Mengalir kata-kata itu begitu saja. Sambil kata-kata bayangan mengganggu fokus pikiran saya. Cemas dan harap sudah tak bisa dibedakan lagi. Rasanya perut melilit entah karena lapar atau radang lambung sedang kumat. Saya hanya membiarkan engsel tangan dan kepala bergerak ke sana kemari, menyeimbangkan banyaknya kata yang terbuang begitu saja. Dengan tempo yang sedikit berantakan, dan belepotan.

Tidak. Sejam tidak menjadi sejaman. Tetap saja ia adalah enam puluh menit yang tidak kurang dan tidak lebih. Yang menunggu memang akan bosan, tapi menunggu tidak melelahkan. Percayalah.

Kecuali menunggu kabar. Kabar apa saja.

Karena jantung berdetak lebih cepat. Memakan lebih banyak tenaga. Dan pikiran tidak mau tidur. Terjaga seharian dan sepanjang malam.

Karena itu, jangan biarkan mereka menunggu kabar.

Menunggu yang seperti itu, melelahkan.

Lelah yang akan belum selesai sepanjang waktu.

 

Ade Surya Tawalapi,

Depok, 10 Juni 2015

*selamat datang revisi terakhir (aamiin)

terimakasih yang sudah mendoakan dan membantu moril dan materil.

lovyaaaa :*

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s