Aku mendapat kabar dari Misya. Mika mengamuk di lobi tadi malam. Sebagian orang yakin kalau Mika sedang mabuk, sebagiannya lagi berpikir kalau dia sudah gila. Stres!. Tapi Misya, satu-satunya orang yang berani –lebih tepatnya memberanikan diri dan harus berani– mendekatinya, sama sekali tidak mencium bau alkohol di mulutnya. Misya juga tidak percaya kalau Mika gila. Tidak mungkin Mika gila, katanya. Kata-kata Mika yang teringat oleh Misya dan lalu diceritakannya padaku adalah rentetan kata-kata putus asa dan tidak percaya. Mika memutuskan untuk pergi. Dia bilang, dia mau pergi saja dari apartemen itu. Mika sudah muak dengan kepura-puraan orang-orang yang tinggal di apartemen itu, termasuk Misya.

Aku sedikit heran saat Misya bercerita sambil terisak-isak tentang kejadian malam itu. Ada hubungan apa di antara mereka sehingga Misya seperti begitu terpukul dengan pernyataan Mika itu. Tapi aku tak berani bertanya. Aku hanya diam dan mendengarkan. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang, pikirku.

Misya masih menangis. Tapi terus berusaha untuk bercerita. Malam itu juga Misya membawa Mika ke kamarnya. Mika sudah cukup tenang, sebenarnya, tapi dia tidak bisa menemukan kunci kamarnya sehingga Misya meminta Mika untuk menginap di kamarnya saja. Mika mau tidak mau akhirnya mengiyakan permohonan Misya.

Ini adalah kali pertama sejak sepuluh tahun yang lalu. Akhirnya aku bisa tidur sekamar lagi dengannya. Akhirnya aku bisa tidur sekamar lagi dengan Kakak.”

Apa?” tanyaku. Misya tidak perlu mempertegas dengan kata-kata. Dari semua sikapnya selama ini, dari semangatnya bercerita tentang Mika selama ini, akhirnya aku mengerti, benang merah yang menghubungkan dua orang yang kupikir adalah dua orang asing yang baru kenal saat mereka tinggal di apartemen itu.

Rupanya Mika adalah kakak Misya yang lahir lima menit lebih cepat darinya. Mereka kembar. Ketidakmiripan yang kau lihat di wajah mereka adalah karena kecelakaan. Misya tertabrak mobil di perjalanan pulang ke rumah, di hari terakhir mereka ujian kelulusan sekolah dasar. Wajahnya menyapu aspal. Kepalanya mengalami benturan yang cukup kuat. Sedangkan Mika hanya terpaku di pinggir jalan melihat adiknya melayang dan jatuh bersimbah darah.

Orang tua mereka, yang sudah tidak tinggal seatap lagi, akhirnya menyetujui saran dokter untuk menjalani operasi plastik. Operasi berjalan lancar tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Mika dan Misya tak lagi seperti pinang dibelah dua. Mereka sangat berbeda. Mika tidak mengenal Misya bukan hanya karena wajah mereka yang sudah berbeda, namun juga karena trauma yang dialami Mika setelah melihat kecelakaan itu, membuatnya hilang ingatan. Ia bahkan tak ingat siapa-siapa. Dia tidak bisa mengingat apa-apa.

Melihat kondisi Mika yang seperti itu, ayah mereka menawarkan diri untuk merawat Mika sedangkan Misya tetap bersama ibu mereka. Keputusan ini tidak pernah disetujui Misya yang sama sekali tidak lupa siapa kakaknya padahal kepalanya membentur aspal cukup keras. Ia berpikir dengan memisahkan mereka hanya akan membuat Mika semakin lupa padanya dan merasa kesepian. Jelas, anak kembar tak pernah mau dipisahkan, kan? Sayangnya dia hanyalah seorang gadis kecil yang baru mengalami kecelakaan. Kepanikan Misya hanya dianggap sebagai trauma kecelakaan. Pemisahan ini hanya sementara sampai Mika benar-benar sembuh. Tidak berarti mereka dipisahkan selamanya, katanya.

Mika tinggal bersama Ayah karena Ayah tinggal di Ibukota dan bekerja di Asosiasi Perlindungan Anak. Orang-orang di Asosiasi Perlindungan Anak pasti tahu bagaimana cara mengembalikan ingatan Mika.

Sayangnya tidak demikian.

Yang terjadi adalah Mika tak pernah lagi ingat bahwa dia masih punya ibu dan adik kembar. Ayahnya yang berjanji akan mengembalikan ingatannya itu malah berusaha untuk membuatnya tetap lupa. Ayah mereka lalu menikah lagi. Dan kurasa, aku tak perlu menceritakan bagaimana seorang ibu tiri pada umumnya.

Cerita Misya siang itu terhenti karena telpon dari apartemen –aku tak lagi heran mengapa pihak apartemen selalu menelpon Misya setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan Mika. Mungkin mereka sudah tahu?– yang mengabarkan kalau Mika mengamuk lagi di lobi. Di siang hari! yang benar saja? Aku dan Misya segera melaju ke apartemen yang jaraknya cukup jauh dari tempat kami berada sekarang.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami baru tiba di apartemen. Mika sudah tenang rupanya. Dia sudah duduk di tangga itu. Pakaiannya rapi dan modis, seperti biasanya. Make up-nya sedikit luntur, mungkin karena air mata atau keringat?. Kepalanya menyender di pegangan tangga. Sedangkan kedua tanggannya terlipat di atas lututnya. Matanya sudah kosong. Cahayanya sudah redup. Kata satpam apartemen, kami hanya terlambat lima belas menit. Berarti Mika masih terus mengamuk selama empat puluh lima menit sejak pihak apartemen menghubungi Misya.

Kak, ngapain duduk di sini? Ke kamar yuk.” kata Misya, pelan. Lebih seperti berbisik.

Menunggu keputusan!” katanya dengan suara jutek tapi dengan wajah yang datar.

Misya belum menyerah. Dia masih berusaha membujuk Mika untuk pergi ke kamar. Tetapi Mika terus menjawab dengan pernyataan yang sama. Ntah bagaimana kelanjutannya, aku tidak tahu. Di saat aku sedang menunggu reaksi lain dari Mika, ibuku menelpon dan aku harus segera pergi. Itu kali terakhir aku mendengar suara Mika dan cerita Misya tentang Mika.

***

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 31 Maret 2014

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s