Terlalu banyak. Jadi, bagaimana kalau kucampur aduk saja? Apa rasanya? Bagaimana jadinya?

“Aku duduk sambil menunggu. Menunggu lelah hilang sejenak. Kau menatap ku lekat dan kubalas dengan cibiran manja. Lalu kau pegang kepalaku. Tersenyum.

“Kau sibuk dengan kertas-kertas di hadapanmu. Pisau, gunting, spidol, karton dan plastik. Tanganmu bermain bersama mereka, tanpa menyadari mataku tak bisa lepas darimu. Dari wajah lugumu.

“Aku langsung memalingkan muka. Bukan karena malu. Hanya untuk menggodamu. Kau tertawa dan justru mengusap-usap rambutku. Dan memelukku. Menyerahkan pipimu untukku kucium.”

 

Jadi, bagaimana rasanya? Rasanya menjadi dua jiwa berbeda.

Apa jadinya kalau nyata?

 

Ade Surya Tawalapi,

Depok, 12 Juni 2015

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s