Kartika Suri namanya. Teman sebangku kelas 1 sd cawu 2 sampai kelas 4 sd semester 1. Semester selanjutnya bukan sekedar pisah tempat duduk. Tapi pisah sekolah. Pisah kota. Pisah provinsi! Ayahnya–bapak baik yang sering mengantarkan saya pulang sekolah, bonceng 3 dengan Kartika– dipindah tugaskan ke Padang sehingga Kartika terpaksa pindah sekolah juga.

Kelas 5 sd, saya, mama, papa dan nenek pergi ke Padang untuk menghadiri pernikahan salah satu saudara. Tanpa disangka, di siang hari yang membosankan itu, saat saya sedang duduk di teras lantai 2 ruko, tiba-tiba ada tangan yang menutup mata saya dari belakang. Saya tidak bisa menebak itu siapa. Jelas! Saya terkejut lagi senang dan bahagia saat tau itu adalah tangan Kartika. Rupanya, dia sekeluarga termasuk salah satu tamu undangan di acara itu.

Suatu malam di kelas 6 sd, saya lupa semester berapa, Kartika sekali lagi tiba-tiba muncul bersama ayahnya, kali ini di rumah nenek, tempat saya tinggal di Pekanbaru. Dia sedang liburan ke Pekanbaru dan menyempatkan diri untuk mampir sebelum kembali ke Padang. Sejam kami ngobrol ngalor kidul di kamar. Lalu dia pamit pergi. Pergi…

Lebaran Idul Fitri saat kelas 1 SMP, Kartika dan keluarganya datang lagi. Tapi sayang, saya sedang tidak di rumah. Nenek yang menerimanya waktu itu. Ketika saya tiba di rumah dan nenek menceritakan hal itu, saya kesal dan menangis. Semakin kesal karena hari itu Kartika kembali ke Padang dan tak tau kapan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.

Setelah hari itu, dia tak lagi muncul. Saya ingin mencari tapi tak tau mau cari kemana. Nomor telpon yang ia berikan tak lagi bisa dihubungi. Kontak kami terputus.

Kali pertama mengenal friendster, nama yang saya cari pertama adalah namanya. Tidak ketemu. Facebook pun sama saja. Hampir setiap tahun saya melakukan ritual yang sama. Mencari tau dimana dia dari jejaring sosial. Namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya saya pasrah. Kesempatan sudah habis…

Tapi lalu, di pertengahan tahun kedua kuliah, tepatnya semester 3, sebuah nama yang tak asing dengan foto yang menampilkan senyum manis yang melempar saya ke masa sd, muncul secara tiba-tiba di pemberitahuan pertemanan facebook –ah.. Dia memang suka tiba-tiba! Tidak ada kata yang bisa mewakilkan betapa saya bahagia. Bahwa kenyataannya, dia…juga mencari saya!

Sejak itu… Meski tak rutin memberi kabar, saya merasa sudah tak begitu sulit untuk menghubunginya. Meski tak kunjung menemukan waktu untuk berjumpa, saya merasa tak perlu takut untuk kehilangan kontak dengannya lagi.

Suatu siang di hari Senin yang panas dan melelahkan di tahun 2015, sebuah pesan facebook masuk ke ponsel saya, sebuah permintaan sederhana dari Kartika, yang di dengar Sang Maha Pendengar. Dia merindukan kami, orang-orang yang ditinggalnya dulu sewaktu kelas 4 sd. Dia memintaku untuk mengumpulkan mereka untuk berbagi cerita dan ingatan masa “muda”.

3 Juli 2015, keinginanku untuk bertemu dengannya, dan rasa rindu di antara kami yang tak kunjung reda, akhirnya mendapatkan jawaban.

Sebuah acara sederhana, menjadi ‘lorong waktu’, setidaknya untukku yang begitu mencintai kelas itu, orang-orang di dalamnya, dan dia.

ast 040715

View on Path

Iklan

4 pemikiran pada “lorong waktu

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s