Hari ke-13, Bulan ke-6, Tahun ke-3.

Kau sudah cukup lama kenal denganku. Aku pun begitu. Namun hari-hari yang telah lalu, habis dengan basa-basi dan canda kaku. Meski sudah lama tahu, kita tak pernah menemukan pembicaraan seru. Selalu meragu.

Kau selalu memulai dengan senyum ceria. Sapaanmu pun ku sambut dengan tawa. Namun selanjutnya tak ada bahan untuk cerita. Kita mati dalam ruang hampa. Selalu saja.

Ada yang aneh. Aku saja atau kau juga? Sadarkah ini lucu? Takkah kita mencoba untuk menyadari. Ada yang tidak biasa dalam perkenalan kita ini. Tiga tahun berselang sudah, tapi masih saja. Basa-basi seolah baru kenal kemarin. Tak kunjung dapat mencairkan suasana kikuk yang penuh canggung.

Aku menyadari sudah sejak lama. Mencoba sudah, tapi payah. Atau ini memang cara berteman yang kau mau? Berjarak? Aku yang tak (lagi mau) peduli, atau memang kau yang tak terjangkau? Ceritamu yang bisa menjawab semuanya. Sayang, kita tak pernah berbagi cerita. Aku tak punya apa-apa, untuk menceritakan tentangmu.

 


Hari ke-2, Bulan ke-6, Tahun ke-2.

Duduk di sini sudah menjadi gaya hidupku sejak dua tahun silam. Dari petang hingga tengah malam. Dari terang benderang hingga gelap temaran. Dari sunyi sepi, riuh gemuruh, hingga kembali diam. Di sini, di tempat ini.

Meski sudah kutekuni berhari, berbulan bahkan bertahun lamanya, aku tetap tak pernah sadar, tak ku hapal wajah-wajah yang turut menjadikan ini gaya hidupnya. Ku pikir hanya aku. Ntahlah kalau yang lain juga begitu. Aku tidak benar-benar sadar, tidak sungguh-sungguh hapal. Sampai waktu wajah itu muncul berulang, berturut, berhari tanpa selang.

Duduk di sini menjadi kegiatan kegemaran. Meski si empunya sudah memperlihatkan wajah bosan. Aku tetap duduk dengan nyaman. Sebab, peduliku hanya pada wajah-wajah yang melekat diingatan.

Meski nanti wajah-wajah itu berlalu dan hilang, lenyap begitu saja, aku tetap akan merekam, ku simpan wajah-wajah yang turut menghabiskan waktunya di sini. Ku pikir ini perlu. Ntahlah berguna atau tidak. Aku tidak begitu peduli, tidak terlalu ambil pusing. Peduliku hanya pada senang yang merayapi tubuhku, menggetarkan hatiku. Aku, bisa mengingatmu.

 


Hari ke-sekian, Bulan ke-sekian, Tahun ke-sekian.

Waktu sudah waktunya berlalu. Tidak peduli sudah sebanyak apa waktu yang dipergunakan dengan baik, atau setumpuk apa waktu yang hilang sia-sia. Waktu tetap terus bergulir. Yah… waktu.

Waktu peduli apa dengan apa-apa yang tidak selesai pada waktunya? Waktu bisa merasa apa sebab apa-apa yang berhasil mengalahkan waktunya? Waktu hanya tahu jalan. Waktu hanya perlu berjalan. Kalau tidak, mana ada waktu lagi. Habis sudah dia di tahan waktu yang menolak mencari waktu untuk menghidupkan waktu. Tugasnya waktu terlus mengalir. Terus bergulir. Yah… waktu.

Lagi-lagi waktu. Mungkin harus berperang dulu untuk mendapatkan waktu lebih. Mungkin harus menangis dulu untuk bisa menggandakan waktu. Atau mungkin satu-satunya cara berjalan bersama waktu, atau di dalam waktu? Ah, waktu, waktu… Adakah cara lain untuk bisa hidup damai denganmu??

 

 


Ade Surya Tawalapi
Depok, 3 Mei 2014

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s