Pelarian sudah dilakukan berkali-kali. Kata Mama, “Percuma. Lari terus menerus hanya untuk mengulur waktu. Malah menambah rumit semuanya. Ujung-ujungnya, mau tidak mau, siap tidak siap, tetap harus dihadapi.”

Tapi saya masih ingin terus berlari. Kalau dengan berlari saya bisa bernapas lega, kalau dengan berlari saya bisa tersenyum bahagia, kalau dengan berlari saya bisa melakukan apa saja dengan suka cita, kalau dengan berlari saya bisa lebih mengerti keinginan diri dan kehidupan, mengapa saya tidak boleh melakukannya?

Yaaah, baiklah! Saya akui, saya hanya masih ingin terus bermain. Ini hanya keinginan pribadi, pemberontakan diri yang ingin terus menerus leyeh-leyeh. Bosan mengikuti patokan yang itu-itu saja, monoton, terpaku, menekan sesiapa yang tidak mau taat. Salah, ya?  ._.

Iya, iyaaaa… Masih sama seperti yang sudah-sudah. Ini hanya “keluhan”! Yah, mumpung sedang di kota, mumpung sedang jauh dari Pestan-nya Gunung Sumbing, boleh lah ya, mengeluh sedikit ._. #plak

Jadi, saya sedang sangat ingin melarikan diri lagi. Dari apa saja. Dari kota dan hiruk pikuknya, dari kampus dan tugas-tugasnya, dari mereka-mereka yang semakin lama semakin tak saya kenal, dari kamar dan isinya yang hawanya selalu menarik ke atas kasur. Saya hanya sedang mencari cara untuk kembali semangat!!!  Karena derai air mata belum bisa terurai #plak Ah! Kasusnya begini mulu yak? ._.

Totalnya sudah membuang 3 hari bonus. Sudah “dipulangkan” secepatnya oleh teman-teman sepelarian, tetap tidak memanfaatkan waktu luang. Well.. yaaah, dimanfaatkan kok, untuk melarikan diri lagi……ke alam mimpi! Hahahaaa >_<

Baru semester enam. Rasanya udah muak banget. Mau cepat-cepat lulus, tapi ditawarin 3,5 tahun, nolak. Nolak bukan karena mau berlama-lama. Tapi karena takut. Takut nggak sanggup menghadapi rutinitas yang mencekik. Hahahaa.  Maunya apa sih, kamu, De? 😦

Nah, sekarang, kembali mendengarkan dendangan lagu yang sama. Saat-saat seperti ini, bawaannya memang ingin cepat-cepat pulang. Kembali ke pelukan Mama. Kembali menjadi anak Mama yang tinggal di sangkar dengan senang hati. Kembali menjadi anak Papa yang bermalas-malasan di rumah, ngurusin rumah seadanya, begadang bersama Papa. Yah, ingin cepat pulang dan berlindung dari rentetan rutinitas yang mencekik dan mencabik-cabik harapan dan semangat hidup! Kembali ke rumah itu. Kehidupan monoton di rumah lebih menyenangkan daripada di kota, yaah.. selama itu masih dengan Mama dan Papa. Hahaa…

Anak bungsu.. anak bungsu! Kapan gedenya sih, kamu? ._.

-ast-
Depok, 31 Mei 2014

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s