Rupanya kau masih di sana. Tidak bosan, ya? Dan masih dengan kegiatan yang sama? Kau, Gadis “luar biasa” keras kepala, yang pernah kukenal. Bertahan bertahun lamanya tinggal di tempat yang sama dan melakukan hal yang sama, padahal waktu sudah berjalan begitu jauh. Aku khawatir, jangan-jangan kau bukan sengaja tinggal di sana, melainkan tertinggal. Tak sengaja waktu tinggalkan. Ya?

Hai, Gadis yang tinggal dalam kenangan.

Kapan? Kapan kau akan mengejar waktu? Kapan kau menyamai gerak langkahnya? Kapan kau akan mengalahkannya? Aku masih menunggu. Penasaran, apakah kau sengaja tinggal, atau memang waktu yang meninggalkanmu.

Kalau ini salah waktu, jadi…

Sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu kau akan pergi merantau jauh, jauh dari kenangan? Aku ingin melihat, bisakah kau tinggal di masa kini. Masa yang sekarang kau hadapi. Masa yang waktu naungi. Kapan?

Sampai kapan? Sampai kapan kau terus menyelami kenangan? Tak inginkah kau melihat apa yang ada di permukaan? Tak ingin tahukah kau apa yang ada di angkasa raya sana? Aku ingin kau melihat, ada juga dunia selain kenangan yang perlu kau pelajari. Dunia kini yang waktu kuasai. Jadi, kapan?

Hai, kau yang masih saja melihat ke belakang.

Jalanmu ada di depan. Tempatmu ada di atas. Roda boleh saja berputar, tapi tidak untuk berjalan mundur. Waktu tidak akan berjalan mundur. Kau, gadis yang ditunggunya di masa depan. Bukan yang dicarinya dalam kenangan. Jadi, kapan? Kapan matamu tajam menatap ke depan? Kapan langkahmu tegap berjalan ke atas? Kapan kau sadari waktu dan dia kini ada di sini, saat ini.

Ayolah, Sayangku. Kekasih hati yang kau tunggu di masa lalu sudah menanti di masa kini. Siap menggandeng tanganmu, mengantarmu ke tempat kalian seharusnya berada. Siap sedia melihatmu di sana, di masa depan, bersamanya. Dalam bahagia. Dalam dunia yang waktu puja. Yang waktu cinta.

Jadi kapan? Kapan kau akan menyelami kala kini? Bergulir bersama waktu. Meyakinkan aku bahwa kau tidak tertinggal waktu. Melainkan hanya menunggu waktu yang tepat untuk melesat mengejar waktu. Lalu, bersamanya, berjalan di sini. Tanpa lagi memikirkan pahitnya kenangan.

 

-Ade Surya Tawalapi-
Depok, 6 Desember 2014

 

 

 

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s