Katanya,
dia masih bernyanyi di telingaku, sejak aku menemukannya di sudut ruang itu. Hei, jangan mencemburuinya, karena dia yang membawaku kembali padamu. Dia yang memantraiku. Meski kau takkan pernah tahu mantra seperti apa. Kau pasti tak percaya hal semacam itu.

Katanya,
ya, katanya…. tidak akan ada yang tahu. Yang ada di hatiku dulu, pun sekarang.
Bahkan aku yang memilikinya pun tak seutuhnya tahu. Waktu menutupinya, kau tahu? Dia bilang seperti itu padaku. Waktu menutupinya, menjadikannya kejutan untukmu. Dan untukku. Maka memang takkan ada satu pun yang tahu. Tak satu….

Pun ketika aku berani bersumpah, waktu itu. Demi Waktu, Demi Masa, Demi segala apa yang pernah dan akan kumiliki dan Demi Semesta!

Lalu aku dikutuknya.

Karena tak satu pun, Sayang, yang tahu,
Masa depan yang kau dan aku rencanakan. Masa depan yang kita harapkan. Masa depan yang tak kita inginkan, kadang dihempaskan Waktu. Digelutkan Semesta. Dihantamkan Masa.

Jangan pernah coba,

Karena tak satu

Pun ketika kau akhirnya berhenti melangkah.

Waktu dan teman-temannya selalu punya cara. Menjauhkan, atau mendekatkan.

Maka tak satu, tak hanya satu cara yang tertempuh. Tak satu hasil yang terlabuh.


-ast-
Pku, 100716

*Akon, can’t you stop singing on my ears? Please. :’)

Iklan

2 pemikiran pada “Tak Satu

  1. Jadi ko carito tentang wakatu lai Ade? Ka dipangaan wakatu ko? Paralu wak hubungi Lucy untuk maminjaman kunci arwah untuk membuka gerbang waktu *eh 😀

    Suka

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s