u99Kf
Sico dan 4 bayi mungilnya, 8 Mei 2014

Tengah malam, 6 Mei 2014. Terdengar suara-suara lucu yang sangat saya kenal. Hanya sebentar saja, karena ketika saya mencoba menajamkan telinga dan mendengarkan dengan seksama, suara itu hilang. Awalnya sempat terpikir, “Sico melahirkan?” tapi kemudian, “Ah, mungkin halusinasi.”

Siang hari, 7 Mei 2014. Saya menemukan sesuatu berkat suara-suara lucu itu. Saya melihat mereka di kardus kecil. Memanggil-manggil ibunya. Sedang si Ibu dengan nyaman tidur di bangku yang jauh dari kardus-kardus itu. Saya bahagia. Selalu bahagia ketika melihat kucing saya berhasil melahirkan. Namun kali ini saya curiga, “Mengapa Sico berlaku seperti tidak mendengar sesuatu? Ini anak-anaknya, kan??” Saya lalu mencoba mendekatkan Sico pada bayi-bayi lucu itu. Namun yang terjadi, menghancurkan rasa bahagia dan haru saya. Sico menghindar, seolah jijik dan tak mau tersentuh seujung jari pun. Dia kemudian melenggang pergi, seakan tidak ada apa-apa, tidak terjadi apa-apa.

Malam hari, masih di tanggal yang sama. Saya dan Dea berusaha mempersatukan Ibu dan anak-anaknya itu. Sico bahkan kami paksa masuk ke kardus yang berukuran lebih besar dari sebelumnya, tempat “penyelamatan” anak-anak mungil itu oleh penjaga kosan. Yang terjadi, Sico malah mencakar kami. Lalu berlari pergi. Pilu melihatnya!

Menjadi PR. Meski tidak ada perintah, tidak ada kewajiban, tidak ada yang meminta. Saya merasa harus melakukan sesuatu agar Sico mau mendekati anak-anaknya. Menyusui mereka! Sudah seharian! Sudah seharian Sico tidak menyentuh anak-anak itu, artinya dia sama sekali belum menyusui mereka. Ada kekhawatiran pada diri saya, yang membuat rasa sedih dan iba menggebu-gebu. Konsentrasi saya terpecah setiap kali mendengar bayi-bayi itu menangis. Ketika melihat keluar, yang terlihat hanya setumpuk bayi-bayi kucing di dalam kardus yang tidak dipedulikan Ibunya. “Pasti karena ada campur tangan manusia, nih!” pikir saya.

Saya bukan ahli kucing. Saya bukan super-maniac kucing. Saya bukan majikan yang baik. Tapi saya tahu kucing cukup baik! 19 tahun, saya pikir, bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal perilaku kucing. Selama 19 tahun itulah saya memelihara kucing dan cukup mengerti gelagatnya. Termasuk gelagat acuh dan masa bodo Sico terhadap anaknya. Benar saja, petugas kosan langsung menyentuh bayi-bayi kucing itu dengan tangan mereka, memindahkannya ke kardus, ntah itu dengan sepengetahuan Sico atau tidak. Yang jelas, Sico sudah pasti mengira itu bukan anaknya. Ada bau-bau asing yang tertempel di bayi-bayi itu.

Tengah malam, menjelang pagi. Saya turun ke bawah dan menggendong Sico, memaksanya masuk ke kardus itu. Bayi-bayi itu pasti sangat lapar!! Kedinginan! Sudah pasti. PASTI! Mereka butuh Ibunya. Mereka butuh Sico!

“Perang” saya dan Sico berlangsung hampir 30 menit. Sico sama sekali tidak mau tahu apakah itu anaknya atau bukan, sekedar menciumnya saja tidak mau, sedangkan saya bersikera memaksanya tetap di dalam kardus. Sico mencakar saya, saya memukulnya lalu menariknya lagi masuk ke kardus. Begitu terus sampai akhirnya saya menyerah dan kembali ke kamar. Menangis. 😥 😥

Pagi pun akhirnya datang sudah. Sico sudah tertidur nyenyak di atas meja di ruang bawah. Anak-anaknya masih terus menangis. Memanggil-manggil Ibunya yang “lupa” siapa mereka. Saya hanya bisa menghela napas. Kesal! Ntah kepada siapa: Sico yang bodoh atau petugas kosan yang terlalu pintar.

