Mika sudak lama tidak duduk di sini, Lang..,” suara Misya memecah kebingunganku.

Mika yang sekian detik tadi masih duduk di sini, menatapku tapi menolak menjawab pertanyaanku atau sekedar tersenyum itu, seketika hilang. Apa-apan ini?

“Mika cuma bertahan sepuluh hari. Kali kedua kamu melihat dia di tangga itu adalah… Maaf, Gilang. Mika sudah lama pergi!”

Pergi kemana?” tanyaku datar, masih menatap tangga yang kosong itu. Dan hanya isak tangis yang kudengar.

Belakangan, Misya akhirnya bisa bercerita lagi tentang Mika. Ya. Kali kedua aku bertemu dengannya di tangga itu adalah kali terakhir aku melihat Mika. Malamnya, dia lari keluar dari gedung apartemen, dan menabrakkan dirinya pada truk yang mengangkut semen untuk pembangunan gedung di sebelah. Dia remuk oleh truk yang sangat berat itu. Badannya menyapu aspal. Tapi kepalanya hancur terlindas roda truk yang besar. Di akhir cerita, Misya berkata,

Dia pikir aku mati saat kecelakaan itu. Dia tidak pernah lupa pada kami. Dan dia tahu kalau dia dipisahkan dari Ibu tapi tidak pernah tahu alasannya. Dia tidak berani melawan. Dia takut untuk berbicara dan menolak ikut Ayah. Akhirnya dia berpikir sendiri, mungkin Ibu sengaja menyerahkannya pada Ayah karena dia sudah membiarkanku mati. Lalu Ayah menghukumnya dengan mendatangkan ibu baru yang sangat kejam. Dan malam itu, dia memutuskan untuk mengejarku. Padahal aku selalu di sisinya. Selalu di sisinya…..”

***

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 31 Maret 2014

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s