuku.

Jaraknya,

simpan iriku.

Hati sakit sudah tak sakit

Ngilu sudah tak ganggu

Tapi benci

ingin aku rasai,

sekali.

Mengerti.

Ada harap tatapku dipahami.

 

Kami ini satu

Kami ini sama

 

Dia tatap aku

kali pertama

dengan teliti.

Ku tatap dia

pertama kali

dan termangu.

 

Ada satu

dia masih benci.

Dia tidak mau begini,

begitu.

Bebas, dia mau.

 

Ada beribu

aku masih iri.

Pun tak mau begini,

begitu.

Bebas, ku mau.

 

Tapi.

Kami harus.

Dia duduk,

aku duduk.

Tempat ini,

kami benci.

Sama-sama benci.

 

Tapi aku

di sebelahnya

duduk

jadi orang kubenci

dan dia benci

 

Ah!

 

 

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 29 April 2014

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s