,…sih… harapannya.”

Tersimpan harapan bahwa tempat ini kelak menjadi tempat orang mencari ilmu.
Tersimpan harapan bahwa tempat ini kelak bukan untuk membuang waktu tak tentu, melainkan membersamainya dengan diskusi dan berkarya. Tersimpan harapan bahwa tempat ini kelak menjadi rumah bagi mereka yang cinta budaya dan senang berseni.

Diskusi panjang melalui chat bersama abang saya nun jauh di pulau jawa sana, Zikri, menghasilkan sebuah semangat untuk  mengembangkan apa yang telah dibangun oleh orangtua kami;  Badano Arts Production. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya (baca di sini), sanggar ini adalah hasil keisengan Papa dan Mama kerena sudah memasuki masa tua mereka yang sepi. Masa dimana anak-anaknya sudah jauh, meninggalkan mereka berdua saja di rumah. Agar tidak merasa terlalu kesepian, mereka pun nekat mendirikan sebuah sanggar. Maka berdirilah sanggar yang bertolak dari kebudayaan Minang ini, pada 12 Desember 2013, dan bersekretariat di tempat tinggal kami, kediaman keluarga Dahlan Magek di Jalan Pepaya No. 66 Pekanbaru.

Di tahun-tahun awal berdirinya Sanggar Seni Badano, tidak banyak kegiatan yang dilakukan. Berhubung niatnya hanya untuk mengisi kekosongan rumah saja, maka kegiatannya hanya seputar latihan di rumah dua sampai tiga kali seminggu, seusai Magrib. Atau mengisi acara pernikahan di hari Sabtu atau Minggu. Beberapa kali memang sempat sanggar ini diikutsertakan dalam acara dan perlombaan kesenian di Pekanbaru, bahkan sampai ke luar daerah, seperti Payakumbuh. Namun, kegiatannya hanya sebatas itu saja: latihan-tampil-latihan-tampil. Dan ini membuat kami–saya dan abang saya–merasa ada yang kurang.

Setelah melalui diskusi yang panjang itulah, akhirnya kami sadar, bahwa sisi edukasi di sanggar ini bisa dikatakan tidak ada. Sementara Papa Mama berharap bahwa Badano menjadi wadah untuk berkreasi dan berseni, yang bukan asal-asalan. Nah, kami meyakini bahwa kita bisa tahu asal-asalan atau tidaknya seseorang dalam berkesenian, ya dari ilmu dan pengetahuan yang ada di dalam otak para pelaku dan penikmat seni itu sendiri. Saya pun merasa terpukul, sebagai orang yang sudah sepatutnya berkecimpung di dunia kebudayaan, masyarakat dan yang sejenisnya–karena, yaah.. saya lulusan bidang humaniora, yang mau nggak mau harus menelaah soal budaya, seni, masyarakat, sosial, lalala dan lililinya ._.–, ketika abang saya iseng bertanya,

“Memangnya, kalian menari-nari gitu, ngerti sejarahnya? Ngerti asal usul budayanya?” 

Saya hanya bisa gigit jari dan membatin, ini yang nggak tau saya doang apa mereka juga ya? Semoga bukan saya doang #plak ._. 

          Berangkat dari pertanyaan simpel tapi menohok itulah, saya, dibantu Mama, Papa, Tante, dan Abang-Kakak, bertekad untuk menambahkan sisi edukasi di sanggar ini. Memang sudah seharusnya, kan, di ruang kesenian seperti sanggar juga diselipkan diskusi-diskusi ringan yang–paling tidak–mempertanyakan hal-hal yang terlihat sepele itu. Yang lalu berlanjut pada kajian-kajian atau penelitian ringan untuk mencari tau kebenaran sejarahnya. Dan pada akhirnya, menghasilkan sesuatu, yaitu pengetahuan baru untuk semua anggota sanggar. Dengan demikian, cita-cita Papa Mama, pun saya kakak-beradik, untuk membangun pusat seni yang bukan asal berkesenian saja bisa diwujudkan. InsyaAllaah 🙂

-ast-
Pku, 240716

Iklan

2 pemikiran pada ““Bukan Asal Berkesenian,

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s