Sejak kepala ini bisa mengingat banyak hal. Sejak kepala ini hapal nama bulan. Sejak kepala ini mampu merasa beda dan perubahan di setiap bulan. Sejak kepala ini akhirnya merapal detak yang sama dengan yang dilagukan hati. Sejak saat itu, dua-bulan setelah pertengahan tak pernah berubah. Monoton. Sama. Berputar di tempat. Itu lagi, itu lagi. Naik, lalu turun. Turun tak pernah lupa naik. Tapi terhempas. Lalu terbang. Jatuh lagi. Melayang tak hanti. Acak-acak yang monoton. Berkurva naik turun yang sama tiap tahunnya. Melingkari hal yang sama, menjajaki garis yang ntah-lah-mungkin-serupa. Itu lagi, itu lagi.

Dua-bulan setelah pertengahan.

Waktu di saat kepala minta di-nina-bobo-kan.  Waktu di saat kepala minta di-kunci-rapat-kan. Waktu di saat kepala membangkang. Waktu di saat kepala minta dihempaskan.

Dua-bulan setelah pertengahan.

Sejak rapal yang sama didendangkan, hati tak lagi pernah bisa menari. Nyanyiannya bikin mati. Musiknya bahkan bisu. Sejak saat itu, dua-bulan setelah pertengahan menjadi hantu. Hantu yang mengindahi mimpi di kepala. Hantu yang memantrai nyeri di dada. Sejak saat itu, hati tak lagi mau merasai. Kepala hanya bisa memangku sepi.

Dua-bulan setelah pertengahan.

Masih ada tahun depan. Masih akan ada lingkaran. Masih akan ada acak-acak yang monoton.

Kepala, kuatlah.

Hati, hati-hati.

-ast-
Pku, 080916

Iklan

❣ Chit-Chat ❣

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s