Kurasa kau harus berpikir berulang kali sebelum benar-benar bercerita padaku tentang “Keluarga Bahagia”. Mungkin idealnya adalah seperti yang kau utarakan. Idealnya adalah sebuah kisah yang berkelok-kelok tapi berujung happy ending. Idealnya adalah sebuah cerita yang punya masalah tapi selalu mampu menyelesaikannya bersama-sama anggota keluarga lainnya. “Keluarga Bahagia” yang ideal memang seperti yang kau ceritakan, seperti keluargamu, menurutku.

Tapi bagaimana jika kita keluar dari dunia ideal? Mari kita lihat sendiri kenyataannya, keadaan sebenarnya. 

Tidak semua yang berpikir secara ideal sepertimu, dan keluargamu. Pun alam tidak selalu berlaku adil. Mungkin kau adalah orang yang sangat beruntung. Permasalahan keluargamu hanya sebatas selisih paham karena pembicaraan di meja makan, lalu semua kembali membaik setelah makan malam usai. Bisa jadi permasalahan terbesarmu adalah ketidaksepakatanmu dengan ayahmu ketika kau memutuskan untuk kuliah di suatu tempat, atau di satu jurusan, yang tidak disuka, yang tidak diharapkan ayahmu. Atau malah permasalahannya hanya sebatas perkelahian kecil kakak-adik, yang “dekat, angkat senjata; jauh, ingin bersama”. Yaaah.. permasalahan-permasalahan kecil yang biasa muncul dalam “Keluarga Bahagia” yang ideal. Yang katanya, penting untuk mempererat hubungan, yang semakin merekatkan hati dan jiwa antaranggota keluarga. Yaah.. idealnya…

Tapi bagaimana jika yang terjadi tidak hanya sebatas itu? Bagaimana jika perselisihan di meja makan terus berlanjut hingga pagi menjelang. Kala sarapan tak lagi senyaman menikmati kopi atau teh pagi dengan roti tawar yang lembut? Kala sarapan tak lagi senikmat menyantap nasi goreng spesial buatan ibu? Dan terus berlanjut hingga siang, sore, malam, dan kembali pagi. Bagaimana?

Bagaimana jika ketidaksepakatan anak-ayah itu menjadi bom waktu di dalam rumah? Yang bisa menjadi pemicu rentetan permasalahan lainnya. Yang menjadi dalang semua kesalahpahaman dan ketidakpercayaan yang muncul di tengah-tengah kehangatan keluarga. Bagaimana?

Bagaimana jika permasalahannya lebih berat dari semua “basa-basi” yang kau sebutkan?
Bagaimana jika permasalahannya sudah mengikutsertakan hati, cinta, setia dan ego?

Bagaimana?

Pernahkah kau berpikir? Di balik “Keluarga Bahagia”-mu, ada coreng yang dilakukan seorang anggota keluarga. Ayah, atau ibumu berselingkuh. Menjadikan rumah tak lagi nyaman–karena tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau menjadi “baik” dan memulai kisah baru yang lebih baik penuh kesetiaan. Ada anak yang frustasi dengan keadaan itu, lalu menambah coreng: anak perempuan yang MBA, anak laki-laki yang terjerat kasus narkoba–bahkan pembunuhan? pemerkosaan? apa saja! Apa saja bisa terjadi hanya karena satu masalah ini. Hanya karena kesetiaan. Setia. Setia.

Terpikirkah olehmu? Seandainya “Keluarga Bahagia”-mu itu lupa arti keluarga dan setia???

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 6 Mei 2014

Inspirasi? kupikir ini ketakutan,
kisah yang tak pernah kuinginkan,
–tidak sekalipun kita inginkan.
Bahkan sekedar menjadi mimpi pagi ini. Ck!
Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s