AWc3v

Siang hari, 8 Mei 2014.  Sepulang dari kampus, tempat yang saya tuju adalah kardus Sico. Masih. Bayi-bayi itu masih menangis memanggil Sico, sedangkan Ibunya ntah kemana. Saya mencari-carinya di kosan, tapi tidak menemukannya. Saya pun pergi ke kamar dengan rasa iba, sedih dan masih kesal.

Malamnya, ada angin segar. Saya menemukan apa yang saya harapkan terjadi sejak kemarin siang! Sico sudah di dalam kardus, menyusi anak-anaknya. Mereka menyusu, dan meringkuk menumpuk-tumpuk di pelukan Ibu. Akhirnya, Sico membuat saya dan Dea tersenyum malam itu.  Pikiran bahwa anak-anak ini tidak akan terselamatkan lenyap seketika. Kami senang, dan saya tidur nyenyak.

Pagi, 9 Mei 2014. Saya terhenyak ketika mendapatkan kardus Sico dalam keadaan terbalik. Sico dan satu anaknya tidak di sana. Tiga lainnya tergeletak seolah sudah tak bernyawa. Saya memperhatikan dengan seksama. Masih bernapas. Saya pun lega. Mungkin sudah saatnya bayi-bayi itu dipindahkan ke tempat yang lebih aman menurut Sico. Maka saya pun pergi ke kampus dengan tenang.

Sore, di hari yang sama. Sepulang kuliah saya sudah tak menemukan bayi-bayi itu. Pikiran saya positif, “Oh, sudah dipindahkan semua.” Saya pergi ke kamar dan beristirahat.

Tapi ternyata, tidak seindah yang saya harapkan. Sico mengeong-ngeong. Saya kenal nada itu. Saya sangat mengenalnya dengan baik! Saya segera keluar kamar dan, yah! mendapati Sico “menangisi” kardus kosong itu. “Ah…. Sico!”

Petugas kosan membenarkan perkiraan saya. Mereka sudah “menguburkan” bayi-bayi mungil itu. Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya memanggil Sico, lalu mengelusnya. Dia “menangis”. Saya yakin dia menangis!

“Rupanya sudah terlambat, yah? Aku menyadari mereka adalah anakku, terlambat. Sekarang, aku harus bagaimana??”

Dua dari empat bayi-bayi mungil itu “masih ada”, tapi sudah tak bernyawa. Sico memindahkan mereka ke lantai dua, gedung utama Pondok Putri. Sico menangisi mereka. Saya terdiam melihatnya. Dia terus mengitari kardus berulang kali, tapi tidak menemukan dua bayi lainnya –sudah dibuang rupanya. “Ah… Sico!”

Dia menangis. Sampai detik saya menuliskan ini, Sico masih menangis.

Ah! Sementara dua hari yang lalu saya tidak bisa fokus karena tangisan bayi-bayinya, sekarang saya tak bisa lepas dari rasa-yang-saya-tak-tahu-namanya-ini karena suaranya. Sico terus menangis!

T_T

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 9 April 2014
RIP (?) bayi-bayi mungil Sico :’*

Iklan

11 pemikiran pada “Tangisan Sico…

  1. tawa ! u know? Gw mau ketemu sico, ngelus dia dan berkata All is Well… hiks hiks…
    emang kadang masih banyak orang yg gag ngerti kalo megang anak kucing yg baru lahir jgn langsung pake tangan. Tpi harus pake lap atau kain yg bisa membuat bau kita gag menempel ke bau anak kucingnya 😥 sedih ih…

    Suka

  2. jujur… tulisan ini membuat sedih. Sungguh malang Sico dan anak2nya. Entah siapa yang ingin disalahkan…
    lama tak berkunjung, sekali berjunjung disuguhi kisah pilu 😦

    Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s